Bupati Malaka Stefanus Bria Seran: Ternyata Covid-19 juga Baik

SEBUAH kalimat pendek meluncur dari mulut Bupati Malaka Stefanus Bria Seran, “Ternyata Covid juga baik”.

Kalimat itu diucapkannya dengan semangat di hadapan masyarakat Bubun Desa Tunmat Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini terjadi pada Senin (20/04/2020). Saat itu Bupati Stefanus bersama Kapolres Malaka AKBP Albertus Neno sedang dalam rangkaian kegiatan pemantauan Posko Covid-19 di seluruh wilayah Kecamatan Io Kufeu.

Berdampingan dengan Kapolres Malaka AKBP Albertus Neno, Bupati Malaka Stefanus Bria Seran berdiri. Cakar pinggang. Lihat ke depan, dari kiri ke kanan. Lalu mengucapkan, “Baik. Selamat siang semua”.

Bupati Stefanus lalu angguk-angguk kepala. Dengan raut wajah merah, dia melanjutkan omongannya. Entah apa yang sedang dirasakannya. Galau, gembira, sedih atau haru? Tidak tahu pasti.

Tetapi, Bupati Stefanus kemudian minta maaf kepada warga yang hadir. “Saya minta maaf kepada bapak-ibu dan keluarga di sini. Karena setelah menjabat bupati empat tahun baru hari ini saya datang di sini. Saya minta maaf. Minta maaf”, begitu Bupati Stefanus memulai omongannya.

Sesaat suasana langsung berubah sepi. Warga yang hadir tertegun. Semuanya pada mendengar omongan Bupati Stefanus.

Menurut Bupati Stefanus, kehadirannya di Kecamatan Io Kufeu bukan untuk kampanye politik. Tetapi, untuk memantau kesiapan dan kesiap-siagaan masyarakat setempat membangun Posko Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Pos-pos itu, menurut Bupati Stefanus, dimaksudkan untuk mencegah Covid-19. Caranya, pos-pos itu dijaga Tim Covid-19 dan relawan. Di situ ada unsur TNI, Polri dan petugas kesehatan.

Saat menyebut ‘petugas kesehatan’ mata bupati perdana Kabupaten Malaka ini tertuju kepada tiga petugas kesehatan Puskesmas Tunabesi yang berdiri ‘jaga jarak’ di depannya.

“Itu petugas kesehatan. Mereka ini garda terdepan. Mereka harus ada di setiap pos Covid-19”, kata Bupati Stefanus.

Bupati Stefanus tanpak memandang serius ketiga petugas kesehatan itu. Dia kemudian menanyakan nama mereka satu per satu. Sebaliknya, ketiga petugas kesehatan itu diminta memperkenalkan diri masing-masing.

Antara lain menyebut nama lenngkap, tempat tanggal lahir, lulusan tahun berapa dan dari perguruan tinggi mana. Sudah mengabdi berapa lama. Tambah nomor telepon.

Setelah tahu lama masa kerja petiga petugas kesehatan itu, sambil bercanda Bupati Stefanus bilang, “Kamu buat pusing saya saja. Saya pusing lihat kamu. Saya pusing. Tolong angkat saya karena saya pusing”, ujar bupati mantan Kadis Kesehatan Propinsi NTT itu sambil memeragakan orang jatuh yang membuat hadirin serentak tertawa lepas.

Mengapa pusing, kata Bupati Stefanus, karena banyak petugas kesehatan tenaga sukarela di Puskesmas Tunabesi.

Tanpak wajahnya berubah merah. Bupati Stefanus terkesan haru menahan tangis melihat tenaga medis yang mengabdi di kampung-kampung dengan status kepegawaian tenaga sukarela.

Bupati Stefanus lebih lanjut bertanya, “Di sini ada sinyal atau tidak”.

Serentak warga yang hadir menjawab, “Tidak ada”. Mendengar jawaban itu, Bupati Stefanus bilang, “Yaaa, kalau ada sinyal, saya mau buat keputusan. Keputusan tentang mereka tiga. Keputusan tentang kamu tiga. Masa orang kerja untuk negara bertahun-tahun dengan status kepegawaian sukarela. Ini tidak adil. Negara harus bertindak adil terhadap mereka. Saya mau buat keputusan tentang kamu tiga. Tapi jangan berharap dulu. Nanti di tempat yang ada sinyal baru saya buat keputusan”, tandas Bupati Stefanus sambil menunjuk tiga petugas kesehatan tadi.

Meskipun belum ada keputusan tentang status kepegawaian ketiga petugas kesehatan tadi, Bupati Stefanus bilang, “Ternyata wabah Covid-19 juga baik. Baik untuk kamu tiga”.

Bupati Stefanus lebih lanjut menjelaskan, Covid-19 itu virus yang sangat berbahaya di dunia. Korban meninggal sudah mencapai ratusan ribu jiwa.

Untuk mencegahnya, kata bupati mantan Kadis Kesehatan Kabupaten Sumba Timur itu, warga dilarang ke mana-mana. Sebaliknya, tinggal di rumah saja dan selalu jaga jarak. Bila ada urusan mendadak, bisa keluar. Tetapi, keluar wajib pakai masker.

Untuk menjaga kekebalan tubuh, warga diminta menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi.

Bagi warga baru atau anggota keluarga yang selama ini tinggal di luar dan baru datang, Bupati Stefanus meminta orang bersangkutan dibantu keluarga melaporkan diri di perangkat desa, polisi atau tentara.

Mereka juga wajib diperiksa petugas kesehatan. “Petugas kesehatan, perangkat desa, polisi dan tentara itu ada di Posko Covid-19. Posko dibangun di perbatasan antarwilayah dan kampung-kampung. Makanya hari ini saya dengan Pak Kapolres dan para kepala dinas datang ke sini untuk lihat langsung Posko Covid-19 di perbatasan Kabupaten Malaka dan TTU di Bubun sini”, kata Bupati Stefanus.

Dalam sesi tanya-jawab, Kepala Desa Tunmat Yasintha Roman Fatin mengusulkan dua hal.

Pertama, peningkatan ruas jalan dari Fatuao di Desa Tunabesi ke Bubun di Desa Tunmat. Sebab, ruas jalan sepanjang enam kilometer ini sebagian sudah dirabat tetapi kondisinya sangat ekstrim.

Kedua, jaringan listrik di Bubun. Wilayah Kabupaten Malaka yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten TTU ini terdiri dari tiga dusun tetapi gelap pada malam hari karena belum ada jaringan listrik.

Merespon permintaan Kades Yasintha, Bupati Stefanus bilang, ruas jalan Fatuao Desa Tunabesi ke Bubun Desa Tunmat dengan volume enam kilometer direncanakan penganggarannya dalam tahun anggaran 2021.

Penjelasan itu mendapat tepukan tangan meriah warga yang hadir.

Soal jaringan listrik, Bupati Stefanus komit untuk bersurat langsung ke PLN Pusat.

“Soal listrik, biasanya saya buat surat, tandatangan, lalu kirim langsung ke Jakarta. Jadi, biasanya saya bersurat langsung ke Jakarta, Pak Kapolres”, kata Bupati Stefanus sambil melirik Kapolres Malaka AKBP Albertus Neno di samping kirinya.

Anton Manek, salah seorang tokoh adat setempat berceloteh. “Biak, nan sa’a sa he iam mok kase naek ia’na neam fain nasi temef ia. Nakoa Indonesia merdeka, neon ia ne fera kaes muti ia na neam fain hit lo’o ia”, kata Anton yang secara harafiah terjemahan bebasnya berarti, “Kawan, mengapa kamu bawa orang-orang besar ini datang di hutan besar ini. Sejak Indonesia merdeka, hari ini baru orang-orang besar ini datang di kita punya kampung”.

Sambil menutup mulutnya pakai selendang yang melingkar di lehernya, Anton geleng-geleng kepala berdiri dari jauh mendengar arahan Bupati Stefanus.

“Orangnya pintar, hebat. Kita suka bupati begini. Dia bisa datang sampai di kampung-kampung seperti ini. Kita bisa lihat dia dan omong-omong dengan kita begini”, kata Anton sedikit memuji Bupati Stefanus dalam bahasa Dawan.

Pergi-pulang Bubun melewati jalan yang ekstrim, Bupati Stefanus terlihat tetap ceria. Sekira 30 menit, Bupati Stefanus berkesempatan berdialog dengan belasan tenaga medis di Puskesmas Tunabesi.

Saat itu, salah seorang tenaga kesehatan yang status kepegawaiannya tenaga sukarela langsung dicatat namanya untuk diproses dan diangkat menjadi tenaga kontrak daerah.

Dengan demikian, tenaga kesehatan dengan status kepegawaian tenaga sukarela di Puskesmas Tunabesi yang diproses dan diangkat menjadi tenaga kontrak daerah jumlahnya menjadi empat orang.

Yang mencengangkan, di sini Bupati Stefanus langsung menghubungi Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Malaka Veronika Fahik untuk segera memroses empat tenaga kesehatan di Puskesmas Tunabesi dari tenaga sukarela diangkat menjadi tenaga kontrak daerah.

Komunikasi melalui telpon itu dilakukan seusai memastikan status kepegawaian empat tenaga kesehatan di Puskesmas tersebut. Disaksikan Kapolres Albertus, para kepala dinas dan sejumlah tenaga medis lainnya.

Bupati Stefanus bersama rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Fatoin melewati Desa Kufeu, Ikan Tuanbeis dan Bani-Bani.

Sepanjang perjalanan, Bupati Stefanus dan rombongan mendapat ‘Salam Covid-19’ dari warga. Mereka berdiri membentuk pagar betis pendek di setiap Posko Covid-19.

Di Desa Fatoin, Bupati Stefanus bersama rombongan melihat langsung areal persawahan milik warga setempat seluas 860 hektar sebagaimana dilaporkan Kepala Desa Fatoin Nursisius Un Naifio.

Menurut Nursisius, dua tahun terakhir lahan persawahan warganya tidak digarap. Sebab, debit airnya sedikit sekali. Karena itu, Kades Nursisius bersama warganya minta Pemerintah Kabupaten Malaka membantu mereka bor air.

Bupati Stefanus kemudian tanya balik Kades Nursisius, “Mana kepala desa. Kau mau apa”.

Kades Nursisius yang berdiri di dekat Bupati Stefanus, dengan sedikit tersipu dan nada merendah menjawab singkat, “Perbaiki kami pung jalan, bapak”.

Tanpa penjelasan panjang lebar, Bupati Stefanus bilang, “Kau pung muka. Minta jalan. Kau pikir saya jalan tidak cape kah”, begitu respon Bupati Stefanus sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana kiri-kanan.

Apa maksud respon Bupati Stefanus seperti itu, Yosef Molo sebagai tokoh masyarakat Desa Fatoin yang hadir memaknainya sebagai maksud setuju untuk memerbaiki jalan.

Ruas jalan dimaksud titik starnya di Fatuknutuk Desa Kufeu melewati Desa Ikan Tuanbeis dan Desa Bani-Bani, berakhir di Raymea Desa Fatoin, sebagaimana diminta Kades Nursisius.

Seusai meninjau lahan persawahan milik warga, Bupati Stefanus bersama rombongan berkesempatan berkunjung di Puskesmas Bani-Bani.

Setelah memberikan semangat kepada semua tenaga kesehatan untuk tetap melayani masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini, untuk kesekian kalinya Bupati Stefanus membuat sejarah.

Sebab, baginya, di masa pandemi wabah seperti saat ini, negara butuh orang-orang yang melayani dengan sungguh untuk membuat sejarah.

“Semangat pelayanan itu ada hanya pada orang-orang sukarela. Negara harus menghargai mereka dengan bersikap adil”, demikian Bupati Stefanus.

Penghargaan negara itu dibuktikan Bupati Stefanus dengan mengangkat tiga petugas medis lagi yang selama ini status kepegawaiannya sukarela menjadi tenaga kontrak daerah.

Secara umum, dalam pemantauan Posko Covid-19 di Kecamatan Io Kufeu ini, pernyataan Bupati Stefanus ‘ternyata covid-19 juga baik’ sangat beralasan.

Beberapa catatan sejarah itu terekam pula dalam catatan jurnalistik TIMORline.com bersama beberapa jurnalis Malaka yang ikutserta dalam pemantauan Posko Covid-19 kali ini.

Tersebutlah antara lain:
1. Delapan tenaga kesehatan dengan masa kerja 5-12 tahun di Puskesmas Tunabesi dan Bani-Bani yang bekerja dengan status kepegawaian sukarela diangkat menjadi tenaga kontrak daerah terhitung Senin, 20 April 2020. Lima di antaranya di Puskesmas Tunabesi, sedangkan tiga lainnya di Puskesmas Bani-Bani;
2. Ruas jalan Fatuao (Desa Tunabesi) – Bubun (Desa Tunmat) bervolume enam kilometer direncanakan penganggarannya dalam tahun anggaran 2021;
3. Ruas jalan Fatuknutuk Desa Kufeu melewati Desa Ikan Tuanbeis dan Desa Bani-Bani, yang berakhir di Raymea Desa Fatoin, diperbaiki dengan direncanakan penganggarannya dalam tahun anggaran 2021;
4. Bupati Stefanus komit menyurati manajemen PLN di Jakarta untuk pemasangan listrik bagi warga tiga dusun di Bubun Desa Tunmat;
5. Bupati Stefanus komit membangun bor air untuk mengairi 860 hektar lahan persawahan milik warga Desa Fatoin.
6. Sejak Indonesia merdeka hampir 75 tahun, Propinsi NTT terbentuk hampir 52 tahun dan Kabupaten Malaka terbentuk tujuh tahun, untuk pertama kalinya seorang bupati mengunjungi Desa Tunmat, yakni Bupati Stefanus Bria Seran.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: bisa copy