oleh

Arief Budiman: Dari Salatiga Membangun NKRI

-Opini-101 views

Oleh: Anselmus Sahan, dosen Universitas Timor, Kefamenanu, NTT

SEKITAR dua bulan lalu, yaitu pada 24 April 2020, salah satu intelektual hebat dan kritis Indonesia, Arief Budiman (selanjutnya disingkat AB) meninggal dunia. Berbagai media memosting kepergiannya ke persitirahatan kekal dan menyajikan berita dan analisis mengenai AB. Kepergiannya, tentu saja, menjadi kehilangan seorang tokoh bangsa ini, yang telah mengkritisi banyak program pembangunan dan kebijakan pemerintah Indonesia.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengabaikan catatan-catatan lain, yang telah dipublikasi di tengah masyarakat kita, baik di dalam maupun di luar negeri, baik melalui media cetak maupun tertulis, dan baik melalui omongan di pinggir jalan maupun diskusi serius yang membahas AB dan sepak terjang kehidupannya.

Juga, tidak bertindak sebagai pelengkap terhadap ulasan-ulasan lain. Ia hanya penanda, yang mengingatkan kita bahwa AB adalah akademisi yang sangat peduli dengan kemajuan bangsa ini. Karena itu, tulisan ini akan disajikan dalam empat hal utama, yaitu siapa itu AB, Salatiga, pembangunan dunia ketiga dan kenangan abadi.

Selain itu, di Pulau Timor, mulai dari Loro Sa’e (Timor Leste) hingga Loro Monu (Timor Barat), nama AB sangat mudah dikenal. Namanya terucap di bibir mantan anak buah didikannya, terukir indah di sanubari mereka dan hampir pasti, cara pandangan mereka hampir menyerupai AB sendiri: suka berontak.

Pemberontakannya bukan tanpa alasan. Dia mengeritik karena kepincangan atau kesalahan Pemerintah dalam menerapkan peraturan, yang prakteknya kadang-kadang bertentangan dengan peraturan itu sendiri.

Identitas AB
Arief Budiman atau AB lahir di Jakarta, 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin. Arief tutup usia pada Kamis (23/4/2020) siang sekira pukul 11.40 WIB karena komplikasi dan parkinson yang telah lama dideritanya. Di kalangan murid-muridnya, kakak Soe Hok Gie ini adalah sosiolog dan aktivis angkatan 1966 yang selalu konsisten memperjuangkan demokrasi dan membela kaum marjinal.

AB meneruskan kuliahnya di Paris pada 1972 dan meraih gelar Ph.D dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard pada 1980. Kembali dari Harvard, ia menjadi pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana. Namun, pada 1994, ia dipecat karena memprotes pemilihan rektor yang dianggap tak adil. Ia pun hengkang ke Australia dan menerima tawaran mengajar di Universitas Melbourne.

AB memang dikenal memiliki sikap keras kepada penguasa, tetapi ia juga tak segan memuji tokoh-tokoh yang memiliki sikap dan pandangan yang ia anggap baik untuk Indonesia walaupun tokoh yang ia puji bertentangan pendapat dengannya.

Baginya, konflik dilihat sebagai komunikasi mengadu gagasan. Sebagai intelektual, Arief terlihat sering menggunakan pemikiran strukturalisme untuk menggugat kapitalisme Orde Baru.

Ia kritis mempertanyakan masalah kebijakan pembangunan, kemiskinan, ketidakadilan, dan terabaikannya hak asasi manusia. Kritiknya tetap berlanjut meskipun rezim Soeharto telah berakhir.

Sebagai tokoh gerakan demokrasi, Arief menjadi semacam simpul dari berbagai aktivis gerakan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Terutama pada awal 1980-an ketika gerakan mahasiswa bertransformasi menjadi berbagai kelompok diskusi dan kelompok studi. Ketika ia masuk Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga pada 1981, semua gerakan di kampus itu sering dihubung-hubungkan punya afiliasi dengan dirinya. Tak hanya itu, Arief juga disebut manusia di tengah demonstrasi, termasuk pernah juga didemonstrasi beberapa mahasiswa UKSW.

Merajut Ide di Salatiga
Dari berbagai pandangan mantan murid dan beberapa buku yang dia tulis, kita dapat mengetahui latar belakang dan tujuan dari perjuangannya untuk masa depan bangsa ini. Dari kota Salatiga, AB menyusun strategi jitu untuk menawarkan konsep pembangunan yang benar-benar menyata di tengah masyarakat.

Lalu, apa bakti dia kepada bangsa ini? Pertama, AB anti kebijakan yang tidak bela rakyat. Ini dia lakukan karena dia sendiri sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan di jalur ilmu sosialis, kiri dan marxis. Ketiga jalur menjadi bekal baginya untuk dengan lantang bersuara kepada para aktivis yang anti pemerintah, anti kapitalis dan borjuasi baru.

Kedua, pandangan baru terhadap Negara. Bersama teman-temannya, seperti Ariel Heryanto, Liek Wilardjo dan George Junus Aditjondro, dia mempelopori diskusi dengan mahasiswa yang difoukuskan pada memperkenalkan model baru dan cara pandang terhadap state (negara) yang memperoleh modal asing, melakukan konglomerasi, bisnis militer, mengabaikan kepedulian terhadap lingkungan hidup dan HAM.

Banyak mahasiswa dari daerah konflik, seperti Papua dan Timor Timur (sekarang Timor Leste) sangat menyukai topik-topik miris seperti ini. Karena itu, dia pun disanjung sebagai figur komplemeter dan penyedia oase terhadap pengetahuan struktural mereka.

Ketiga, pendidkan alternatif. Untuk mengikat persatuannya dengan para pengikutnya, AB mendirikan Yayasan Gema Nastiti (Geni), yang semula sebagai media pendidikan alternatif bagi anak-anak dan belakangan berubah menjadi motor pemikiran pergerakan baru mahasiswa Indonesia yang sadar akan terterikatannya dengan rakyat yang miskin dan tertindas. Dari Geni, dia menyiapkan ‘pasukannya’ untuk menumbangkan rejim Soeharto dan menggantikannya dengan rezim reformasi.

Pembangunan Dunia Ketiga
Pemikiran kuat AB untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih baik, adil dan jujur, sebetulnya tidak saja tercecer di tengah banyak diskusi yang dilakukan, tetapi tersusun rapih dalam buku yang ditulisnya “Teori Pembangunan Dunia Ketiga”. Buku hebat ini diterbitkan pada 1996 oleh PT. Gramedia, Jakarta.
Muhammad Said dalam Jurnal Politika dan Pembangunan (Vol. 7 No. 01 Januari – Juni 2011: Halaman 54), ketika mereview buku ini, telah menjelaskan pemikiran AB secara baik sebagai berikut.

Pertama, istilah Dunia Ketiga lebih diartikan sebagai Negara-negara yang secara ekonomi masih miskin, atau Negara-negara yang sedang berkembang, tanpa melihat ideologinya. Kemudian yang dimaksud dengan teori-teori pembangunan Dunia Ketiga adalah teori-teori pembangunan yang berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Negara-negara miskin atau Negara-negara yang sedang berkembang dalam sebuah dunia yang didominasi oleh kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan dan militer, Negara-negara adikuasa atau Negara-negara industri maju.

Kedua, untuk mempertajam analisisnya mengenai pembangunan dunia ketiga, AB mengelompokkan tiga teori pendukung, yaitu teori modernisasi yang terutama menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan, teori ketergantungan, dan teori pasca ketergantungan (yang di dalamnya terdapat teori system dunia, teori artikulasi, dan sebagainya).

Ketiga, untuk mengukur pembangunan, AB menggunakan 5 parameter. Pertama, menghitung kekayaan rata-rata, yang melibatkan Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product, GNP) dan Produk Domestik Bruto (PDB atau Gross Domestic Product, GDP). Kedua, pemerataan yang secara sederhana diukur dengan melihat berapa persen dari PNB diraih oleh 40% penduduk termiskin, berapa prosen oleh 40% penduduk golongan menengah, dan berapa prosen oleh 20% penduduk terkaya. Ketiga, kualitas kehidupan, yang menggunakan tolok ukur PQLI (Physical Quality of Life Index) dengan tiga indikator, yakni rata-rata harapan hidup sesudah umur satu tahun, rata-rata jumlah kematian bayi, dan rata-rata prosentasi buta dan melek huruf. Keempat, kerusakan lingkungan. Dan kelima, keadilan sosial dan kesinambungan.

Keempat, untuk mengatasi masalah pembangunan di dunia ketiga, AB membedah teori-teori modernisasi pembangunan sebagai masalah internal, yang meliputi Teori Pembagian Kerja Secara Internasional dan Teori Modernisasi.

Kenangan Indah
AB telah pergi. Tetapi, para pengikutnya masih menyimpan banyak kenangan indah selama hidup dan berguru dengannya. Kepergiannya bukan tanpa balas. Pemikirannya untuk memajukan bangsa kita telah ia torehkan dalam berbagai media. Itu ia memulainya dari Salatiga, sebuah kota mungil di pinggiran kota Semarang. Bersama sekelompok mahasiswa dan tokoh-tokoh nasional lainnya, ia telah menumbangkan rezim otoriter, Soeharto, dan membangun rezim baru, yang penuh romatisme, era reformasi.

Kalaupun sampai saat ini, masih ada kekeliruan Pemerintah dalam membangun bangsa ini, harap bukan dilihat sebagai kegagalan AB dalam memposisikan dirinya sebagai pengeritik strukturalis. Ia tidak lebih dari seorang serdadu “ilmu” yang mencoba menyodorkan teori dan mempraktekkannya bersama ‘kaum kecintaannya” untuk mengubah wajah bangsa kita.

Semoga, generasi penerusnya, terutama yang masih hidup di Timor ini, dan kita semua yang sedang berjuang terus, memperoleh kesamaan pandangan dan perbuatan nyata untuk bersama-sama mengatasi krisis pembangunan bangsa kita, terutama tanah Timor ke arah yang lebih baik. Ingat o: baek sonde baek, tanah Timor lebih baek. Baek sonde baek, itu semua beta punya. (***)

Komentar