Bila Ada Hukuman yang Lebih Tinggi di Atas Hukuman Mati, Pemuda Malaka: Berikanlah Itu kepada Kades Babulu Selatan dkk

BETUN, TIMORline.com-Sejak foto dan video tindakan sadis Kepala Desa Babulu Selatan Paulus Lau bersama warganya yang ditimpakan kepada Novidina Baru yang berumur 16 tahun viral di media sosial, tanggapan beragam muncul dari masyarakat Indonesia terutama masyarakat Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pihak Polres Belu yang saat ini sudah menahan Kades Paulus Lau dan enam warganya untuk kepentingan proses hukum lebih lanjut, diminta untuk mengenakan pasal berlapis dan hukuman yang seberat-beratnya kepada sang kades dan enam warganya.
Sebab, dalam penyidikan penyidik Polres Belu terungkap, Kades Paulus bersama enam warganya dan korban Novidina mempunyai hubungan keluarga sangat dekat. Korban Novidina Baru adalah anak dan cucu para pelaku.
Oleh adanya hubungan keluarga seperti itu, tokoh pemuda Malaka Pieter Raibesi yang dimintai pendapatnya di Betun, Sabtu (02/11/2019), meminta Majelis Hakim yang nantinya menangani perkara ini untuk memberikan pasal berlapis dan hukuman yang seberat-beratnya kepada Kades Paulus dan enam warganya.
Pieter menilai, tindakan Kepala Desa Babulu Selatan dan kawan-kawan (dkk) di luar batas ketentuan hukum Indonesia dan di luar batas kemanusiaan. Berarti tidak ada hukuman yang pas untuk mereka karena sangat biadab atau tidak berperikemanusiaan.
Sehingga, menurut Pieter, Kades Paulus dkk harus dihukum menggunakan hukuman di luar hukuman yang diakui hukum Indonesia dan jauh dari pertimbangan kemanusiaan.
“Sebagai mama, bapak, nenek atau kakek, kepala desa dan pelaku lainnya yang bilang punya hubungan keluarga sangat dekat dengan korban, mestinya lebih bersikap protektif atau melindungi korban. Sebab, membina korban yang adalah anak atau cucu, tidak harus dengan hati penuh dendam. Kalau seperti itu, pasti sewenang-wenang, main hakim sendiri dan tidak berperikemanusiaan”, tandas Pieter.
Menurut Pieter, tindakan Kades Paulus dan warganya mestinya sejak awal diselesaikan secara kekeluargaan melalui cara didenda adat atau diproses hukum dengan melaporkan kasusnya ke polisi. “Kalau warga tidak tahu mekanisme penyelesaian masalah yang baik, tanyakan kepada polisi. Di desa itu ada Bhabinkamtibmas. Kenapa tidak tanya atau libatkan Bhabinkamtibmas. Yang mengherankan, pelaku utamanya justru kepala desa. Memangnya kepala desa tidak tahu prosedur menyelesaikan masalah? Kalau memang demikian, kepala desa diberhentikan saja dari jabatannya”, tandas mantan aktivis mahasiswa Universitas Timor ini.
Pieter menduga Kades Paulus dkk memperlakukan korban Novidina secara berencana dengan cara mengait-kaitkan perbuatan korban dengan masalah lain. Atau bisa juga karena keluarga korban termasuk orang susah di desa yang selalu mendapat cap tidak baik dari tetangga. Sehingga, kalau terjadi masalah di desa, yang selalu dituduh adalah keluarga korban.
“Kalau perbuatan itu berencana, saya minta hakim menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya yang setimpal dengan perbuatan para pelaku. Sebaiknya mereka juga merasakan strum listrik dan digantung di kuda-kuda rumah seperti yang dialami korban”, demikian Pieter.
Korban Novidina Baru, 16 tahun, diduga mencuri cincin emas milik tetangganya, Rince Molin, pada Rabu 16 Oktober 2019. Dugaan itu kemudian dilaporkan kepada Kepala Dusun Beitahu Margaretha Hoar. Sejak laporan Rince ini terungkap, Novidina selaku terduga dihakimi warga, perangkat desa dan Kepala Desa Babulu Selatan secara sadis. Selain dipukul pakai tangan kosong dan kayu, korban ditendang pula. Korban bahkan diduga kuat disetrum dan digantung menggunakan tali nilon pada kuda-kuda Posyandu Dusun Beitahu pada keesokan harinya, Kamis 17 Oktober. Cara ini diduga kuat digunakan para pelaku untuk menekan korban guna mendapatkan pengakuannya.
Saat ini, Kades Babulu Selatan Paulus Lau bersama enam warganya sedang diproses hukum di Polres Belu. Enam tersangka lainnya adalah Margareta Hoar, Marselinus Ulu, Dominikus Berek, Eduardus Roman, Benediktus Bau dan Hendrikus Kasa.
Untuk kepentingan proses hukum, pihak kepolisian telah menyita sejumlah bukti. Antara lain satu buah kursi plastik warna biru merk wapolin, satu utas tali nilon warna biru berukuran panjang kurang lebih lima meter dan satu batang kayu damar merah berukuran sekira 40 sentimeter.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *