oleh

Prevalensi Stunting di Kabupaten Belu Menurun Setiap Tahun

ATAMBUA, TIMORline.com-Prevalensi atau secara umum jumlah keseluruhan kasus stunting di Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun setiap tahun.

Hal ini diungkapkan Wakil Bupati (Wabup) Belu J.T. Ose Luan saat secara resmi membuka Pertemuan Analisa Situasi Stunting Tingkat Kabupaten Belu di Aula Hotel Nusantara II Atambua, Rabu (05/02/2020).

Dengan mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Wabup Ose menguraikan, penurunan prevalensi balita stunting di Kabupaten Belu bisa dilihat pada capaian prosentase pada 2018 dan 2019.

Pada 2018, prevalensi stunting di Kabupaten Belu sebesar 26,95 persen. Sedangkan pada 2019 menurun menjadi 21,23 persen.

Untuk Propinsi NTT, kata Wabup Ose, prevalensi stunting pada 2013 sebesar 51,7 persen dan pada 2018 menurun menjadi 42,6 persen.

Secara nasional, di Indonesia prevalensi stunting sebesar 37,2 persen pada 2013 dan pada 2018 sebesar 30,8 persen dari target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) Bidang Kesehatan 2019 sebesar 28 persen.

Menurut Wabup mantan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Belu ini, prevalensi stunting di wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara Timor Leste itu apabila penanganan stunting dilakukan secara intens menggunakan pendekatan multisektor dan intervensi yang terintegrasi.

“Strategi utama penurunan stunting adalah pendekatan multisektor dan intervensi terintegrasi. Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan diperlukan untuk mempercepat penurunan angka prevalensi stunting pada anak”, kata Wabup Ose.

Wabup Ose menilai, pendekatan multisektor untuk pencegahan stunting harus dilakukan di semua tingkatan sejalan dengan strategi nasional pencegahan stunting.

Dikatakan, penguatan regulasi pencegahan stunting sangat dibutuhkan untuk meningkatkan koordinasi di antara pemangku kepentingan terkait.

Karena itu, Wabup Ose mengajak seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat untuk bekerja bersama mencegah dan menanggulangi permasalahan stunting di Kabupaten Belu demi tercapainya generasi penerus Belu yang sehat dan berkualitas.

Baca Juga:  Pesta Emas STMK Nenuk Jadi Titik Tumpuan Terbaik menuju Milenium Baru

Pertemuan Analisis Situasi Stunting Tingkat Kabupaten Belu ini untuk membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menentukan program/kegiatan yang diprioritaskan alokasinya dan menentukan upaya perbaikan manejemen layanan untuk meningkatkan akses rumah tangga 1.000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) terhadap intervensi gizi spesifik maupun sensitif.

Hadir pada kesempatan itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Ir. Florianus Nahak, M.Si dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu dr. Joice Manek, MPH.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 5-6 Pebruari 2020.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar