oleh

Tenun Ikat Jadi Pelajaran Mulok di SDK Looneke-Malaka

-Pariwisata-172 views

BETUN, TIMORline.com-Mata pelajaran muatan lokal (mulok) belum sepenuhnya dilaksanakan di sekolahan. Antara lain di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tetapi, jauh di pedalaman sana. Ada SDK Looneke di Desa Babotin Kecamatan Botin Leobele. Sejak dua bulan lalu, sekolah ini memberlakukan mulok tenun ikat. Sasarannya adalah 18 murid sekolah tersebut. Enam murid di antaranya murid Kelas V, sedangkan 12 murid lainnya Kelas VI.

Untuk tidak mengganggu jam mata pelajaran lainnya, pihak sekolah di bawah kendali Andreas Lonis selaku kepala sekolah, mata pelajaran mulok dilaksanakan pada setiap Sabtu dalam pekan selama empat jam mulai pukul 08.00-12.00 wita.
“Semua siswa kebagian waktu untuk menenun”, tandas Andreas, sang kepala sekolah yang dihubungi TIMORline.com melalui telepon selulernya, Senin (02/12/2019).
Kepala Sekolah Andreas menjelaskan, tenun ikat menjadi mata pelajaran pilihan mulok di sekolahnya karena tenun ikat merupakan kekayaan budaya lokal yang wajib dilestarikan dan diwariskan kepada anak cucu dari generasi ke generasi.

Andreas menangkap adanya kesan kalau orangtua di kampung-kampung sudah tidak mengajarkan anaknya untuk menenun. Sebab, anak-anak sekarang tidak tahu tenun. Ini beda dengan anak-anak dulu.
“Anak-anak sekolah dulu tahu tenun, tidak seperti anak-anak sekarang. Anak sekolah dulu, kalau pulang sekolah, sehabis makan langsung tenun, diajar oleh mamanya. Setelah itu baru bermain. Beda dengan anak-anak sekarang yang pulang sekolah makan habis langsung bermain sampai malam”, kata Andreas.
Meskipun mata pelajaran mulok menenun ini sudah berlangsung dua bulan, belum ada hasilnya. “Mungkin dua minggu ke depan sudah ada hasilnya. Sebagai langkah awal, anak-anak didampingi ibu-ibu guru untuk tenun selendang. Nanti baru dipikirkan hasilnya mau diapakan”, demikian Andreas.
Untuk menenun, ke-18 murid perempuan itu didampingi empat guru, yakni Maria Un, Maria Uruk Lau, Lusia Metom dan Matildis Teku.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar