oleh

Bupati Malaka Wajibkan Rumah Sakit, Puskesmas dan Sekolahan Pakai Sabun Marungga

-Nusantara-50 views

FATUKNUTUK, TIMORline.com-Bupati Malaka Stefanus Bria Seran mewajibkan semua rumah sakit, puskesmas dan sekolahan di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)   menggunakan sabun marungga.

Hal itu ditegaskan Bupati Stefanus dalam dialog bersama Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan masyarakat Desa Kufeu Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka, Sabtu (06/07/2019).

Menurut Bupati Stefanus, sabun marungga  itu penting untuk kesehatan anak didik di sekolahan. Selain membiasakan anak didik mengenali produk unggulan daerah sendiri, juga untuk membiasakan anak didik mencuci tangan memakai sabun. Anak didik bersama para guru juga bisa menanam marungga di kebun atau kintal sekolah.

“Semua rumah sakit dan puskesmas yang ada di Malaka juga saya wajibkan memakai sabun mandi marungga”, tandas Bupati Stefanus.

Penegasan Bupati Stefanus ini sekaligus menjawab  permintaan  Kandidus Soro, salah satu guru SDK Fatuknutuk Desa Kufeu.  Saat itu, Kandidus menyatakan, marungga merupakan tanaman andalan di Kabupaten Malaka dan Desa Kufeu pada khususnya. Sehingga, dia berharap tanaman ini disosialisasikan juga kepada murid di sekolah.

“Produk-produknya seperti sabun bisa digunakan guru-guru dan para murid di sekolah”, kata Kandidus meminta tanggapan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran dan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

Untuk memastikan penanaman marungga dan pemasarannya, Bupati Stefanus langsung meminta penjelasan Camat Io Kufeu Laurens Seran tentang berbagai hal berkaitan dengan marungga di Desa Kufeu sendiri dan Kecamatan Io Kufeu pada umumnya.

Camat Io Kufeu Laurens Seran sedang mengoperasikan mesin produksi marungga di Dusun Nunuti Desa Kufeu. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Hal-hal yang ditanyakan bupati mantan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) NTT itu, antara lain berapa luas lahan tanaman marungga di Desa Kufeu dan Kecamatan Io Kufeu. Berapa pohon marungga yang dimiliki masyarakat petani marungga di kebunnya. Setiap hari bisa produksi berapa ton. Produknya berupa apa saja. Ke mana saja pemasarannya. Apa pula kesulitannya.

Camat Laurens yang ditanyai Bupati Stefanus berbagai hal, menjawabnya dengan mengungkap data-data sekenanya. Bupati mantan Kadinkes Kabupaten Sumba Timur ini lebih jauh berharap masyarakat Kecamatan Io Kufeu, Camat Io Kufeu, para kepala desa dan masyarakat setempat tidak main-main dengan marungga.

Di rumah produksi marungga, dilarang makan, minum dan merokok. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

“Kalau memang semua masyarakat tanam marungga, ya, tanam. Jangan main-main karena saya dan Pak Gubernur ini orang kerja. Kami orang kerja. Kalau kami omong apa, itu yang kami kerjakan”, tandas Bupati Stefanus sambil melirik Gubernur Viktor di samping kanannya yang sedari tadi tersenyum-senyum.

Agnes Aek Asa selaku Ketua BUMDes  Kufeu M’rian kepada Gubernur Viktor dan Bupati Stefanus mengaku kesulitan saat panen marungga. Sebab, petani marungganya tersebar di lima desa yang ada di Kecamatan Io Kufeu. Topografi wilayah yang jauh dan bergunung-gunung menjadi kendala tersendiri untuk pengangkutan hasil panen dari kebun petani ke pusat produksi. “Kita kesulitan kendaraan untuk angkut hasil panen dari kebun petani ke rumah produksi”, kata Agnes.

Selain kendaraan, menurut Agnes, BUMDes Kufeu M’rian yang diketuainya juga kekurangan mesin produksi dan rumah pengering marungga. Saat ini, pihaknya hanya mempunyai satu mesin produksi yang merupakan milik PT Maspete Organik Kufeu.

Untuk mengatasi kekurangan  ini, Camat Laurens menjelaskan kalau untuk tahun anggaran 2019 ini lima desa di wilayahnya mengalokasikan anggaran Rp100 juta untuk pengadaan rumah pengering marungga.

“Lima desa ini masing-masing satu rumah pengering marungga. Sehingga, tahun ini kita bangun lima  rumah pengering marungga. Anggarannya dari dana desa. Sedangkan produksinya terpusat di Desa Kufeu”, tandas Camat Laurens.

Kadis PMD Propinsi NTT Sinun Petrus Manuk (kedua dari kanan) dan Kadis PMD Kabupaten Malaka Agustinus Nahak (ketiga dari kiri) bersama tim masing-masing menunjukkan tepung marungga kemasan dalam suatu kunjungan di Desa Kufeu Kecamatan Io Kufeu. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Soal rumah produksi, menurut Camat Laurens, dibangun terpusat di Desa Kufeu dengan nama  PT Maspete Organik Kufeu. Perusahaan inilah yang bekerjasama langsung dengan BUMDes Kufeu M’rian untuk membeli seluruh hasil panen petani marungga. Sedangkan BUMDes empat desa lainnya, yakni Desa Ikan Tuanbeis, Biau, Tunabesi dan Tunmat sebagai pemasok bahan baku marungga. Bahan baku marungga mentah dibeli dengan harga Rp5.000,00 per kilogram dan kering Rp50.000,00 per kilogram.

Sebelum dialog dengan masyarakat, Gubernur Viktor dan Bupati Stefanus terlebih dahulu melihat kebun marungga milik petani setempat di kawasan Nunuti. Para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baik propinsi maupun kabupaten dibawa serta. Mereka juga melihat rumah pengering marungga milik Kelompok Tani (Poktan) Maspete.

Selanjutnya, mereka melihat  rumah pengering, rumah produksi dan berdialog dengan masyarakat. Setelah mendapat berbagai informasi yang berkaitan dengan marungga, Gubernur Viktor menyatakan, sarana dan prasarana marungga perlu ditambah. Lahan marungga juga perlu diperluas. Masyarakat diharapkan mengonsumsi marungga untuk mencegah stunting, perbaiki gizi dan perkembangan otak anak-anak.

Bagi Gubernur Viktor, marungga adalah makanan ajaib di dunia yang dimiliki masyarakat Desa Kufeu. Sebagai makanan ajaib di dunia, marungga dicari masyarakat internasional. Sehingga, sudah pasti mata dunia akan diarahkan ke Desa Kufeu. “Kita akan ekspor marungga ke Jepang dua tiga bulan ke depan”, tandas Gubernur Viktor disambut tepuk tangan meriah masyarakat dan pejabat yang hadir.

Mantan anggota DPR RI asal Propinsi NTT dari Partai Nasdem ini berjanji, untuk penambahan sarana dan prasarana, pada 2019 ini pihak propinsi akan membantu 10 mesin produksi. Mesin produksi ini diharapkan dapat menggenjot hasil produksi sebelum ekspor ke Jepang.

Marungga dapat diproduksi menjadi antara lain sabun dan kue kering. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Ada pun produk-produk marungga asal Desa Kufeu ini berupa sabun, tepung, kapsul, handbody dan beberapa jenis makanan seperti dadar, mie, cakar ayam, gula-gula dan kue kering.

Untuk saat ini, Poktan Maspete memiliki 80,27 hektar lahan marungga. Di atas lahan seluas ini ditanami 110.613.605 pohon marungga milik 329 petani yang terhimpun dalam enam Poktan.

Desa Kufeu sebagai penghasil utama marungga mendapat dukungan berupa rumah pengering marungga dari empat desa, antara lain Desa Ikan Tuanbeis. Kades Ikan Tuanbeis Kornelis Molo yang didatangi TIMORline.com di kediamannya mengajak TIMORline.com untuk melihat langsung rumah pengering marungga milik desanya  yang sementara dibangun.

Dia berharap rumah pengering marungga ini pengerjaannya selesai pada Oktober 2019 mendatang.

Kepala Desa Ikan Tuanbeis Kornelis Molo sedang memantau pembangunan rumah pengering marungga di desanya. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Sesuai pantauan, beberapa tukang dan puluhan pekerja tampak keburu kerja. Daniel Kiik selaku kepala tukang tak henti-hentinya memberi semangat kepada para pekerjanya untuk tidak kerja main-main.

Rumah pengering ini berukuran 7 x 15 meter. Ditambah teras depan dua meter menjadi 9 x 15 meter persegi.

“Anggarannya Rp100 juta lebih. Pastinya ada di RAB”, urai Kades Kornelis.

Selain Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bupati Stefanus Bria Seran, ikut dalam kunjungan kerja ini adalah Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Propinsi NTT Sinun Petrus Manuk, Kadis Pertanian NTT Migdon Abolla, Asisten I pada Sekretariat Kabupaten Malaka Zakarias Nahak, Asisten II Silvester Letto, Staf Ahli Maria Theresia Un Manek-Asa dan Kadis PMDk Kabupaten Malaka Agustinus Nahak.

Terlihat Inspektur Inspektorat Kabupaten Malaka Remigius Leki, Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Malaka Bernando Seran, Kadis  Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Yustinus Nahak, Camat Io Kufeu Laurens Seran dan para kepala desa se-Kecamatan Io Kufeu.

Hadir pula para tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh perempuan, para pengurus Kelompok Tani (Poktan) Maspete dan masyarakat Io Kufeu.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Komentar