Plan Indonesia Latih Penyandang Disabilitas Membuat Masker dan Pembalut Ramah Lingkungan

ATAMBUA, TIMORline.com-Yayasan Plan Internasional Indonesia (Plan Indonesia) melatih penyandang disabilitas membuat masker dan pembalut ramah lingkungan di SMK Kusuma Raybasin Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/05/2020).

Kegiatan pelatihan ini didukung Yayasan Pijar Timur Indonesia sebagai mitra implementasi WINNER (Women and Disability Inclusive and Nutrition Sensitive WASH Project) di NTT khususnya Kabupaten Belu dan Malaka.

Kegiatan ini diikuti 10 orang anggota organisasi Perkumpulan Penyandang Disabilitas Rai Belu (Kumpesa Rai Belu) dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Kabupaten Malaka (Persama Malaka).

Pelatihan pembuatan masker kain dan pembalut ramah lingkungan ini difasilitasi Suster Maria Magdelana Kole, SSpS dan Suster Beatrix D.E. Beni, SSpS dari Susteran SSpS Atambua.

Denny Rahadian, WINNER Provincial Coordinator NTT mengatakan, kegiatan pelatihan ini bertujuan memberikan ketrampilan membuat masker kain dan pembalut ramah lingkungan kepada para penyandang disabilitas yang kehilangan pekerjaan akibat dampak pandemik Covid-19.

“Sejak pandemik Covid-19 ini terjadi, permintaan makser kain dan pembalut ramah lingkungan meningkat di masyarakat. Dengan pelatihan ini mudah-mudahan para penyandang disabilitas bisa memproduksi masker kain dan pembalut ramah lingkungan sehingga memberikan peluang usaha baru bagi mereka,” ujar Denny.

Maria Yasinta Dahu Atok, salah satu penyandang disabilitas yang mengikuti pelatihan mengakui kalau pelatihan ini sangat bermanfaat, karena pelatihan ini menambah keterampilan baru dan dapat memberikan peluang usaha baru baginya.

“Sejak pandemi Covid-19 ini terjadi, saya sudah tidak bekerja lagi. Sebelum pandemi ini terjadi saya berprofesi sebagai tenaga honorer di salah satu puskesmas, namun karena Covid-19, saya tidak bisa bekerja dan hingga saat itu saya tidak lagi berpenghasilan. Saya berterimakasih kepada Plan Indonesia dan Pijar Timur yang sudah memberikan pelatihan ini. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan peluang usaha baru dengan ketrampilan ini” lanjut Maria Yasinta.

Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia, Vincentius Kia Beda menambahkan, setelah pelatihan ini Plan Indonesia dan Yayasan Pijar Timur akan membantu memromosikan produk masker dan pembalut ramah lingkungan hasil karya penyandang disabilitas ini kepada masyarakat bersama pemerintah Kabupaten Belu dan Malaka.

Menurut Vincentius, saat ini produsen masker kain dan pembalut ramah lingkungan di Kabupaten Belu dan Malaka masih langka padahal permintaannya sangat tinggi.

“Mudah-mudahan teman-teman penyandang disabilitas yang sudah kita latih bisa memenuhi permintaan masyarakat akan masker kain dan pembalut ramah lingkungan. Kegiatan pelatihan ini selain ada manfaat kesehatan, di sisi lain memberi manfaat ekonomi bagi para penyandang disabilitas”, demikian Vincentius.

Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *