oleh

Pemkab Malaka Desak Pengusaha Hentikan Penggusuran Lahan Warga Rainawe

BETUN, TIMORline.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka mendesak oknum pengusaha setempat untuk menghentikan penggusuran lahan warga Desa Rainawe Kecamatan Kobalima. Desakan itu disampaikan melalui Pemberitahuan tertulis yang  ditandatangani Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Malaka Donatus  Bere, SH.

Sekkab Donatus mengungkapkan hal itu kepada TIMORline.com di hadapan warga korban penggusuran di depan pintu masuk Kantor Bupati Malaka, Selasa (03/09/2019).

Sekkab Donatus memastikan hal itu setelah mendapat pengaduan warga korban penggusuran pada Senin (02/09) dan Selasa (03/09/2019). Dalam pengaduan warga korban pada Senin (02/09),  salah satu oknum pengusaha yang diketahui warga bernama Benny Chandra, menggunakan alat berat menggusur lahan garapan warga Desa Rainawe.

Di atas lahan bekas erfak atau hak guna bangunan zaman Belanda itu disebut-sebut terdapat berbagai jenis tanaman umur pendek dan panjang milik warga. Bahkan, sebagian lahan warga di luar areal ini juga turut digusur.  Ada tanaman umur pendek seperti ubi kayu, jagung dan pisang. Sedangkan tanaman umur panjang, ada jati, lontar, mahoni dan kelapa.

Atas pengaduan itu, Sekkab Donatus langsung memerintahkan Asisten II Silvester Leto dan Kepala Satuan (Kasat) Polisi Pamong Praja (Pol PP) Daniel Bria mendatangi langsung Tempat Kejadian Perkara (TKP). Di TKP, kedua pejabat ini bersama anggota tim menemukan fakta benar adanya  penggusuran lahan warga. Langkah yang dilakukannya Asisten Silvester dan Kasat Daniel bersama timnya adalah bertemu dan memintai keterangan warga korban. Selain itu, dicek pula batas-batas lahan hak guna bangunan zaman kolonial Belanda yang disebut-sebut diklaim Benny Chandra sebagai lahan warisan orangtuanya. Hasilnya, ditemukan adanya empat pilar batas lahan erfak dimaksud.

Penggusuran lahan warga Desa Rainawe Kecamatan Kobalima Kabupaten Malaka yang disebut-sebut dilakukan Benny Chandra, salah satu pengusaha di Kabupaten Malaka.

Fakta yang ditemukan di lapangan ini kemudian dilaporkan Asisten Silvester dan Kasat Daniel bersama timnya kepada Sekkab Donatus. Atas laporan itu, Sekkab Donatus langsung mengeluarkan pemberitahuan secara tertulis kepada Benny Chandra untuk menghentikan semua aktivitasnya di TKP.

Menurut Sekkab Donatus, pemberitahuan tertulis itu disusul dengan panggilan tertulis kepada warga korban penggusuran dan Benny Chandra pada hari itu pula, Senin (02/09). Dalam surat panggilan itu, Pemkab Malaka bersedia memediasi para pihak pada hari berikutnya, Selasa (03/09).

“Pemerintah mau dengar keterangan masing-masing pihak, sehingga kita panggil mereka. Tetapi, kau (wartawan, red) lihat sendiri. Benny tidak datang. Kalau Benny tidak datang, kita mau pertemuan dengan siapa, mau pertemuan apa. Jadi, kamu yang datang ini, pulang saja”, kata Sekkab Donatus kepada TIMORline.com sambil memberi isyarat kepada warga korban menggunakan tangan untuk pulang rumah.

Warga korban penggusuran ini datang di Kantor Bupati Malaka sekira pukul 10.00 wita. Mereka ingin bertemu Bupati Malaka Stefanus Bria Seran sesuai panggilan  Pemkab Malaka. Tetapi, hingga pukul 13.30 wita, pihak Benny Chandra tidak datang. Sehingga, oleh Sekkab Donatus, warga korban disuruh pulang. Atas penjelasan singkat Sekkab Donatus ini, warga pun pulang.

Asisten II Silvester Leto yang dikonfirmasi TIMORline.com menjelaskan, tindakan penggusuran yang dilakukan Benny Chandra sangat menyayat hati warga. Yang membuatnya  sedih adalah tanaman warga yang masih ada di atasnya juga digusur. “Ada ubi, jagung dan pisang. Ini mereka punya makanan hari-hari. Kalau digusur, mereka makan apa. Ini buat mati mereka (warga,red)”, demikian Silvester.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Komentar