Pelayanan Kemanusiaan Mantri Patra di Pedalaman Papua Barat Berakhir Tragis

“Selamat jalan teman sejawat semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan”, begitu status pemilik akun facebook dengan nama Irham Tompo. 

STATUS ini mengawali kisah tragis yang dialami seorang temannya di pedalaman  Kampung Oya Distrik Naikere Kabupaten Teluk Wondama Propinsi Papua Barat.

Irham bilang, temannya itu bernama lengkap Patra Kevin Marinna Jauhari.  Masyarakat Oya akrab memanggilnya   Mantri Patra.

Mantri Patra.

Sejak April lalu, Patra bersama salah seorang temannya mendapat tugas di Kampung Oya Distrik Naikere sebagai petugas medis. Ada di wilayah pelayanan Puskesmas Naikere. Mereka diantar menggunakan helikopter. Belakangan, Patra sendirian. Dia ditinggal pamit pergi temannya ke Wasior dengan berjalan kaki.

Meski sendirian, Patra tetap melayani masyarakat. Jauh di pedalaman Kampung Oya sana.  Komitmennya tegas: melayani. Melayani yang terpinggirkan dan terlupakan. Sendirian lagi. Sampai-sampai dia sendiri terlupakan. Hingga nasibnya berakhir tragis dan meninggal dalam kesendiriannya pula. Sedihnya, Patra dikabarkan meninggal 18 Juni dan baru ditemukan empat hari kemudian, tepatnya Sabtu 22 Juni 2019.

Padahal, dalam status akun facebooknya, Irham Tompo mengutip Kepala Puskesmas Naikere Tomas  Waropen bilang,  Patra mungkin bisa tertolong jika pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama merespon cepat laporannya. Sebab, Tomas  menginformasikan kalau dia sudah melaporkan kondisi kesehatan Patra ke Dinas Kesehatan setempat. Bahkan, sampai rapat tiga kali dan minta helikopter segera mengevakuasinya ke kota.

Patra (berkaca mata hitam) bersama teman-teman petugas medis di dalam helikopter menuju pedalaman. (Foto: Facebook).

Kampung–daerah lain di Indonesia menyebutnya Desa–Oya, merupakan salah satu kampung di pedalaman Distrik—daerah lain di Indonesia menyebutnya Kecamatan–Naikere yang masih terpencil dan terisolir. Tidak ada akses jalan darat apalagi sarana telekomunikasi. Wilayah yang berbatasan langsung dengan  Kabupaten Kaimana ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter.

Untuk mencapai pusat distrik di Naikere, warga setempat biasanya berjalan kaki selama 3-4 hari. Jalanan yang dilewati masih berupa jalan setapak menyusuri gunung dan lembah di tengah hutan belantara.

Patra dan temannya dijadwalkan bertugas selama tiga bulan. Terhitung April  hingga Juni untuk kemudian dijemput kembali dan diganti petugas berikutnya. Tetapi, sampai pertengahan Juni, helikopter belum datang menjemput. Padahal persediaan bahan makanan berupa beras, minyak goreng dan lainnya yang dibawanya tiga bulan lalu sudah lama habis. Demikian pula stok obat-obatan. Semuanya sudah habis terpakai.

Meski begitu, Patra memilih tetap bertahan di pedalaman. Dia terus memberi pelayanan medis dengan kondisi apa adanya. Hari-hari bujangan kelahiran 1988 ini diisi dengan  selalu berinteraksi dengan warga setempat. Mulai dari berkunjung ke rumah warga, bermain bersama pemuda setempat hingga ikut berkebun bersama warga.

Patra saat tidur di rumah salah satu warga pedalaman Kampung Oya Distrik Naikere Kabupaten Teluk Wodanma Papua Barat.

Tiap sore dia bergabung dengan anak-anak menyanyi bersama. Dengan cara-cara itu, dia terus bertahan. Terus bertahan dalam kondisi serba terbatas. Beras habis. Minyak goreng habis.  Obat-obatan habis. Alat komunikasi tidak ada. Semua  serba habis dan tidak ada. Sulit meminta pertolongan orang kota.

Kondisi fisik Patra yang kelahiran Palopo Sulawesi Selatan ini pun kian lemah. Mengetahui kondisinya kian memburuk, salah seorang warga kampung Oya memutuskan berjalan kaki untuk memberitahukan kondisi sang mantri kepada Kepala Puskesmas Naikere. Namun tetap saja tidak ada helikopter yang datang  mengevakuasinya ke kota guna mendapat perawatan medis. Patra akhirnya  menghembuskan nafas terakhir di tempat tugasnya di Kampung Oya pada 18 Juni 2019. Dia meninggal dalam kesendirian, tanpa ada keluarga, teman maupun kerabat yang mendampingi. Jenazah Patra baru dievakuasi pada 22 Juni 2019 menggunakan helikopter yang disewa Pemkab  Nabire, empat hari setelah meninggal.

Mantri Patra saat melayani pasien anak.

Kepala Puskesmas Naikere Tomas Waropen mengatakan,  nyawa Patra mungkin bisa tertolong jika pihak dinas kesehatan maupun instansi terkait lainnya cepat merespon laporannya terkait kondisi Patra dan meminta segera dikirim helikopter.

“Kami sudah rapat sampai tiga kali dengan Dinas Kesehatan, Kesra dan Pak Sekda tapi tetap tidak ada jalan. Sampai akhirnya dia  meninggal baru helikopter bisa naik, “ ujar Waropen.

Bagi Waropen, Patra adalah pahlawan kemanusiaan. Dia rela mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan masyarakat di pedalaman Naikere tanpa banyak mengeluh dan menuntut. Tindakan mulia yang justru selalu dihindari banyak petugas medis lainnya.

“Patra adalah pahlawan bagi masyarakat Suku Mairasi”, begitu julukan Tomas Waropen, Kepala Puskesmas Naikere.

Editor: Cyriakus Kiik        Sumber: kabartimur.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang copy