oleh

Manajemen PT IDK Ukur Lahan Tambak Garam Warga Desa Motaain-Malaka

BETUN, TIMORline.com-Pihak manajemen PT Inti Daya Karya (IDK), Kamis (14/11/2019), melakukan pengukuran terhadap lahan tambak garam milik warga Desa Motaain Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pengukuran itu dipimpin langsung Manajer Pelaksana PT IDK Kabupaten Malaka Natalia Seuk Seran didampingi salah satu stafnya, pamong adat Desa Motaain dan para pemilik lahan.
Sedikitnya empat pemilik yang lahannya diukur. Mereka tampak senang lahan mereka dijadikan tambak garam. Sebab, lahan tersebut sudah tidak digarap sejak 1974 setelah air laut pasang dan merusak tanaman mereka.

Frans, termasuk salah satu pemilik yang lahannya diukur. Dia bersama pemilik lainnya sudah menanti lama kedatangan PT IDK. Bahkan, mereka sempat bertanya-tanya betul tidak PT IDK mau pakai lahan mereka untuk tambak garam. Sebab, pihak PT IDK beberapa waktu lalu sudah melakukan survei lokasi. Tetapi, belum ada informasi pasti untuk dilakukan pengukuran.
Dari pantauan TIMORline.com, di lokasi ini terlihat hanya ditumbuhi berbagai jenis pohon laut. Lokasi ini letaknya sekira 2-3 kilomerter dari pemukiman warga. Untuk ke lokasi, bisa menggunakaan kendaraan roda dua, empat dan enam. Untuk saat ini, terdapat sebuah jalan darurat yang menghubungkan pemukiman warga dengan calon lokasi tambak garam.
Di lokasi, para pemilik menunjuk batas lahannya masing-masing dengan pemilik lainnya. Pada umumnya, nama yang diketahui hanya nama panggilan kampung. Sedangkan nama lengkap sesuai data kependudukan dan pencatatan sipil belum diketahui pasti. Sehingga, hal ini menjadi tugas pamong adat untuk memastikannya.
Manajer Pelaksana PT IDK Kabupaten Malaka Natalia Seuk Seran di sela-sela melakukan pengukuran, berkesempatan memberikan pencerahan kepada para pemilik lahan yang berdiri atau duduk lesehan di bawah naungan pohon.
Menurut Natalia, lahan petani yang dipakai untuk tambak garam tidak beralih kepemilikannya ke PT IDK tetapi tetap menjadi milik petani bersangkutan.
“Sistem yang digunakan adalah sistem sewa dan bagi hasil. Semuanya diatur dalam kontrak kerja antara pemilik lahan dan perusahaan”, jelas Natalia.

Natalia juga menegaskan, lahan tambak garam yang dipakai perusahaan adalah lahan yang diserahkan pemiliknya secara sukarela yang dibuktikan dengan berita acara dan rekomendasi dari kepala desa setempat.
“Bagi pemilik lahan yang tidak mau menyerahkan lahannya, perusahaan tidak ganggu. Tetapi, kita tetap melakukan pendekatan kepada mereka yang tidak mau menyerahkan lahannya. Sesuatu yang baru pasti tanggapan orang macam-macam. Nanti orang dapat hasil baru yang lain tahu”, kata Natalia.
Wilayah Desa Motaain termasuk Zona 3B kawasan tambang tambak garam PT IDK. Selain Motaain, zona ini termasuk Desa Umatoos dan Fafoe.
Target lahan yang dibutuhkan untuk zona ini 360 hektar. Hingga saat ini, lahan yang sudah dibebaskan 261,49 hektar. Area yang masih dalam upaya pembebasan 15,36 hektar, area yang akan mendapat kompensasi Tahap IX seluas 14,54 hektar dan area yang belum teridentifikasi seluas 68,53 hektar.
“Ini ada petanya. Siapa mau kasih lahannya, kita terima dan ukur. Siapa yang tidak mau, kita tidak paksa tetapi kita terus melakukan pendekatan”, kata Natalia sambil memperlihatkan peta kepada pemilik lahan dan media.
Dari pengukuran yang dilakukan terakhir, Kamis (14/11), hasil yang diperoleh sekira 2-3 hektar, milik empat warga Desa Motaain.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar