oleh

Perselingkuhan Bisnis Pembangunan Mall dan Hotel Berbintang di Maumere

-Opini-71 views

Catatan: Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia

BUPATI Sikka Robi Idong telah memberi isyarat menyetujui atau menerima PT Yasoonus Komunikatama Indonesia (PT. YKI) sebagai investor yang akan segera membangun mall dan hotel bintang empat di atas lokasi Pasar Tingkat (Pasar Tradisional) Maumere. Syaratnya berupa jaminan uang sebesar Rp200 miliar, disimpan di bankNTT.

Artinya hanya dengan uang jaminan Rp.l200 miliar, Robi Idong dan PT YKI ingin menghabisi anak kandung ekonomi rakyat kecil yaitu Pasar Tradisional. Sebab, dengan demikian fungsi, sifat dan karakter Pasar Tradisional serta merta hilang dan muncul sifat, fungsi dan karakter pasar modern yaitu mall dan hotel bintang empat yang tidak memberi tempat bagi pedagang pasar tradisional.

Padahal, nilai jaminan uang Rp200 miliar itu tidak sepadan dengan sejumlah kepentingan publik Sikka yang akan dikorbankan jika mall dibangun tanpa feasibility study objektif demi ambisi politik Robi Idong dan keuntungan ekonomi PT YKI atas nama investasi dan kesejahteraan warga Sikka. Tetapi, untuk itu Robi Idong harus mengabaikan fungsi Pasar Tingkat Maumere yang memiliki sejarah panjang yang harus dilindungi.

Kepentingan lebih besar akan dikorbankan dengan kehadiran mall dan hotel bintang empat, antara lain hilangnya sifat dan fungsi Pasar Tradisional sebagai anak kandung ekonomi rakyat kecil yang merupakan kekayaan budaya masyarakat Sikka dengan segala aneka ragam keunikannya, yang pada gilirannya secara perlahan tapi pasti akan memangsa pedagang Pasar Tradisional, akibat tidak kuat bersaing melawan sistim tatakelola mall yang liberal.

Langkah Robi Idong begitu agresif menerima kehadiran PT YKI tergambar jelas dalam draft MoU terutama uraian tentang hak dan kewajiban Pemda Sikka dan PT YKI. Adanya deal yang sudah matang antara Robi Idong dengan PT YKI untuk kerjasama membangun mall dan hotel, point-point tentang hak dan kewajiban mana seharusnya disosialisasi dan didiskusikan matang terlebih dahulu di internal Pemda dan DPRD Sikka, kemudian ditawarkan kepada PT YKI.

Dramaturgi Robi Idong
Ini memang sebuah dramaturgi yang sangat menggelikan, karena belum apa-apa Robi Idong sudah deal dengan PT YKI, lalu bersikap seolah-olah belum ada deal apa-apa.

Semua point isu kerjasama yang seharusnya masih menjadi rahasia Pemda Sikka yang memerlukan pembahasan dan persetujuan dengan DPRD Sikka dan stakeholders lainnya, sudah terlanjur diberikan kepada PT YKI sebagaimana fakta-faktanya terungkap dalam draft MoU PT YKI yang bocor ke publik.

Dalam ilmu komunikasi politik, pola Robi Idong seperti ini disebut aksi publisitas diri, aksi yang direkayasa untuk pencitraan, sebagai dramaturgi melalui simulasi dan simuclara yang nyaris jadi hiperrealitas.

Aksi publisitas, politicking dan tipu muslihat seolah-olah proses demokratisasi dalam kerjasama yang sering diumbar Robi Idong berjalan normal sehingga terkesan demokratis, ternyata hanyalah bagian dari dramaturgi Robi Idong.

Memperhatikan draft MoU yang beredar, nyata benar bahwa semua isi perut Pemda Sikka sudah tergadaikan dalam deal antara PT YKI dengan Bupati Robi Idong di ruang gelap (tidak transparan), jauh sebelum gagasan membangun mall dan hotel bintang empat dibicarakan dengan DPRD Sikka.

Suatu sikap yang tidak sesuai dengan Etika dan Sistim Tatakelola Pemerintahan. Karena itulah Robi Idong harus menuai reaksi publik yang datang bertubi-tubi akibat tidak adanya transparansi.

Isi Perut Pemkab Sikka
Isi perut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka terlalu dini tergadaikan pada PT YKI dalam soal hak dan kewajiban Pemkab Sikka dalam MoU, antara lain disebutkan, uang jaminan Rp200 miliar, masuknya perusahaan baru dengan nama PT My Sikka Nusantara dan PD Pasar yang dibentuk, komposisi saham 40% untuk Pemkab Sikka, Pemilikan atas tanah dengan hak tertentu di atas lahan Pasar Tingkat sebesar 50% menjadi milik PT YKI selama 30 tahun, Sertifikat Hak Pakai Pasar Alok No. : 532/63/90/SK/1991 belum dibahas di internal tetapi sudah masuk dalam draft MoU PT YKI.

Ini bukti rancang bangun KKN dan perselingkuhan bisnis Robi Idong dengan Yamanotona Basaro Lase dalam ide pembangunan mall dan hotel bintang empat telah dirancang rapi secara prematur, namun bocor ke publik akibatnya semua skenario akan berantakan.

Padahal, draft MoU PT YKI itu isinya jelas melukai rasa keadilan publik Sikka itu, akan dibahas di DPRD Sikka, entah kapan  namun terbongkar karena draft MoU versi PT YKI sudah bocor ke publik.

Membuka rahasia dapur Pemkab dan masyarakat Sikka kepada seorang Yamanotona Basar Laso/PT YKI oleh seorang bupati, jelas merupakan pengkhianatan terhadap Etika, Hukum dan Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik, karena dilakukan sebelum kerjasama dimaksud dibicarakan secara resmi di internal Pemkab dan DPRD Sikka, belum disosialisasikan secara demokratis sebagaimana sering diumbar Robi Idong ke media.

Etiskah seorang bupati diam-diam melakukan deal dan membuka seluruh isi perut Pemkab kepada pihak luar yang belum jelas rekam jejak, itikad baik, kredibilitas dan kapabilitasnya.

Robi Idong bisa dicap telah melakukan pengkhianatan dan kebohongan publik, karena keinginan mengubah secara total fungsi Pasar Tradisional menjadi mall dan hotel bintang empat, belum disosialisasikan dan belum ada “persetujuan” DPRD Sikka, tetapi point-point penting draft MoU yang berisi seluruh  isi perut Pemkab Sikka sudah dimiliki PT YKI.

Kita boleh lapar lalu jual hewan untuk beli beras, jual hasil kebun untuk beli garam dan ikan asin tetapi kita tidak boleh menjual identitas budaya dan harga diri warga Sikka kepada investor yang datang membawa mimpi-mimpi atas nama menyejahterakan warga Sikka, menaikkan PAD Pemkab Sikka dan banyak angin surga lainnya, yang semuanya hanya mimpi-mimpi di siang bolong dan tidak prioritas.

Pemkab Sikka justru harus dahulukan pemberdayaan sosial dan pelatihan terhadap para pelaku usaha tradisional Sikka untuk menjadi pedagang profesional sehingga kalau saja mimpi Robi Idong membangun mall dan hotel bintang empat terwujud maka 90% mall itu harus diisi putera puteri Sikka, mulai dari yang bermukim di balik gunung sampai yang bermukim di pesisir kota, bukan sebaliknya putera puteri kita di Sikka dibiarkan jadi penonton yang konsumtif. (*)

Komentar