oleh

Kesulitan Air, 368 Ha Sawah di Desa Fatoin-Malaka Tidak Digarap Dua Tahun Terakhir

RAYMEA, TIMORline.com-Masyarakat Desa Fatoin di Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kesulitan air untuk mengairi lahan persawahan mereka selama dua tahun terakhir.

Hal ini sangat berdampak. Sebab, sekira 200 warga setempat terpaksa berhenti menggarap lahan seluas 368 Ha dari 836 Ha lahan basah yang mereka miliki.

Kepala Desa (Kades) Fatoin Nursisius Un Naifio yang menerima TIMORline.com di kantornya, Selasa (24/03/2020), menjelaskan, seluruh masyarakat Desa Fatoin hanya menggantungkan hidupnya selama ini dari ratusan hektar lahan basah yang mereka miliki.

Tetapi, selama dua tahun terakhir, warganya kesulitan air. Sehingga, ratusan hektar lahan persawahan mereka dibiarkan, tidak digarap.

Dikatakan, pada akhir tahun 80-an saat Desa Fatoin masih menjadi bagian dari wilayah Desa Bani-Bani yang belakangan menjadi Kecamatan Io Kufeu, Pemerintah Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Bupati Ignatius Sumantri waktu itu membangun Irigasi Raymea.

Irigasi ini mengairi lahan milik warga Dusun Tunuahu yang belakangan menjadi Desa Bani-Bani pascapemekaran wilayah dan Dusun Raymea yang belakangan menjadi Desa Fatoin.

Dalam perkembangan terakhir, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) membangun irigasi serupa di wilayah Desa Susulaku Kecamatan Insana.

Dengan dibangunnya Irigasi Susulaku itu, kata Kades Nursisius, debit air yang terpasok ke Irigasi Raymea berkurang sekali. Sebab, saluran primer Irigasi Susulaku dibangun langsung tersambung dengan saluran primer Irigasi Raymea.

“Pasokan air yang dibendung untuk kedua irigasi itu dari Sungai Biau, debitnya yang masuk ke Irigasi Raymea kurang sekali. Kita punya sawah di sini semuanya kering”, tandas Kades Nursisius.

Untuk mendapatkan uang, kades mantan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Fatoin itu menegaskan, warganya lebih memilih berjualan di pasar dan kerja bangunan di perkotaan.

Sedangkan untuk kebutuhan pangan, diperoleh warga dengan berbelanja di pasar atau toko.

Padahal, sebelumnya warga bisa mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan pangan mereka dari hasil panen padi.

“Jadi, sekarang ini masyarakat setengah mati. Air tidak ada. Orang mau bikin sawah bagaimana. Nanti coba kakak lihat sendiri masyarakat pung sawah”, tandas Kades Nursisius.

Sesuai pantauan TIMORline.com, hamparan areal persawahan yang dimiliki warga Desa Fatoin luas sekali. Tetapi, lahan-lahan itu hanya ditumbuhi rumput. Tanahnya kering. Sepi.

Di beberapa titik, ada beberapa warga yang sedang membersihkan rumput dengan memacul lahannya. Ada juga yang sementara balik tanah menggunakan traktor. Tapi, itu pun mereka hanya memanfaatkan air hujan dari hujan yang mengguyur desa itu tiga hari sebelumnya.

Tampak, ada aliran air di sepanjang saluran. Warnanya keruh sekali. Tetapi, air itu adalah air hujan yang masuk ke saluran saat hujan sebelumnya.

Kades Nursisius berharap Pemerintah Kabupaten Malaka bisa membantu masyarakatnya dengan sumber bor. Sebab, selama ini warganya hanya memanfaatkan Irigasi Raymea. Tetapi, nasib warganya dua tahun terakhir malahan terpuruk.

“Kondisi ini sampai kapan, kita belum tahu”, keluh Kades Nursisius.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar