Capun Pratama Lebih Suka Jualan Es Kelapa Muda

SIANG itu, udara cukup terik di atas langit Pantai Motadikin Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). DI bagian timur ada bentangan perairan laut Timor bagian selatan. Di pantai ini, terdapat deretan pondok wisata yang dibangun pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka. Ada pula beberapa rumah panggung.

Puluhan pegawai, tampak sedang mempersiapkan tenda dan dekorasi untuk pelantikan belasan penjabat kepala desa dan kepala sekolah.

Di pojok pintu gerbang, terdapat sebuah gerobak. Di bagian atas depan gerobak ini terdapat tulisan New Es Kelapa Muda Asli. Dua tofles putih tersimpan di atasnya. Satu tofles berisi kelapa muda yang sudah diparut. Tofles lainnya berisi gula air merah.

Beberapa gelas dan puluhan sendok terlihat di samping dua tofles ini. Satu kaleng susu cap enak juga ada di sini.

Capun, sang pemilik gerobak, tampak sibuk melayani tamunya yang datang minum es kelapa muda. Ada bapak-bapak, ibu-ibu dan pemuda.

Terhitung hari ini, Capun akan parkir di pojok pintu gerbang Pantai Motadikin ini hingga 5 Januari 2020.

“Ini su mau natal, bapak. Saya parkir di sini mulai hari ini sampai dengan 5 Januari 2020. Karena pasti ramai”, kata Capun.

Untuk jualan es kelapa muda ini, Capun membeli kelapa muda milik warga sekitar, warga Desa Fahiluka. Harganya Rp1.000,00 per buah. Karena panjat sendiri, orang yang panjat dibayarnya Rp6.000,00 per pohon.

Untuk membuat enak menunya, Capun mencampur es, kelapa muda yang sudah diparut dan gula air merah. Gula air ini dibelinya di pasar dengan harga Rp125.000-150.000 per jerigen berisi lima liter. Untuk konsumen, satu gelas es kelapa muda dijual dengan harga Rp5.000,00.

Capun yang sebelumnya jualan roti keliling mengaku baru bulan ketiga berada di Malaka. Sejak menginjakkan kaki di Malaka, dia lebih memilih jualan es kelapa muda.

Semula, jualannya tidak laku. Orang belum kenal. Dia akhirnya pindah ke depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) kabupaten Malaka di Webua. Memasuki bulan kedua, jualannya sudah dikenal. Terutama para pegawai Dinas PU-PR Kabupaten Malaka.

“Kadang-kadang ramai. Tapi, namanya juga usaha. Penghasilannya naik-turun. Hanya bisa untuk beli susu, es batu, sedot, bayar kos dan makan-minum. Belum apa-apa, bapak”, kata Capun.

Capun sendiri mengaku asli Pulau Solor Kabupaten Flores Timur. Orangtuanya tinggal menetap di Kota Kefa, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Di Kefa, Capun juga jualan es kelapa muda. Tetapi, harga kelapa muda di sana mahal.

“Kalau kelapa mahal begitu, kita jual dapat berapa. Terakhir, saya pilih Malaka. Padahal,  sebetulnya saya mau jadi pegawai negeri.  Tapi,  susahnya kita yang tahu sendiri.  Lebih baik saya jualan es kelapa muda. Tempat yang aman di Malaka. Lebih baik jualan es kelapa muda. Uang yang masuk berapa,  kita tahu memang saat ini”, demikian Capun.

Capun yang mengaku masih jomblo ini baru berumur 33 tahun. Dia belum pikir soal jodoh. “Kalau sudah waktunya, pasti nikah. Tapi, kumpul uang banyak dulu, bapak”, kata Capun merendah.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: bisa copy