Jembatan Presiden BJ Habibie, Tanda Terimakasih Rakyat Timor Leste kepada Indonesia

PRESIDEN BJ Habibie menjadi salah satu tokoh yang patut dikenang masyarakat Timor Leste. Ini semata keberaniannya memutuskan referendum yang menentukan nasib Timor Timur. Hal yang takkan pernah terlupakan. Bahkan, tercatat dalam sejarah negeri bernama Timor Leste itu menggunakan tinta emas.

Bagaimana tidak, bertepatan dengan peringatan 20 tahun referendum pada 29 Agustus 2019 lalu, Pemerintah Timor Leste meresmikan sebuah jembatan di Desa Bidau Sant’ana, Dili, yang diberi nama BJ Habibie. Jembatan ini dibangun dan diberi nama Jembatan Presiden B.J. Habibie sebagai bentuk penghormatan terhadap B.J. Habibie.
Peresmian jembatan ini dilakukan Menteri Pekerjaan Umum Timor Leste dan dihadiri Menteri PUPR RI sekaligus memberi sambutan atas nama Presiden RI Joko Widodo.
Panjang jembatan tersebut sekira 540 meter dengan lebar 8 meter dua jalur menghabiskan anggaran sekitar 3,9 juta dollar AS.
Menteri PUPR RI Basuki Hadimoeljono dalam sambutannya atas nama Presiden Joko Widodo mengatakan, pembangunan dan peresmian jembatan tersebut menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagi pemerintah Indonesia dan presiden BJ Habibie sebagaimana disiarkan kompasiana.com.
Sebetulnya, keputusan untuk menyelengarakan referendum 20 tahun lalu memang bukan hal yang mudah. Di satu sisi sudah banyak anggaran yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk membangun Timtim dengan komposisi 93% APBN dan hanya 7% berasal dari APBD.
Namun di sisi lain tekanan internasional semakin menguat pasca krisis moneter yang nyaris melumpuhkan perekonomian Indonesia dan berhasil menumbangkan rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Pak Harto.
Indonesia yang sedang memerlukan dukungan internasional terpaksa harus mengalah untuk tetap mengadakan referendum.
Tepat pada 29 Agustus 1999, referendum dilaksanakan di bawah pengawasan PBB. Hasilnya 78,5% memilih untuk merdeka berbanding 21,5% yang tetap menginginkan bergabung dengan Indonesia.
Pembangunan infrastruktur yang masif di Timtim ternyata tidak menyentuh hati sebagian besar rakyat Timtim. Pendekatan militer untuk mengatasi pemberontakan yang kerap kali terjadi membuat rakyat Timtim hidup dalam ketakutan.
Itulah salah satu poin yang mendasari Habibie memutuskan referendum karena banyaknya persoalan pelanggaran HAM selama Timtim menjadi bagian dari Indonesia. Dari sisi sejarahpun Timtim dijajah Portugal selama lebih dari 450 tahun, berbeda dengan Indonesia yang dijajah Belanda selama 350 tahun.
Sempat ada wacana di kalanganmasyarakat Timor Leste saat itu untuk bergabung dengan Indonesia, Australia atau Portugal.  Kalau boleh memilih, mereka lebih suka bergabung dengan Portugal karena nyaris tidak ada kekerasan terutama setelah memasuki abad ke-20. Portugal modern tak pernah menakut-nakuti rakyat Timtim dengan senjata, sebaliknya dengan Indonesia. Sementara Australia hanya ingin menguasai celah Timor saja, tak lebih dari itu.
Bagi mereka, biarlah negerinya kurang berkembang dibanding Indonesia, tapi bisa hidup bahagia tanpa takut todongan senjata. Infrastruktur memang penting, tapi lebih penting lagi keamanan dan kenyamanan hidup.
Presiden Habibie rupanya memahami hal ini dan memutuskan untuk tetap melaksanakan referendum walau banyak pihak menentang keputusan tersebut.
Keputusan itu berisiko tinggi karena bisa memancing daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Paling tidak Aceh dan Papua sudah masuk daftar tunggu berikutnya.
Syukurlah hal tersebut tidak terjadi walau masih terdapat riak-riak kecil di kedua provinsi tersebut. Aceh berhasil didamaikan pasca tsunami hebat yang melanda propinsi tersebut.
Sementara Papua mengalami pasang surut hingga terakhir kembali memanas pasca kasus di Surabaya yang berujung bentrok di beberapa kota besar di Papua.
BJ Habibie adalah bidan yang melahirkan bayi bernama Timor Leste. Bayi tersebut sekarang telah berusia 17 tahun sejak resmi menjadi anggota PBB tanggal 20 Mei 2002. Ibarat manusia, usia tersebut sedang matang-matangnya menuju masa dewasa setelah meninggalkan masa remajanya.
Kedewasaan tersebut tampak dari pemberian nama jembatan sebagai sebuah penghormatan yang luar biasa dari negara lain.
Sejauh ini hanya nama Soekarno saja yang diabadikan menjadi nama jalan di negara lain seperti Maroko dan Mesir karena beliau juga turut andil dalam kemerdekaan negeri-negeri tersebut.
Terlepas dari kontroversi yang mengiringi jajak pendapat 20 tahun lalu, presiden Habibie telah meletakkan dasar-dasar demokrasi yang kuat untuk Indonesia. Partai politik berkembang pesat tidak hanya didominasi Golkar seperti pada masa orde baru.
Reformasi juga merupakan buah tangan beliau walau kadang sering dianggap kebablasan. Tanpa reformasi belum tentu Indonesia seperti sekarang ini di mana rakyat lebih bebas mengemukakan pendapat selama dapat dipertanggungjawabkan. BJ Habibie lebih layak menjadi bapak reformasi ketimbang tokoh lainnya.
Editor: Cyriakus Kiik
Sumber: kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *