Inilah Syarat Calon Pemimpin Masa Depan Malaka versi Partai Demokrat

BETUN, TIMORline.com-Kabupaten Malaka dijadwalkan bersama-sama dengan delapan kabupaten lainnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan melaksanakan pemilihan umum kepala daerah-wakil kepala daerah pada 23 September 2020 mendatang.

Sejumlah figur disebut-sebut sudah mendaftarkan diri pula di sejumlah partai. Di Partai Demokrat, figur yang mendaftar sebagai bakal calon bupati adalah dr Stefanus Bria Seran, MPH. Sedangkan yang mendaftar sebagai bakal calon wakil bupati adalah Ir Paulus Un, MSi dan Wendelinus Taolin.

Plt. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Malaka Marius Boko kepada TIMORline.com di Betun, Sabtu (28/03/2020), mengatakan, siapa pun yang maju sebagai bupati dan wakil bupati Kabupaten Malaka dalam Pemilukada 2020 mempunyai peluang dan hak politik yang sama untuk dicalonkan dan mencalonkan diri.

Tetapi, kata Marius, mereka yang mencalonkan diri dan dicalonkan adalah calon pemimpin masa depan Kabupaten Malaka.

Karena itu, saat tahap pendaftaran, Partai Demokrat tidak menyebut figur tertentu sebagai figur bakal calon atau calon terbaik.

Di internal Partai Demokrat, tandas Marius, pihaknya hanya bicara syarat menjadi pemimpin masa depan Kabupaten Malaka.

Anggota DPRD Kabupaten Malaka asal Fraksi Partai Demokrat ini menyebutkan beberapa syarat menjadi pemimpin masa depan Kabupaten Malaka.

Pertama, figur tersebut mampu menata Betun sebagai ibukota Kabupaten Malaka.

Penataan yang dimaksudkannya adalah membangun trotoar di seluruh kota Betun. Paling tidak di sepanjang Jalan Raya Malaka mulai dari Dusun Webua Desa Kamanasa (depan Rumah Sakit Umum Penyanggah Perbatasan/RSUPP Betun-Kantor Daerah) sampai di Jembatan Benenai.

Kedua, di sepanjang Jalan Raya Malaka mulai dari Dusun Webua sampai di Jembatan Benenai perlu dipasang lampu listrik. Setidaknya setiap 50 meter dipasang satu lampu. Pemasangan lampu perlu dilakukan pula di ruas jalan lain. Antara lain dari Webua-Kletek, Betun-Umakatahan-Kletek-Fahiluka dan Umakatahan-Manumuti.

Ketiga, lapangan umum Betun sebaiknya ditata menjadi alun-alun kota. Lapangan umum Betun sudah saatnya ditata kembali. Jangan jadi lapangan seperti saat ini tapi dijadikan alun-alun kota.

Sebagai alun-alun, urai Marius, di sekelilingnya dibangun pondok-pondok kecil yang dilengkapi dengan permainan untuk anak-anak dan orang dewasa.

Keempat, Malaka harus mempunyai icon sendiri. Misalnya, membangun monumen salah satu pahlawan Malaka yang berhasil mengusir penjajah atau mungkin monumen Raja Liurai Malaka atau apalah.

“Jadi, ketika orang masuk di Betun, langsung kaget, waooo, ini kotanya. Ini ibukota Kabupaten Malaka”, katanya.

Marius berharap, penataan kota yang baik dan indah menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat Malaka dan para tamu yang datang di Malaka.

“Jangan sampai orang sudah masuk di ibukota kabupaten tapi bingung, pikirnya masih di kampung. Nahh, pemimpin masa depan Kabupaten Malaka harus beda wawasannya dan mampu membangun kota ini indah yang mempunyai daya tarik sendiri”, demikian Marius.

Untuk mengetahui wawasan dan kapasitas figur-figur yang maju dalam Pemilukada serentak 2020, Partai Demokrat akan melakukan fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan terhadap para bakal calon bupati dan wakil bupati yang sudah mendaftar di Partai Demokrat beberapa waktu lalu.

Pihaknya menginginkan figur pemimpin masa depan Kabupaten Malaka adalah figur yang berwawasan luas dan mampu membangun Kabupaten Malaka.

Salah satu titik fokusnya adalah membangun dan menata kota Betun yang indah dan berdaya tarik dengan harapan-harapan seperti syarat yang disebutkan tadi.

Disebutkan, salah satu bakal calon bupati yang mendaftar di Partai Demokrat adalah Bupati Malaka Stefanus Bria Seran.

Meskipun Pak Stefanus itu calon petahana, kata Marius, kepadanya tetap dilakukan uji kelayakan dan kepatutan.

“Kita tetap uji, meski calonnya adalah bupati yang sedang memimpin. Kebetulan bakal calon bupati yang mendaftar di Partai Demokrat hanya satu orang, yakni Pak Stef. Sedangkan bakal calon bupati ada dua orang, yakni Paulus Un dan Wendelinus Taolin”, demikian Marius.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: bisa copy