oleh

Forpelita Belu Desak UAS Klarifikasi dan Minta Maaf kepada Umat Kristen dan Katolik

-Nusantara-36 views

ATAMBUA, TIMORline.com-Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama (Forpelita) mendesak Uztad Abdul Somad (UAS) segera mengklarifikasi dan meminta maaf kepada umat Kristen dan Katolik.
Desakan itu menyusul viralnya video rekaman UAS yang diduga kuat mengandung penistaan agama. Sebab, dalam video tersebut, UAS diduga sebut-sebut Salib yang menjadi simbol umat Kristen dan Katolik ada jin kafir.
Hal itu disampaikan Forpelita dalam konferensi pers di Timor Hotel Atambua, Belu, Senin (19/08/2019).
Ketua Forpelita Kabupaten Belu Hironimus Mau Luma di hadapan wartawan mendesak UAS segera mengklarifikasi dan meminta maaf secara terbuka kepada umat Kristen Protestan dan Katolik di seluruh Indonesia.
Selain itu, pihak Kepolisan Republik Indonesia didesak segera menindaklanjuti laporan berbagai elemen atas video UAS yang menyebutnya ada jin kafir.
Pernyataan sikap ini disertai dengan beberapa harapan bagi masyarakat Kabupaten Belu, wilayah Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.
Dalam harapan-harapan itu, Forpelita Kabupaten Belu meminta semua umat beragama di wilayah ini tetap menjaga kerukunan yang sudah terjalin baik selama ini dan tidak terprovokasi atas beredarnya video UAS.
Setiap lembaga agama baik Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha maupun Kong Hu Chu dan aliran kepercayaan lainnya untuk saling menjaga keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia pada umumnya dan Kabupaten Belu pada khususnya.
Setiap lembaga agama juga diharapkan mengawasi ajaran setiap pemuka agamanya untuk tetap mengutamakan pesan-pesan kedamaian, bukan kebencian.
Forpelita juga mengharapkan semua tokoh agama tidak mengajarkan umatnya membenci agama lain karena akan mengganggu kerukunan umat beragama dan persatuan bangsa Indonesia.
Dalam konferensi pers ini, Ketua Forpelita Kabupaten Belu Hironimus Mau Luma yang biasa diakrabi Ronny ini didampingi Wakil Ketua Forpelita Jamli Lukriant dan Ketua Seksi Kepemudaan Nur Ahmad.
Jamli mengharapkan masyarakat Kabupaten Belu tetap menjaga kerukunan, keharmonisan dan keberagaman yang sudah berjalin baik di Indonesia pada umumnya dan Kabupaten Belu pada khususnya.
Jamli bahkan menegaskan, kerukunan, keharmonisan dan keberagaman di Kabupaten Belu merupakan contoh peradaban keagamaan di Indonesia. Sehingga, masyarakat Indonesia diminta tidak segan-segan belajar tentang kerukunan, keharmonisan antarukat beragama dan keberagaman di Kabupaten Belu.
“Kita tidak boleh saling membeda-bedakan, orang Belu, Jawa dan Bugis. Yang ada di Belu ini adalah orang Belu kelahiran Jawa, Bugis, Sumatera, dan lainnya”, demikian Jamli.
Hal senada disampaikan Nur Ahmad, Ketua Seksi Kepemudaan Forpelita. “Kita ini satu. Dari Sabang sampai Merauke. Jangan beda-bedakan. Mari kita jaga dan kawal bersama kerukunan umat beragama yang sudah berjalin baik selama ini”, seru Nur.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar