Pah Bouk ‘Sang Mutiara Indah Bani-Bani’ itu Pergi Selamanya, Inilah Profilnya

SEKIRA pukul 17.00 wita Kamis (02/04/2020), Ira mau tinggalkan kos di Dusun Krey Desa Umanen Lawalu Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Cewek cantik ini adalah anak kandung Edward Taolin, salah satu adik kandung Ludovikus Taolin. Di pintu keluar ke jalan raya, Ira menghentikan sepeda motornya. Tepat di samping saya.

Saya menoleh sebentar ke arah Ira. Wajahnya tampak memerah. Saat bicara, suara serak. Hampir tidak kedengaran. “Om, bapak bot meninggal”, begitu kata Ira. Karena anak-anak ribut di dekat saya duduk, saya tanya ulang Ira, “bagaimana?”

Untuk kedua kali Ira bilang, “Bapak bot sudah meninggal”, sambil menahan napas tangisnya. “Ahhhh, Bapak Ludo?”, begitu reaksi saya kaget. Ira lalu pergi setelah menyatakan: Iya Om.

Saya lalu memberitahu istri dan mama kos kalau Bapak Ludo Taolin sudah meninggal.

INGAT Ludo Taolin, ingat Bani-Bani. Pada tahun 70-an, Ludo Taolin itu seorang pemuda yang sangat tampan. Ganteng, kekar dan sedikit berjanggut. Selalu memakai topi cowboy. Tapi, saat makan atau duduk sama-sama dengan orangtua, topi itu diturunkan dari kepala dan dibiarkan tergantung di bagian tengkuk.

Warna kulit tubuhnya putih. Ke mana-mana selalu mengendarai sebuah sepeda motor besar. Dasar anak-anak. Kalau diparkir, sepeda motor itu selalu jadi tontonan menarik saya dan teman-teman sebaya. Kami mendekati sepeda motor itu. Raba ramai-ramai. Lalu, saling ajak untuk raba ramai-ramai. Bahkan, sampai peluk sepeda motor itu ramai-ramai pula.

Kalau ramai-ramai begitu, sudah pasti diusir Bapak Baltasar Bau Dini atau Mama Agnes Bete. Kadang kami dilempari pakai batu. Biar tidak berisik. Tetapi, teringat masa itu, Ludo selalu dekati kami. Dia mengelus-elus kami di ubun-ubun atau peluk kami di bahu. Lalu, tanya siapa orangtua kami.

Kadang dia bagi-bagi gula-gula. Dulu bilang bom-bom. Semua orang Bani-Bani mengenalnya dengan nama Pah Bouk. Sebagai anak-anak kampung, kami juga kemudian mengenal Ludo Taolin dengan nama Pah Bouk.

PAH Bouk akhirnya pergi tinggalkan kami anak-anak Bani-Bani. Untuk selamanya. Tak kembali. Tapi, namanya kesohor sekali di Timor. Tak terkecuali di antara deretan para Raja Timor.

Dia anak Timor. Anak Raja Timor. Menjadi teladan, inspirator dan motivator semua generasi di bawahnya.

Ferek Muti Siarai yang pada masa hidupnya dikenal dengan Ferek Naifio, adalah nenek angkat mama saya. Nenek ini punya cerita tentang Sofia Mako, mama kandung Pah Bouk. Intinya, Sofia kecil dirawat, dipiara dan dibesarkan nenek Ferek Muti Siarai atau Ferek Naifio. Karena itu, hingga saat ini Pah Bouk dan keluarga besar tidak pernah lupa Suku Naifio, sebuah suku besar di Bani-Bani.

Sebagai cucu Ferek Naifio, saya kemudian akrab dan mengenal Pah Bouk dalam banyak hal. Baik adat, birokrasi maupun politik.

Hal kecil yang membuat saya terinspirasi adalah kepedulian Pah Bouk di dunia pendidikan. Saat masih menjabat Kepala Desa Kusa, Pah Bouk sempat membebaskan uang sekolah tiga tahun angkatan bagi siswa-siswi SMPK Santa Maria Fatima Nurobo antara 1991-1993.

Maklum, waktu itu sekolah ini hampir tutup karena tidak ada peminat. Theresia Ikun sebagai kepala sekolah bingung. Tetapi, dengan bebas uang sekolah, banyak anak yang berminat untuk sekolah di situ. Sebab, Pah Bouk bilang, orangtua siapa yang tidak sekolahkan anaknya di SMPK Nurobo, tidak mendapat pelayanan apa pun di desa.

Sebagai wartawan pemula pada harian Pos Kupang, saya menulis/memberitakan kondisi yang dihadapi sekolah itu. Puji Tuhan, sekolah itu luar biasa saat ini.

Tapi, ibarat kelewang panglima perang, sarung panglima diambil musuh, isinya tertinggal. Sang inspirator itu pergi untuk selamanya. Generasi hari ini terus berjuang melanjutkan semangatnya.

SEMANGAT regenerasi dan perubahan. Hasil-hasilnya dapat diikuti dari rekam jejak Pah Bouk. Hasil karya agung Pah Bouk yang terus dikenang masyarakat Malaka dengan nilai plus-minusnya adalah perjuangan pembentukan Kabupaten Malaka.

Saat itu, Kabupaten Malaka masih menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Belu. Untuk sebuah rencana besar pembentukan Kabupaten Malaka, Pah Bouk masuk-keluar desa-desa. Dia datangi kepala desa, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan.

Pah Bouk bicara dengan mereka dari hati ke hati. Obat penakluknya cuma sirih-pinang dan sopi. Itu pun kalau ada. Dia minta dukungan untuk pembentukan Kabupaten Malaka. Lalu, mereka tulis surat pernyataan. Ramai-ramai tandatangan pula atau cuma cap jempol. Surat pernyataan itu lalu dibawa ke Kantor DPRD Belu sebagai aspirasi rakyat.

Maklum, saat itu Pah Bouk merupakan anggota DPRD Belu dari Fraksi Partai Golkar sekaligus menjabat Wakil Ketua Dewan.

Dia didukung anak-anak muda yang semangat dan perjuangan mereka kala itu sangat-sangat diremehkan orang tertentu, keluarga tertentu dan kelompok tertentu. Anak-anak itu bahkan dicap ema nohai fatik (pengangguran atau gembel).

Tetapi, orang, keluarga dan kelompok tertentu itulah yang saat ini menikmati ‘kerajaan surga dunia’ Malaka. Sementara anak-anak muda itu sebagian besar menjadi penonton setia.

Di mata Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Malaka Hendrikus Fahik Taek, Pah Bouk itu ibarat mutiara indah yang memiliki pesona daya pikat dan daya tarik bagi banyak orang.

Kesan Hendrik, begitu akrabnya Hendrikus Fahik Taek, itu diungkapkan dalam orasi politiknya saat tampil sebagai salah satu juru kampanye (jurkam) Paket TABE di Dusun Taekama-Efudini Desa Ikan Tuanbeis Kecamatan Io Kufeu pada Sabtu 10 Oktober 2015.

Dengan menyentil sedikit karir politik Pah Bouk, Hendrik mengakui Pah Bouk sebagai figur yang sangat berpengalaman dalam birokrasi. Sebab, dia pernah menjabat kepala desa 16 tahun. Pernah juga menjadi camat, lalu terpilih menjadi anggota DPRD Belu yang setelah dilantik dipilih anggota menjadi Wakil Ketua DPRD Belu. Dia juga pernah menjabat Wakil Bupati Belu.

Dengan catatan rekam jejak itu, Hendrik mengajak massa pendukungnya untuk tidak sekedar mendukung tetapi memilih Pah Bouk juga saat hari ‘H’ pilkada Malaka yang dijadwalkan 9 Desember 2015 waktu itu.

Selain memiliki pengalaman birokrasi yang kuat, menurut Hendrik, Pah Bouk adalah figur yang sangat memegang teguh budaya Wesei-Wehali. Sebab, pemimpin Kabupaten Malaka haruslah figur berbudaya.

Cerita panjang itu telah selesai. Meskipun menurut Hendrik waktu itu tinggal satu tangga lagi untuk menjadi bupati, Pah Bouk menitip tangga itu diduduki generasi milenial. Karena dia telah pergi untuk selamanya. Semoga bahagia di Surga bersama para kudus dan para malaikat.

Berikut biodata lengkap Pah Bouk:

Nama lengkap: Taolin Ludovikus
Tempat Tanggal Lahir: Looneke, 8 Mei 1952
Istri: Theresia Noy
Anak:
Irene Maria Taolin, SH
Louise Lucky Taolin
Maria Evelina Taolin (wiraswasta/lulusan Institut Teknologi Nasional Malang)
Fransiskus Xaverius Taolin (Universitas Widya Mandala)
Josef Gerardus Taolin (BPMD Kabupaten Belu)
Maria de Rosari Taolin (IPDN Bandung)
Maria Krista Taolin (Kedokteran Universitas Brawijaya)

Hobby: Renang, mancing dan olahraga pacuan kuda
Ayah: Jeremias Taolin
Ibu: Sophia Mako
Mertua: – Petrus Funan Neno
– Marta Haki Tuna
Saudara/i kandung:
Rosadelima Taolin (alm)
Ludovikus Taolin
Leyander Taolin
Rosa Taolin
Serfina Meak Taolin
Fredrikus Taolin, SSos
Johanes Taolin
Imelda Taolin
Benediktus Thomas Taolin
Kwintinus Taolin
Yulius Taolin, SE.Akun
Wandelinus Taolin
Maxymus Taolin (alm)

Pendidikan:
SR (Sekolah Rakyat) Rafau 1963-1965
SMP Sabar Subur Betun 1965-1969
SMEA Purnama Atambua 1969-1972
APMD (Akademi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta 1978-1981

Karir:
– 1974 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
– 1975 Pegawai Negeri Sipil (PNS)
– 1978-1981 Izin belajar pada Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Yogyakarta
– 1981-1986 Kepala Urusan Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Malaka Tengah
– 1986-1998 Kepala Desa Kusa
– 1998-2003 Camat Sasitamean
– 2004-2009 Wakil Ketua DPRD Belu dari Fraksi Partai Golkar
– 2009-2014 Wakil Bupati Belu2. 2015 maju Calon Bupati Malaka Periode 2015-2020 berpasangan dengan Benny Chandrawinata dengan tagline TABE (TAolin-BEnny).

– 2019-2020 anggota DPRD NTT dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Daerah Pemilihan (Dapil)-7 meliputi Kabupaten Malaka, Belu dan Timor Tengah Utara (TTU).

Organisasi:
Sekretaris II Senat Mahasiswa APMD Yogyakarta 1978-1979
Sekretaris Umum Senat Mahasiswa APMD Yogyakarta 1979-1980
Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang APMD Yogyakarta 1980-1981
Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang APMD Yogyakarta 1979-1980
Pembina Ikatan Keluarga Timor Tengah Utara (TTU) Yogyakarta 1978-1981
Pembina Partai Golkar Kabupaten Belu 1986-1997
Ketua Seksi Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kabupaten Belu 2004-2009.
Ketua Partai Golkar Kabupaten Belu 2010-2014. 2019 hingga sekarang bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pengalaman:
Ketua Seksi Kerawam Dewan Pastoral Paroki (DPP) Dekenat Malaka
Ketua Dewan Pastoral Paroki Seon 1986-1998
Penasehat Pengurus CCF Kusa Bhakti 1991-1999
Pendiri Yayasan Membagi Kasih (YMK)
Pendiri Yayasan Oelotu Kusa (YOK)
Ketua Yayasan Xaverius Penanganan Orang Kusta Paroki Seon
Pendukung Rumah Sakit Kusta Naob-TTU
Ketua Panitia Pembangunan Gereja Kaputu
Penasehat Panitia Pembangunan Gereja GMIT Kakuun
Penasehat Panitia Pembangunan Gereja GMIT Eokpuran. (*)

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *