LPPA: Pengasuhan yang Tepat dapat Menekan Kekerasan Terhadap Anak

BETUN, TIMORline.com-Lembaga Pengembangan dan Perlindungan Anak (LPPA) sebagai mitra Child Fund memiliki banyak program dan kegiatan. Salah satunya adalah pengasuhan.

Program pengasuhan sangat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. “Pengasuhan yang tepat dapat menekan kekerasan terhadap anak”, tandas Mikhael Riu, Project Manager LPPA Malaka sesaat sebelum kegiatan Gebyar Pengasuhan 2020 di Kamanasa Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah, Jumat (14/02/2020).

Mikhael menjelaskan, ada dua pola pengasuhan yang sangat penting dalam perkembangan anak, yakni pola pengasuhan responsif dan pengasuhan positif.

“Dua pola pengasuhan ini penting untuk menjaga pertumbuhan anak menjadi lebih baik dan berkualitas sejak dini”, kata Mikhael.

Dijelaskan, pola pengasuhan responsif ditujukan kepada orangtua yang memiliki anak berusia antara 0-5 tahun.

Dalam pola pengasuhan ini, menurut Mikhael, orangtua didorong untuk membimbing dan mendidik anak-anak sampai anak-anak terdorong sendiri untuk berkembang dan bertumbuh menjadi manusia dewasa secara baik dan berkualitas sejak dini.

Sedangkan pola pengasuhan lainnya adalah pola pengasuhan positif. Pola pengasuhan ini ditujukan kepada orangtua yang memiliki anak berusia antara 6-14 tahun.

“Dalam pola pengasuhan ini, kita lebih banyak mengarahkan orangtua untuk memperkenalkan pengasuhan dalam keluarga dengan cara-cara berkomunikasi yang efektif kepada anak”, kata Mikhael.

Menurut Mikhael, target yang ingin dicapai melalui program pengasuhan positif adalah orangtua dapat mengasuh anak dengan cara-cara positif dan menghindari cara-cara asuh anak dalam keluarga yang cenderung mengarah kepada kekerasan.

Terkait keterlibatan orangtua dalam pengasuhan yang cenderung didominasi kaum perempuan, Mikhael mengakui hal itu. Karena itu, Mikhael berjanji, ke depan pihaknya akan membuat program-program pengasuhan yang melibatkan kaum bapak.

Sebab, di dalam keluarga ada dua pihak, yakni bapak dan ibu. “Supaya berimbang, pengasuhan dalam keluarga harus melibatkan bapak dan ibu, jangan hanya kaum ibu”, kata Mikhael.

Menurut Mikhael, melalui pola pengasuhan responsif, diharapkan dalam keluarga terjadi komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Pola pengasuhan ini juga dapat mengurangi angka kekerasan terhadap anak dalam keluarga.

“Komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak dan suasana keluarga yang aman bagi keluarga dapat memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan anak”, jelas Mikhael.

Menurut Mikhael, pola pengasuhan dalam keluarga yang diikuti dengan perilaku hidup bersih dan sehat disertai asupan gizi yang baik akan membuat perkembangan dan pertumbuhan anak lebih baik.

“Pertumbuhan anak yang terlambat atau anak gagal tumbuh yang dikenal dengan stunting dapat dicegah pula dengan pola pengasuhan”, demikian Mikhael.

Penanggungjawab Program Pengasuhan Responsif Eduardus Leki mengatakan, pengasuhan responsif dimaksudkan agar orangtua lebih dekat dengan anak.

“Kedekatan orangtua dengan anak dapat memberikan perlindungan bagi anak dan menghindari kekerasan dalam keluarga. Di rumah, anak harus mendapat asupan gizi yang baik dan bebas bermain. Bagi anak-anak PAUD, orangtua harus menyiapkan alat peraga untuk menggambar dan bermain”, kata Eduardus.

Eduardus lebih jauh meminta orangtua untuk selalu memberikan rasa nyaman bagi anak di rumah. Sehingga, anak bisa betah bermain di rumah.

“Kalau anak minta uang, jangan langsung bilang uang tidak ada. Kalau anak minta makan harus direspon secara baik. Jangan bilang sabar dulu, bapak masih kerja. Mama masih buat ini. Kalau anak minta uang pun harus disampaikan secara jujur, kita belum punya uang. Jangan disampaikan dengan kata-kata kasar. Nanti anak kecewa dan putus asa”, katanya.

Menurut Edu, dalam catatan LPPA selama ini, di Kabupaten Malaka terutama yang diketahui melalui program pengasuhan, tindak kekerasan yang dialami anak selama ini adalah kekerasan verbal.

“Kekerasan yang terjadi adalah kekerasan verbal berupa kata-kata kasar atau makian. Sedangkan kekerasan fisik tidak ada. Kita tahu itu dari monitoring yang dilakukan saat kunjungan rumah. Kita datang tiba-tiba. Tidak beritahu orangtua lebih dahulu”, kata Edu.

Penanggungjawab Program Pengasuhan Positif Christiani Natalia Banik menjelaskan, ada kelompok-kelompok pengasuhan yang memberikan materi-materi pengasuhan kepada orangtua dan anak.

Kelompok pengasuhan itu ada di tiga desa, yakni Desa Kamanasa, Lakekun dan Lakekun Utara. “Mereka ditangani fasilitator. Yang menjadi target adalah orangtua”, katanya.

Christiani Natalia Banik yang diakrabi Rhisty itu menjelaskan, kegiatan tahunan LPPA adalah kegiatan Gebyar Pengasuhan. Dalam gebyar ini, orangtua dan anak berkumpul kembali untuk mempraktikkan kembali pola pengasuhan dalam keluarga yang sudah berjalan selama ini.

“Orangtua akan bermain dan bermain drama dengan anak. Melalui kegiatan bermain dan bermain drama, kita akan lihat bagaimana hubungan orangtua dengan anak yang dilakukan kelompok-kelompok pengasuhan anak melalui para fasilitator”, tandas Rhisty.

Bagi Rhisty, mengasuh anak dengan pola yang tidak tepat dapat memengaruhi karakter anak. Sehingga, ke depan kalau anak nakal dan tidak menuruti orangtua jangan salahkan anak.

“Kita harap selalu ada pola pengasuhan yang positif. Sebab, pola pengasuhan positif adalah pola pengasuhan yang baik. Kalau orangtua tidak tahu pola pengasuhan yang baik nantinya tidak bisa mengendalikan anak. Sebab, anak-anak sekarang sudah termasuk generasi zet, generasi yang sudah berada di era internet dan media sosial”, kata Rhisty.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang copy