Satgas Pamtas Bima Sakti Tolak Suap Pelintas Batas Negara

EBAN, TIMORline.com-Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/BS menolak uang suap yang diberikan Pelintas Batas Negara di Desa Tasinifu Kecamatan Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Rabu (13/11/2019).
Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/BS Letkol Inf Wisyudha Utama mengungkapkan, kejadian tersebut berawal dari pelintas batas dari Timor Leste yang akan melintas ke Indonesia.
Kedatangan mereka itu untuk melakukan ritual adat bakar lilin atau berdoa bagi para arwah yang akan dilangsungkan di makam keluarga atau kerabat mereka yang telah meninggal.
Warga Timor Leste asal Distrik Ambeno yang henda melintas ke Indonesia itu sebanyak 23 orang. Mereka diterima Danpos Aplal secara bersamaan dan kepada mereka diberikan izin memasuki wilayah Indonesia selama tiga hari.
Komandan Pos (Danpos) Aplal Letda Inf Sumarlin Nasution yang pada saat itu berada di pos bersama anggota menyambut langsung para pelintas batas tersebut di Pos Penjagaan. Bahkan, satu jam sebelum kedatangan mereka, pihak UPF (Kepolisian Timor Leste) terlebih dahulu sudah melakukaan laporan tentang warganya yang akan melintas.
Tiba-tiba, dari kerumunan warga muncul Makarius Colo (46), salah satu pelintas batas negara. Dia menyodorkan uang tunai lebih kurang senilai Rp800.000,00 kepada Danpos. Danpos kemudian menanyakan maksud pemberian uang itu. Colo kemudian bilang uang itu uang administrasi untuk mendapatkan izin melintas batas.
Hal itu sangat mrngagetkan Danpos bersama anggotanya. Uang itu langsung ditolak. Sebab, menurut Danpos Sumarlin, pemberian uang seperti itu termasuk kolusi korupsi dan nepotisme (KKN).
“KKN itu hal terlarang dalam instansi TNI maupun instansi mana pun”, tandas Danpos Aplal Sumarlin.
Terhadap kasus ini, Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/Bima Sakti Letkol Inf Wisyudha Utama menegadkan, pemberian uang suap tersebut merupakan perbuatan terlarang.
“Semoga kejadian ini menjadi contoh bagi masyarakat lain yang ingin melewati pos lintas batas negara. Tetapi, untuk memasuki wilayah Indonesia, wajib ada izin baik izin orang maupun barang. Jika semua sudah menenuhi syarat, silahkan masuk wilayah kami, kapan saja”, demikian Letkol Wisyudha.
Penulis/Editor:Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: bisa copy