oleh

Bupati Malaka Didatangi Warga Korban Gusuran Oknum Pengusaha

BETUN, TIMORline.com-Bupati Malaka Stefanus Bria Seran didatangi puluhan warga Desa Rainawe Kecamatan Kobalima Kabupaten Malaka. Mereka adalah para korban penggusuran Benny Chandra, salah satu oknum pengusaha di wilayah ini.

Sekira pukul 10.00 wita, para warga  tiba di Kantor Bupati Malaka. Mereka lapor diri di bagian piket yang terdiri dari beberapa anggota Polisi Pamong Praja (Pol PP).  Dilanjutkan dengan pengisian buku tamu. Mereka kemudian diarahkan masuk dan menunggu di ruang tunggu.

Tampak mendampingi warga adalah Sekretaris Desa Rainawe Pius Mau Ati, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Hendrikus Meo dan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kobalima Yosef Kornelis Bouk.

Ada pun warga  korban penggusuran yang ikut serta. Antara lain Valentinus Seo Mau, Dominggus Raja, Klemens Siku, Holofermus Loe dan Fransiska Soi.

Setelah menunggu beberapa lama, para warga  mendapat informasi dari para pegawai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka bahwa Bupati Malaka Stefanus Bria Seran sedang tidak berada di tempat. Bupati mantan Kadis Kesehatan Propinsi NTT ini dikabarkan sedang berada di luar daerah untuk urusan dinas.

Para warga kemudian diberitahu kalau mereka akan bertemu dengan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Malaka Donatus Bere. Namun para pegawai Pemkab mengingatkan  warga untuk bersabar. Sebab, saat bersamaan, Sekkab Donatus masih memimpin rapat di Aula Utama Kantor Bupati Malaka.

Selain Bupati Stefanus tidak ada di tempat, Benny Chandra selaku  pelaku penggusuran, tidak datang. Padahal, pada Senin (02/09/2019/, baik pihak korban penggusuran maupun pelaku penggusuran sudah dipanggil secara patut oleh pihak Pemkab Malaka.

“Tetapi, kamu bisa lihat sendiri saat ini. Masyarakat Desa Rainawe yang menjadi korban datang tetapi Benny tidak datang. Kalau Benny tidak datang begini, kita mau buat apa. Kita mau pertemuan dengan siapa”, tandas Sekkab Donatus.

Penegasan Sekkab Donatus ini disampaikan kepada warga Desa Rainawe, sekaligus meminta mereka pulang. Namun, kepada warga diingatkan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan melawan hukum.

“Kalau Benny Chandra mau gusur, silahkan. Mau buat apa saja, silahkan. Tetapi, bupati sudah memberikan surat pemberitahuan kepada Benny untuk menghentikan sementara semua aktivitas di lokasi”, kata Sekkab Donatus.

Sekkab mantan Kabag Humas pada Setkab Belu ini mengaku tahu baik sejarah lokasi penggusuran. Sebab, awalnya, lokasi itu merupakan hak erpakh atau hak guna bangunan pada zaman Belanda.  Setelah Indonesia merdeka, lokasi itu dikembalikan ke pemerintah Indonesia pada 1980. Selanjutnya, lokasi tersebut menjadi milik pemerintah dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Asisten II pada Setkab Malaka Silvester Leto kepada TIMORline.com menjelaskan, masalah penggusuran tanaman umur pendek warga Rainawe itu sangat menyedihkan. Sebab, berbagai  tanaman warga  digeruduk alat berat. Antara lain kelapa, pisang, tuak, jati dan mahoni.

Saat datang mengadu di Kantor Bupati Malaka pada Senin (02/09), para korban menangis di hadapan Asisten Silvester. Setelah memintai keterangan warga, hasilnya dilaporkan kepada Bupati Stefanus. Atas laporan itu, Bupati Stefanus langsung memerintahkan Asisten Silvester bersama Kasat Pol PP dan anggotanya turun ke lokasi.

Di lokasi, semua warga korban yang bertemu dengan Tim Kabupaten ini pada menangis. Mereka tunjukkan tanaman umur pendek seperti ubi kayu yang siap panen yang sudah digusur.

“Kalau ubi ini digusur, mereka mau makan apa. Ini makanan mereka sehari-hari. Kalau digusur seperti itu, mereka mati. Paling tidak omong baik-baik dengan warga. Biarkan mereka panen dulu. Setelah itu, silahkan gusur. Ini sudah melanggar hak sosial ekonomi masyarakat”, tandas Asisten Silvester.

Setelah bertemu dan mendengar rintihan  warga, Asisten Silvester mengaku bersama-sama dengan warga korban mengecek langsung pilar batas antara lahan yang digarap warga dan lahan yang diklaim Benny Chandra sebagai warisan ayahnya.

Dari empat pilar yang ditemukan, ada satu pilar yang nyaris tidak ada lagi karena sudah longsor ke kolam. Tetapi, mulai dari pilar ini ada batas jelas berupa pohon reo yang ditanam sejajar menuju  pilar lainnya. Ternyata ada sebagian lahan yang digusur Benny itu milik warga pribadi. Tidak termasuk lahan klaiman Benny.

Valentinus Seo Mau, salah satu korban penggusuran mengaku sejumlah tanaman umur panjang miliknya digusur dengan sangat menyedihkan. Ada  jati satu hamparan yang jumlahnya tidak diketahui pasti karena tumbuh sendiri. Ada pula pohon kelapa sekira  80 pohon. Lahannya jauh dari lahan yang diklaim Benny.

Fransiska Soi, korban lainnya mengaku sudah korban yang ketiga kalinya. Sebab, Chandra Efendy yang adalah ayah kandung Benny Chandra pernah memroses warga setempat di pengadilan secara pidana dan 12 orang harus masuk penjara pada 1996. Antara lain Adam Yos Mau, Petrus Bere Ulu, Nikolas Bere, Emanuel Mau, Yeremias Seran, Wilhelmus Bere dan Alex Raja.

“Setelah bersidang 12 kali tanpa menghadirkan pelaku dan korban, tiba-tiba keluar putusan pengadilan yang menyatakan 12 warga Rainawe bersalah melakukan penyerobotan dan dinyatakan  masuk penjara”, tandas Fransiska.

Fransiska menyebutkan, warga pernah  korban pula pada 2007 dengan tuduhan penyerobotan dan pengrusakkan. Saat itu, Benny Chandra membawa anakan pisang, kelapa, mahoni dan jati untuk ditanam di lokasi. Setelah tahu itu,  masyarakat cabut semua anakan yang baru ditanam. Tiga warga Rainawe kemudian dilaporkan ke polisi, diproses hukum dan dijatuhi hukuman penjara. Ketiga warga itu adalah Marselus Saba Manek Bere (Kepala Desa Rainawe saat itu), Bonafasius Bau (anggota BPD) dan John Kenenbudi.

 

Terhadap masalah ini, menurut Sekkab Malaka Donatus Bere, Bupati Malaka Stefanus Bria Seran sudah membuat pemberitahuan kepada Benny Chandra untuk menghentikan segala aktivitasnya  di lokasi. Atas dasar itu, pihak Pemkab Malaka memanggil para pihak baik pihak Benny Chandra maupun warga korban untuk dicarikan solusi terbaik pada Selasa (03/09). Tetapi, pada Selasa (03/09), pihak yang datang memenuhi panggilan Pemkab Malaka hanya warga korban, sedangkan pihak Benny Chandra tidak hadir. Warga korban kemudian disuruh pulang, sambil menunggu panggilan Pemkab Malaka berikutnya.

Dua warga korban, Fransiska dan Ita, berharap Pemkab Malaka dan pihak terkait bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. “Kalau warga dituduh serobot tanah dan merusak tanaman milik  Benny dan berakhir di penjara, kenapa Benny yang menggusur tanaman kami tidak diapa-apakan”, demikian Fransiska diamini Ita.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Komentar