Jumlah ODP Covid-19 di NTT 165 Orang

KUPANG, TIMORline.com-Pemerintah Propinsi (Pemprop) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Propinsi NTT terus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap penyebaran virus tersebut.

Hingga Rabu (25/03/2020) siang, Orang Dengan Pemantauan (ODP) Covid-19 di NTT sudah mencapai 165 orang.

Hal itu diungkapkan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Propinsi NTT Dr Jemalu Ardi Marius kepada media pers di depan gedung Sasando Kantor Gubernur NTT, Kupang, Jalan Palapa Nomor 52 Kupang, Rabu (25/03/2020).

Marius merincikan, total jumlah ODP sebanyak 165 orang itu naik dari sebelumnya 130 ODP. Dengan sebaran sebagai berikut, Kota Kupang 33 orang, Lembata 5 orang, Manggarai Barat 21 orang, Kabupaten Kupang 4 orang, Sikka 18 orang, TTS 10 orang, Manggarai Timur 6 orang, Flores Timur 2 orang, Malaka 1 orang, Alor 1 orang, Sumba Timur 1 orang, Belu 10 orang, Sumba Barat Daya 13 orang, Ende 8 orang, Manggarai 6 orang, Rote Ndao 6 orang, Sumba Tengah 3 orang, dan Nagekeo 7 orang.

Marius yang adalah Kepala Biro Humas dan Protokol pada Setprop NTT itu mengimbau masyarakat NTT, khususnya mereka yang masuk dalam kategori ODP agar tetap mengikuti Social Distancing sebagaimana yang ditetapkan World Health Organization (WHO).

Mereka juga diingatkan untuk menghindari kerumunan, meniadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, dan jalani isolasi mandiri di rumah, serta menjaga jarak per individu.

Imbauan lainnya diberikan kepada para pejabat agar untuk sementara ini tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang sebagaimana yang disampaikan dalam Maklumat Kapolri.

Terkait rumors adanya satu orang Pasien Dalam Pengawasan atau PDP yang meninggal di Kabupaten Manggarai Barat, Marius menjelaskan, yang bersangkutan negatif Covid-19.

Melalui Marius, Pemprop NTT menyampaikan ucapan belasungkawa bagi keluarga almarhum.

“Yang pasti, orang yang meninggal tersebut berstatus PDP tetapi dia meninggal bukan karena positif Covid-19. Berdasarkan diagnosis dokter dari Rumah Sakit Ben Mboi Ruteng yang menangani pasien tersebut, ternyata meninggal karena adanya komplikasi seperti jantung dan lain-lain,” demikian Marius.

Editor: Cyriakus Kiik (valeri guru/kasubag pers dan pengelolaan pendapat umum biro humas dan protokol setprop ntt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *