Puan Maharani, Perempuan Pertama yang menjadi Ketua DPR RI

PUAN Maharani, dikenal masyarakat Indonesia akhir-akhir ini sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Kabinet Kerja Periode 2014-2019.
Selidik punya selidik, Puan adalah anak pertama pasangan Taufik Kiemas-Megawati Soekarnoputri. Taufik adalah mantan Ketua MPR RI, pencetus Empat Pilar Kebangsaan. Sedangkan Megawati adalah mantan Presiden RI, anak puteri besar Presiden RI pertama Soekarno.
Puan sendiri adalah lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Darah politik istri Happy Hapsoro itu mengalir dari kakeknya Soekarno atau Bung Karno dan ayah-ibunya Taufik Kiemas-Megawati.
Puan lahir di Jakarta pada 6 September 1973. Pada periode 2009-2014, Puan menjabat Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI. Terlahir dalam keluarga politisi membuat ia sejak kecil sudah terbiasa dengan hingar-bingar panggung politik. Kini, ia semakin mantap terjun ke panggung politik.
Dalam kampanye di Jawa Timur beberapa tahun lalu, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri secara resmi memperkenalkan putri tunggalnya, Puan Maharani, sebagai penerusnya.
Pada masa pemilihan presiden 2009, Puan terlibat aktif di Mega Center, lembaga yang menangani pemenangan Megawati jadi presiden, walaupun menurutnya posisinya itu hanya sebagai observer.
Hal ini memang tidak mengherankan. Sebab, saat ibunya, Megawati, menjadi Presiden RI pada Periode 2001-2004, ia selalu berada di samping ibunya, baik saat melakukan kunjungan resmi ke daerah maupun ke luar negeri. Sehingga tanpa disadari, aktivitas itu telah memperkenalkan Puan Maharani ke panggung politik.
Dengan mendampingi sang bunda, Puan semakin familiar di kalangan masyarakat, teristimewa pada masyarakat politisi.
Di samping melakukan kunjungan-kunjungan, istri dari Happy Hapsoro ini pun beberapa kali pernah dipercaya sang ibu melakukan kegiatan sosial. Dari situ, ia juga belajar banyak mendekati ‘wong cilik’.
Namun, Puan sendiri tampak ingin membuktikan bahwa dirinya mampu dan layak menjadi politisi handal sekaligus jadi wakil rakyat yang bertanggungjawab tanpa melihat faktor dari nama besar kedua orangtuanya.
Terlepas dari urusan gender, Puan sebenarnya menginginkan PDIP diisi orang-orang yang kompeten dan mempunyai integritas tinggi. Ia percaya PDIP bisa terus berkembang jika dikelola orang-orang profesional yang memiliki kesamaan visi, misi dan ideologi.
Editor: Cyriakus Kiik
Sumber: merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *