oleh

Napoen Mafena, Cara Tradisional Masyarakat Bani-Bani Tolak Wabah Covid-19

SEBUAH tradisi leluhur masyarakat Bani-Bani di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal dengan nama Napoen Mafena masih dipegang teguh masyarakat setempat hingga saat ini.

Secara harafiah, istilah itu berarti keluarkan yang berat. Dapat diartikan buang sial atau mencegah wabah.

Menghadapi penyebaran Corona Virus Dease 2019 (Covid-19) yang saat ini mewabah di dunia, masyarakat Bani-Bani melakukan tradisi ini untuk mencegahnya.

Karena itulah, pada Selasa (24/03/2020), masyarakat Bani-Bani yang terhimpun dalam Suku Naifio, Fio Tae, Manuinfaif, Tae Riu dan Rae Riu melakukan tradisi Napoen Mafena untuk mencegah Covid-19.

Caranya, semua anggota suku diperintahkan untuk mengeluarkan dan mengumpulkan semua barang bekas dari dalam rumah lalu dikumpulkan. Ada yang diisi dalam karung atau barang bekas lainnya yang berwadah besar untuk menampung barang bekas lainnya yang berukuran kecil.

Barang-barang bekas itu berupa ikar, nyiru, bakul, pakaian, dan lainnya.

Untuk pelaksanaan tradisinya, masyarakat Bani-Bani dari suku-suku itu memulainya di batas wilayah Desa Biau dan Desa Tunabesi di Besak. Dari sana, mereka membawa dan memikul barang-barang bekas yang dibawa dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer.

Sepanjang jalan mereka meneriakkan yel-yel: palateeee. Yang lainnya menyambung dengan teriakan: auuuuuu. Ini dimaksudkan, segala sesuatu yang tidak baik dan sangat mengganggu atau membahayakan masyarakat segera menjauh atau keluar meninggalkan kampung.

Sama halnya dengan Covid-19 yang saat ini mewabah di dunia agar segera berlalu atau tidak memasuki wilayah Bani-Bani karena pintunya masuknya sudah ditutup.

Kepala Suku Naifio Blasius Manek yang dihubungi melalui video call, Selasa (24/03) malam, menjelaskan, tradisi Napoen Mafena ini diikuti ratusan warga suku Naifio, Fio Tae, Manuinfaif, Tae Riu dan Tae Riu.

“Semua yang ikut itu laki-laki, tidak ada perempuan”, kata Blasius.

Menurut dia, apa yang dilakukan suku-suku itu untuk menolak wabah penyakit yang ada di pah kaes muti (luar negeri, red) sana.

“Melalui cara ini (Napoen Mafena, red) ada pembebasan untuk kita”, katanya.

Blasius menjelaskan, tradisi ini dilaksanakan dengan mengawalinya dari batas wilayah paling timur di Besak (batas antara Desa Biau dan Tunabesi) dan mengakhirinya di Sungai Bubun, batas wilayah paling barat (batas antara Desa Tunmat di Kabupaten Malaka dan Desa Loeram di Kabupaten Timor Tengah/TTU).

Mengawali dari batas dan mengakhiri di batas wilayah ini, kata Blasius, dimaksudkan sebagai upaya membersihkan atau membebaskan seluruh wilayah suku dari wabah Covid-19 dan wabah lainnya.

Sedangkan tradisi ini dilaksanakan dengan berjalan kaki sambil meneriakkan yel-yel palate, menurut Blasius, dimaksudkan agar seluruh makhluk penghuni bumi dari seluruh arah mata angin ikut bergerak menolak, membersihkan dan membebaskan masyarakat Bani-Bani dari segala wabah penyakit dan bencana.

Setiba di Sungai Bubun, semua barang bekas bawaan warga suku digantung pada tenda-tenda darurat kecil yang mereka buat.

Pada salah satu tenda digantung seekor kambing jantan. Kambing ini ditikam pakai kayu yang sudah diruncing salah satu ujungnya.

“Kambing itu mati atau tidak, kita biarkan di situ. Yang paling penting kita pastikan kambing itu kena tikam. Nanti mati di tempat atau binatang lain yang makan atau ada orang yang ambil atau disapu-bawa air saat terjadi banjir, bukan urusan kita. Kita biarkan”, tandas Blasius.

Blasius yakin, tradisi dengan maksud sama ada di daerah lain pula. Hanya namanya yang beda.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar