2030, 68 Persen Usia Produktif Jadi Penyangga Ekonomi Indonesia

BETUN, TIMORline.com-Diperkirakan sekira 68 persen usia produktif yang lahir pada saat ini akan menjadi penyangga ekonomi Indonesia pada 2030. Sehingga, perlu ada upaya pencegahan munculnya sumber daya manusia yang kompeten ketika menghadapi bonus demografi pada 2030.
Hal itu terungkap dalam rilis Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI di sela-sela Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat di Aula Hotel Ramayana, Betun, Rabu (14/08/2019).
Edwina Nurochtaviani dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik pada Kemenkominfo RI menjelaskan, saat ini di Indonesia masih banyak remaja yang belum peduli dan belum mendapatkan akses edukasi yang baik mengenai kesehatan dan kebutuhan gizi mereka.
Diungkap pula bahwa banyak ditemukan kasus remaja kurang memperhatikan gizinya. Banyak pula remaja puteri menjalani diet tidak sehat karena terobsesi memiliki tubuh langsing.
“Kondisi ini memicu kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga mengakibatkan terjadinya anemia. Anemia bisa memperburuk kondisi dan bila gizi remaja puteri tidak diperbaiki, banyak calon ibu hamil yang kekurangan energi kronis dan memperbesar risiko anak yang dilahirkannya terkena stunting”, demikian Edwina.
Edwina berharap, peserta Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat ini menjadi agen komunikasi dalam mengomunikasikan pencegahan stunting kepada orang lain baik melalui tatap muka maupun media sosial.
Kegiatan sosialisasi ini dibuka Asisten II pada Sekretariat Kabupaten (Setkab) Malaka Silvester Letto.
Dalam sambutan pembukaan, Asisten Silvester mengungkap adanya banyak anak Indonesia khususnya Malaka yang belum tercatat dan memiliki akta kelahiran.
Hal ini kemudian menimbulkan banyak masalah. Sebab, anak-anak itu kemudian tidak mendapat intervensi pemerintah melakukan program-program pembangunan yang direncanakan dan dilakukan.
Hadir dalam sosialisasi ini unsur Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 10 desa prioritas, pihak perguruan tinggi, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Sinar Pancasila Betun dan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Haitimuk, kaum perempuan Nahdlatul Ulama (NU) dan pers.
Ketua Panitia Yohanes Klau dalam laporannya menjelaskan, sosialisasi generasi bersih dan sehat ini dimaksudkan untuk mengedukasi generasi muda khususnya para siswa SMA dan mahasiswi untuk lebih peduli akan permasalahan stunting.
Selain itu, menurut Yohanes, untuk mengetahui informasi mengenai kesehatan ibu dan anak serta sebagai alat pantau digital tumbuh kembang anak.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *