oleh

Warga Weliman Meninggal, Kapolres Malaka Pimpin Langsung Olah TKP

BETUN, TIMORline.com-Hilarius Fahik, salah satu warga Dusun Berika Desa Laleten Kecamatan Weliman Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia seusai ritual adat di rumah adat Suku Lo’o Klohu Uma Besi, Senin (15/06/2020).

Namun apa penyebab kematian Hilarius belum dipastikan pihak berwajib.

Untuk olah tempat kejadian perkara (TKP), Kapolres Malaka AKBP Albertus Neno memimpin langsung tim identifikasi Polres Malaka.

Terpantau, hadir Kasat Reskrim Polres Malaka Iptu Yusuf bersama seluruh anggota dan Kapolsek Weliman Iptu Oscar Pinto bersama seluruh anggota.

Ada pula petugas medis dari Puskesmas Weliman.

Kapolres Albertus sendiri tiba di TKP sekira pukul 11.30 wita. Setiba di TKP, Kapolres Albertus diterima Kapolsek Weliman Iptu Oscar langsung masuk ke rumah Hilarius almarhum.

Di dalam kamar, terlihat Kasat Reskrim Iptu Yusuf dan tim identifikasi sedang mengidentifikasi korban.

Tak lama berselang, Kapolres mendatangi rumah adat tempat dilakukan ritual. Setelah berbincang sejenak dan mendapat informasi dari anggotanya, Kapolres Albert kembali ke rumah Hilarius almarhum.

Kapolres Albert terlihat melakukan koordinasi dengan pihak Polda NTT untuk dilakukan otopsi terhadap korban.

Disaksikan Kasat Reskrim Iptu Yusuf dan Kapolsek Oscar bersama seluruh anggota masing-masing, Kapolres Albert menyampaikan hasil koordinasinya dengan pihak Polda NTT kepada istri Hilarius (alm) Rosalinda Rika Bria.

Dalam penjelasannya kepada Rosalinda, Kapolres Albert bilang kalau pihak kepolisian belum bisa langsung melakukan otopsi terhadap jenazah suaminya, Hilarius. Sebab, saat ini semua petugas otopsi Polda NTT tidak ada di tempat.

Karena itu, Kapolres Albert meminta pengertian Rosalinda selaku istri bersama keluarga untuk menguburkan Hilarius dulu.

“Nanti satu dua bulan atau satu tahun ke depan baru kita gali kembali jenazahnya untuk dilakukan otopsi. Hasil otopsinya seperti apa akan kita tindaklanjuti untuk mengungkap penyebab kematiannya”, jelas Kapolres Albert.

Untuk meyakinkan Rosalinda akan tindaklanjut penyidik setelah olah TKP, Kapolres Albert meminta Kapolsek Weliman Iptu Oscar untuk menerbitkan dan memberikan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) polisi kepada Rosalinda.

Kejadian ini sangat menarik perhatian warga setempat dan sekitarnya.

Yang menegangkan, di sela-sela olah TKP, anak sulung almarhum, yakni Ethe Funan, mengalami kerasukan roh. Tetapi, tidak jelas roh siapa. Apakah roh ayahnya, roh para leluhur atau roh setan.

Suara dan gerakan-gerakan Ethe diinformasikan warga yang menyaksikannya, menyerupai suara dan gerakan-gerakan tubuh ayahnya, Hilarius.

Dari suara yang terdengar, terkesan sang ayah dicekik atau mengalami keracunan yang berusaha sekuat tenaga untuk dimuntahkan ke luar.

Ethe terlihat dipeluk erat salah seorang bapak. Berulang-ulang bapak itu terlihat menutup mulutnya dan mengingatkannya untuk tidak omong apa-apa atau menyebut nama orang tertentu.

Warga yang berkerumun malahan dikejar dan diancam pakai pelepah pinang untuk dipukul. Tetapi, bapak yang memegang Ethe tidak melepaskannya.

Gabriel Nahak, Ketua Suku Lo’o Klohu Uma Besi kepada media menjelaskan, ritual adat itu dilakukan untuk menyimpan kembali barang-barang adat pada tempatnya di dalam rumah suku.

Sebab, rumah suku itu baru saja selesai dibangun.

Saat dilakukan ritual, menurut Gabriel, Hilarius (alm) bertugas tuang minuman jenis naga batoto kepada para tetua adat.

Karena tugas, sesuai adat yang berlaku, orang yang tuang minuman itu wajib mencicipinya terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada orang lain.

“Minumannya dua botol. Kami minum di balai-balai pintu depan. Setelah itu kami pindah ke bawah pohon. Kami makan minum di situ”, kata Gabriel.

Tampak, rumah suku itu masih baru. Atapnya menggunakan seng. Sedangkan dindingnya berupa tembok permanen. Tiangnya dicor. Kaki atau alas tiangnya pun terbuat dari campuran semen. Sementara pintunya terbuat dari kayu.

Di pintu bagian depan ada balai-balai yang terbuat dari kayu usuk dan bambu.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar