oleh

Djafar Ngabalin: Negara Gagal Sentuh Persoalan Papua

-Nusantara-36 views

JAKARTA, TIMORline.com-Tokoh pemerhati pendidikan Djafar Ngabalin menilai pemerintah belum berhasil mengurai persoalan yang ada di Papua. Masalah pendidikan termasuk salah satu penyebab paling krusial yang hingga kini belum mampu tersentuh dengan baik.
“Persoalan yang terjadi di Surabaya dan Malang beberapa hari terakhir ini yang selanjutnya memicu konflik di Papua berpangkal pada masalah pendidikan,” kata Djafar Ngabalin saat menyampaikan materi dalam diskusi yang diselenggarakan Asosiasi Jurnalis Indonesia Timur (AJIT), bertajuk “Indonesia Timur Bersuara” di Balai Pustaka, Jakarta, Minggu (25/08/2019).
Menurut pria asal Fakfak itu, persoalan Papua adalah persoalan yang kompleks. Sehingga orang tidak bisa memandang Papua hanya sekadar meraba-raba apa yang tampak di depan.
Menurut Djafar, Papua memiliki kompleksitas masalah yang jauh melampaui persoalan fisik (identitas). “Soal keadilan yang belum mampu disentuh. masalah pemerataan pembangunan yang masih menyisakan persoalan dan segudang ketimpangan sosial lainnya adalah endapan masalah yang perlu dikuak dengan baik oleh para penguasa,” tandasnya.
Bagi Djafar, pendidikan merupakan ujuk tombak dalam menyelesaikan masalah di Papua. “Salah satu tujuan pendidilkan nasional adalah mengangkat peradaban kita. Persoalan besar ini belum mampu kita selesaikan di bumi Papua,” ingat Djafar.
Djafar juga melihat narasi besar tentang pemindahan ibukota negara patut dikritisi lebih jauh dalam kaitannya dengan konflik yang terjadi di Papua.
“Saya ingin menyoroti satu isu terakhir ini yang terjadi di Fakfak. Apakah ada kaitannya dengan prmindahan ibukota?” tanya Djafar dengan nada serius kepada peserta yang hadir dalam acara diskusi.
Baginya, sumbu di balik temali persoalan ini juga berkaitan erat dengan belum tuntasnya prinsip kebijakan total. Ini semua bertumpu pada fungsi kekuasaan yang tidak berjalan optimal.
“Apa yang ingin saya sampaikan, ternyata kekuasaan itu digunakan untuk mengumpulkan kekayaan, bukan sebaliknya demi kemaslahatan bersama,” demikian Djafar.
Editor: Cyriakus Kiik

Komentar