oleh

Adi Nesi punya Keterbatasan Fisik, Tak Disentuh Bantuan Apa pun Tapi Berkelimpahan Kasih Tuhan

BADAN kecil. Rambut keriting. Putih warna kulit tubuhnya. Tingginya satu meter lebih. Kakinya tiga. Kaki kiri normal. Sedangkan kaki kanan tidak bisa sentuh tanah karena agak pendek. Sehingga, kakinya harus ditambah satu berupa tongkat.

Meskipun mengaku tidak tamat sekolah dasar, diksi-diksi yang digunakan dalam bertutur, sungguh memukau. Tidak beda dengan orang-orang terpelajar.

Dialah Adrianus Mau Nesi. Lelaki bujangan kelahiran Seon, 10 April 1990 ini, sejak kelahirannya memang memiliki keterbatasan fisik. Kaki kirinya pendek. Tidak bisa menyentuh tanah. Untuk menopang seluruh tubuhnya, dia menambah satu kaki lagi berupa tongkat. Ke mana saja pergi, tongkat itu dibawanya.

Meskipun demikian, Adi, begitu akrabnya, tidak minder di hadapan orang lain. Dia malahan aktif di komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Seon.

Kalau ada vokal grup atau paduan suara, Adi menjadi gitarisnya. Baik di internal OMK maupun stasi dan lingkungan. Kadang berbayar. Antara 250.000-500.000 rupiah.

“Kalau dibayar sampai 500.000 rupiah, biasanya untuk kami 3-5 orang. Sehingga, uangnya kami bagi-bagi. Paling satu orang dapat 100.000-150.000 rupiah. Kalau main gitar atas nama OMK berarti uangnya masuk di kas OMK”, tandas Adi.

Saat ditemui TIMORline.com di kediamannya di Dusun Baki-Babahane Desa Wemeda Kecamatan Malaka Timur Kabupaten Malaka, Sabtu (06/06/2020), Adi tampak sangat percaya diri kalau tamu yang datang ini sudah dikenalnya.

Sore itu, matahari sudah terbenam. Ayam pun mulai naik pohon. Adi bersama beberapa saudaranya duduk lesehan pakai tikar di halaman rumah sambil ngopi bareng.

Adi kemudian mengajak TIMORline.com ngobrol di teras rumah ditemani segelas kopi.

Adi berkisah. Dia adalah anak keeempat dari lima bersaudara. Tepatnya, dari pasangan ayah-ibu Yulius G. Nesi-Rosina Tai.

Selain aktif di OMK Paroki Seon, Adi kini tergabung di Persatuan Penyandang Disabilitas Malaka atau Persama.

Dalam hidupnya hingga usia 30 tahun 10 April lalu, Adi tidak pernah mendapat bantuan dari siapa pun dan dari instansi pemerintah mana pun.

Adi mengaku, seseorang pernah bertemu dengannya di sekitar wilayah Desa Wemeda, desa kelahirannya. Orang yang sama pernah ditemui lagi di Betun, ibukota Kabupaten Malaka.

Orang itu mengaku diri pegawai di Dinas Sosial Kabupaten Malaka. Kepada Adi, orang tersebut menyatakan akan membantunya. Entah bantuan seperti apa yang dimaksudkannya, Adi tidak diberitahu. Bantuan itu pun tak kunjung datang hingga saat ini.

Adrianus Mau Nesi alias Adi. (Foto: Cyriakus Kiik/timorline.com).

Adi sendiri tidak pernah mengharapkan bantuan siapa pun. Toh dia bisa menghidupi dirinya. Dia juga hidup di antara keluarga.

Dalam keterbatasan fisik, Adi sempat tinggal di ibukota negara, Jakarta, pada 2010-2011. Dia belajar menjahit. Pekerjaan ini dilakoninya pula di Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Meskipun demikian, sang majikan tidak mengajarkannya menggambar dan memotong pola. Karena itulah dia tidak bisa menjahit celana baik celana pendek maupun panjang sampai sekarang.

Yang bisa dijahitnya hanya tas gantung atau tas pinggang. Modalnya cuma sebuah mesin jahit yang dibelikan basodaranya. Kini, mesin jahit tersebut ‘menemani’-nya di rumah salah satu kakak perempuannya di Dusun Baki-Babahane Desa Wemeda.

Mesin jahit inilah yang dimanfaatkannya untuk mencari nafkah. Sebab, dengan mesin jahit ini, Adi menerima pesanan jahitan kecil-kecilan.

Saat didatangi TIMORline.com, Adi sedang merampungkan 100 masker kain yang diorder Yayasan Pijar Timur Indonesia pimpinan Vincentius Kiabeda. Yayasan ini pula yang selama ini melibatkan Adi dalam berbagai kegiatannya.

Antara lain pelatihan menjahit masker, menjahit pembalut, pembuatan jamban dan penguatan kapasitas berkaitan dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PSHB) berbasis Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 saat ini, keluarga maupun pribadinya tidak mendapat bantuan apa pun dari siapa pun.

Ketika warga Desa Wemeda dan desa tetangga lainnya ramai-ramai omong dan terima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD), Adi biasa-biasa saja.

Adi tidak merasa diabaikan atau tidak diperhatikan. Kepala wilayah seperti kepala dusun atau ketua rukun tetangga pun tidak pernah mendatanginya. Apalagi untuk mendata dirinya sebagai calon penerima bantuan.

“Om pernah minta saya untuk lapor diri di ketua RT atau kepala dusun supaya didata untuk terima BLT. Tapi, saya belum pergi”, tandas Adi.

Apakah akan lapor diri sesuai permintaan om untuk terima BLT, Adi bilang, “Nanti lihat dulu”.

Beda dengan warga lain pada umumnya, Adi justru menjalani hidup apa adanya. Dia tidak merasa kurang. Apalagi minder dengan keterbatasan fisik tubuh yang dimilikinya.

Dia malahan berkelimpahan kasih Tuhan. Sebab, dalam keterbatasan fisik tubuh bagian kakinya, Adi dipakai Tuhan untuk menebar kelimpahan kasih Tuhan kepada orang lain. Paling tidak melalui pesanan masker kain jahitan di masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Pijar Timur pesan 500 masker kain. Kami bagi-bagi di antara sesama anggota Persama (Persatuan Penyandang Disabilitas Malaka, red). Saya punya jatah 100 masker. Semua sudah selesai. Tinggal diantar ke Betun di Kantor Yayasan Pijar Timur Indonesia “, demikian Adi.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar