Gubernur NTT VBL Melawan WHO

KUPANG, TIMORline.com-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengeluarkan 10 pernyataan melawan organisasi dunia bidang kesehatan World Health Organization (WHO) terkait Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 dan menuju kehidupan baru yang normal (new normal) di Propinsi NTT.

Sepuluh pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Virtual bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Propinsi NTT dan para Bupati/Walikota se-NTT, Selasa (27/05/2020).

Ke-10 pernyataan itu adalah:
Pertama, Standar yang diberikan oleh WHO untuk menangani Covid-19, seperti masuk ke kehidupan baru yang normal (new normal) itu tidak bisa diikuti. Sebab, kebijakan di negara lain tidak dapat diterapkan semuanya di Indonesia, terutama di NTT.

Kedua, Virus Covid-19 tidak pernah mematikan siapa pun di dunia. Yang dinyatakan positif dan meninggal adalah orang yang mempunyai penyakit bawaan lain.

Menurut Gubernur VBL, penyakit yang lebih berbahaya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Nyamuknya tidak ada batasan. Nyamuk tidak pernah dikarantina atau ditracing. Bahkan hari ini yang meninggal karena DBD ada 55 orang di NTT. Sedangkan positif Covid-19 yang meninggal sampai saat ini hanya satu orang. Itu pun karena tifus,” kata Viktor.

Ketiga, khusus untuk NTT harus kembali beraktivitas normal seperti biasa. Hidup dalam ketakutan sangat berbahaya dan lebih berbahaya dari virus Covid-19. Sehingga, jangan ada bupati yang menutup wilayahnya baik antar RT, kelurahan dan kelurahan, desa dan desa maupun antarkota dan kabupaten.

Keempat, maksimal 15 Juni 2020, aktivitas pemerintahan sudah normal kembali dan tidak ada lagi Work From Home (WFH).

“Di NTT WFH itu adalah libur. Sehingga, tidak ada produktivitas dan efektivitas sama sekali,” kata Viktor.

Menurutnya, Program Tahun 2020-2021 ini dikhususkan untuk pemberdayaan. Untuk itu para pimpinan daerah di kabupaten/kota jangan melakukan tandatangan fiktif.

Kelima, pemimpin yang paling buruk di dunia adalah pemimpin yang penakut.

“Bodoh tidak apa-apa, tapi kalau penakut itu salah. Kalau kita ikut standar WHO, tidak bisa berjalan. NTT itu beda dengan WHO. Orang WHO tidak pernah berkebun, tidak pernah pegang linggis, tapi mereka hanya buat standar. Itu tidak bisa diterapkan di seluruh negara,” katanya.

Keenam, NTT itu beda. NTT berpikir sebagai orang miskin yang butuh makan. Untuk itu ditekankan agar NTT kembali beraktivitas normal pada 15 Juni 2020.

“NTT itu normal tidak ada yang baru. Normal kita seperti biasa. Kesehatan kita dari Tuhan sudah berikan. Saya lebih memilih mati karena virus itu. tapi rakyat saya tetap bisa makan. Dari pada saya kurung diri di dalam rumah tapi rakyat saya mati kelaparan,”tegas Viktor.

Ketujuh, Pemerintah NTT sudah menyediakan lahan jagung 10.000 hektar. Tetapi menjadi masalah saat ini, para petani tidak dapat menjual hasil panennya. Hal ini harus segera diatasi. Untuk itu, NTT tetap beraktivitas seperti biasa.

Kedelapan, untuk wilayah Labuan Bajo agar sampah-sampah dibersihkan seluruhnya, sebelum dibuka kembali kehidupan normal yang baru. Mengingat, Pulau Komodo adalah tujuan wisata dunia.

Kesembilan, tempat-tempat wisata akan kembali dibuka. Tempat ibadah pun kembali dibuka sesuai dengan protokol kesehatan yang ada. Transportasi dan fasilitas pemerintah lainnya kembali berjalan normal.

Kesepuluh, anggaran yang telah disiapkan dari refocusing akan disampaikan kepada Kementerian Keuangan. NTT harus fokus pada program-program di daerah, seperti pertanian, perikanan dan perkebunan.

“Saya harapkan para bupati proaktif dalam mendukung program-program tersebut,” demikian Gubernur VBL.

Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *