NTT Serius Kembangkan Pertanian dan Peternakan dengan Sentuhan Teknologi

KUPANG, TIMORline.com-Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) sangat serius mengembangkan pertanian dan peternakan di Propinsi NTT.

Keseriusan ini ditunjukan Gubernur VBL saat mendampingi sejumlah investor asal Rusia bertemu Menteri Pertanian RI Syahril Yasin Limpo di Jakarta, Jumat (06/03/2020).

“Benar, hari ini Bapak Gubernur VBL bersama para investor dari sejumlah negara termasuk Rusia berdiskusi dengan Menteri Pertanian RI Bapak Syahril Yasin Limpo di Jakarta terkait dengan pengembangan pertanian dan peternakan modern di Propinsi NTT”, tandas Gubernur VBL melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Propinsi NTT Dr. Jelamu Ardu Marius, MSi di Kupang, Jumat malam.

Doktor penyuluh pertanian jebolan IPB Bogor ini lebih lanjut mengatakan, Gubernur VBL mengharapkan pertanian dan peternakan tradisional yang selama ini dikembangkan di Propinsi NTT segera diganti atau dialihkan dengan sentuhan teknologi.

Sebab, pertanian dan peternakan tradisonal sesungguhnya kurang memberikan nilai tambah ekonomis yang signifikan bagi para petani dan peternak.

“Kita harus ubah pola pertanian dan peternakan di NTT dengan sentuhan teknologi modern yang lebih kompetitif dan memberi nilai tambah yang signifikan ke depannya”, jelas Marius.

Para investor asing ini, lanjut mantan Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Propinsi NTT ini, sangat antusias tatkala mereka dipercaya Pemerintah Propinsi NTT untuk mengembangkan pertanian dan peternakan dengan sentuhan teknologi modern.

“Para investor sangat antusias untuk berinvestasi di Provinsi NTT”, kata Marius.

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur VBL selalu menyinggung pengembangan sapi wagyu di Propinsi NTT.

Sapi wagyu, kata Marius, berasal dari Jepang. “Mengacu pada beberapa ras sapi, satu ras di antaranya memiliki kecenderungan genetik berupa pemarmeran (marbling) tinggi dan memroduksi lemak tak jenuh berminyak dalam jumlah besar. Sapi wagyu terkenal karena pola marmer pada dagingnya dan kualitasnya. Kualitas daging sapi ini sangat tinggi dan karena itu sangat mahal harganya”, kata Marius.

Menurut Karo Marius, untuk pengembangan sapi wagyu dibutuhkan “knowlege”, pengalaman, skill dan sentuhan ilmu yang mumpuni.

“Sapi wagyu inilah yang dikembangkan di Jepang dan dagingnya yang berkualitas dan mahal memenuhi berbagai restoran di Jepang dan negara maju lainnya. Jika ini dikembangkan di NTT tentu pakan ternak, kandang dan keseluruhan ekosistem pengelolaannya didesign sebaik mungkin dengan melibatkan para pakar”, kata Marius.

Dia menambahkan, Bapak Gubernur VBL menginginkan para peternak di NTT memelihara dan memiliki sapi wagyu yang harganya satu ekor Rp1 miliar.

Disebutkan, tahun ini Pemprop NTT akan mendapatkan bantuan sperma sapi wagyu dari Kementerian Pertanian RI melalui Dirjen Peternakan.

Editor: Cyriakus Kiik
Sumber: Biro Humas dan Protokol Setprop NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang copy