oleh

TPDI Minta Masalah ‘Bahaya Covid-19’ di Flores Diselesaikan secara Adat Wolon Let

-Pariwisata-36 views

JAKARTA, TIMORline.com-Masyarakat Hikong di Kabupaten Sikka dan Hokeng di Flores Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak ketahuan daerahnya masing-masing terpapar Corona Virus Diases 2019 atau Covid-19 menutup kedua wilayah.

Sehingga, warga Kabupaten Sikka tidak bisa masuk ke wilayah Kabupaten Flores Timur, demikian pun sebaliknya.

Penutupan wilayah ini dilakukan dengan membuat portal batas wilayah untuk memblokade arus masuk-keluar warga antara kedua kabupaten.

Warga kedua kabupaten beralasan Covid-19 sangat berbahaya.

Penutupan total arus masuk-keluar warga kedua kabupaten itu kemudian menimbulkan masalah. Bahkan, akses ekonomi masyarakat di kedua wilayah itu lumpuh.

Merespon masalah-masalah yang timbul menyusul penutupan total wilayah Kabupaten Sikka dan Flores Timur, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus melalui pesan akun WhatsApp-nya yang diterima TIMORline.com, Rabu (27/05/2020) pagi,  meminta masalah ‘bahaya Covid-19’ ini segera diselesaikan secara adat wolon let atau ketimuran.

Karena itulah, Pemerintah Kabupaten Sikka dan Flores Timur diminta menyerahkan dan memfasilitasi penyelesaian masalah portal batas yang digunakan warga Hikong di Kabupaten Sikka dan warga Hokeng di Kabupaten Flores Timur untuk saling memblokade.

“Biarlah warga dan kepala desa di kedua wilayah perbatasan menyelesaikan secara adat baik adat Desa Hokeng Flores Timur maupun adat Desa Hikong Sikka”, katanya.

Dalam menyelesaikan masalah tersebut, Petrus meminta warga dan kepala desa kedua belah pihak melibatkan para tokoh adat tanpa prasangka buruk.

Menurut Petrus, penyelesaian secara adat kedua belah pihak di perbatasan merupakan hukum tertinggi dan terhormat. Sebab, cara itu dilakukan secara terbuka, musyawarah bersama dan langsung diputuskan bersama, terang dan tuntas.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, Petrus tetap mengingatkan warga dan pimpinan kedua wilayah agar saat menyelesaikan masalah portal batas willayah tetap mematuhi protokol Covid-19, yaitu jaga jarak dan menggunakan masker saat bermusyawarah.

Petrus juga mengingatkan warga dan kepala desa di perbatasan kedua wilayah untuk tidak menunggu Bupati Sikka dan Bupati Flores Timur turun tangan.

Sebaliknya, perwakilan masyarakat Desa Hikong dan Hokeng di perbatasan Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur harus bertemu dan berembuk dengan menghadirkan kedua kepala desa.

Advokat Peradi senior itu mengatakan, kepala desa di perbatasan kedua wilayah merupakan simbol-simbol adat yang hidup dan berkembang di desa masing-masing. Jangan tenggelamkan hukum adat lalu semua persoalan menunggu bupati yang tangani.

“Selesaikan masalah penutupan wilayah itu secara adat, baku wolan secara adat, damai di bumi dan di surga. Itu tidak sulit dan mari kita mulai dengan mengedepankan hukum adat. Hukum adat itu budaya kita dan itu tidak salah, tidak menyalahi prosedur hukum. Bahkan wajib hukumnya karena dijamin dalam UUD 1945”, demikian Petrus.

Editor: Cyriakus Kiik

Komentar