Diduga Belum Bayar Kayu 10 Kubik, Kades Railor Tahak Berang

BETUN, TIMORline.com-Kepala Desa (Kades) Railor Tahak Wilfridus Seran diduga belum membayar kayu 10 kubik senilai Rp20 juta.
Dugaan itu membuatnya berang dan segera memanggil Herman Lau selaku Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK).
Selain Herman, Kades Wilfridus akan memanggil Petrus Nahak selaku pemilik kayu.
“Supaya jelas, saya akan panggil Herman selaku Ketua TPK waktu itu dan Petrus sebagai pemilik kayu. Nanti kita omong di kantor desa sama-sama dengan bendahara. Nanti baru tahu, saya belum bayar atau Herman yang tidak kasih uang ke pemilik kayu. Sebab, Herman selaku TPK lebih tahu”, jelas Kades Wilfridus kepada TIMORline.com di kediamannya, Kamis (30/05/2019).
Kades Wilfridus mengaku kaget dan baru tahu dari TIMORline.com kalau kayu 10 kubik senilai Rp20 juta belum dibayar dan dikeluhkan pemiliknya Petrus Nahak.
Yang benar, menurut Kades Wilfridus, kayu yang dimaksud Petrus Nahak itu sudah dibayar. Sebab, kuitansinya ada di bendahara.
“Kayu itu dibutuhkan untuk pembangunan bantuan rumah rehab pada 2017”, jelas Kades Wilfridus.
Petrus Nahak, warga Desa Raiulun Kecamatan Malaka Timur, sebelumnya kepada TIMORline.com mengaku kalau pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Railor Tahak memesan kayu 12 kubik jenis kayu jati dan mahoni. Sesuai Informasi yang diterimanya dari Herman Lau selaku Ketua TPK Desa Railor Tahak, kayu itu dibutuhkan untuk pembangunan bantuan rumah rehab dan mandi cuci kakus (MCK) pada 2017. Rinciannya, kayu balok ukuran 6/12 sebanyak 10 kubik. Sedangkan papan ukuran 5/17 sebanyak dua kubik.
“Jadi, semuamya 12 kubik dengan hitungan satu kubik Rp2 juta sehingga totalnya Rp24 juta. Uang yang Om Herman sudah bayar ke saya Rp4 juta. Sisanya Rp20 juta. Uuang sisa ini yang belum dibayar sampai sekarang”, tandas Petrus.
Herman Lau secara terpisah kepada TIMORline.com menjelaskan, hingga saat ini dia belum melakukan pembayaran ke Petrus karena belum mendapat uang dari Kades Wilfridus. Sebab, di Desa Railor Tahak, menurut Herman, bendahara dan TPK itu hanya nama tetapi tidak pegang uang.
“Yang pegang uang itu kepala desa. Kami punya nama hanya ada di kertas saat pencairan. Setelah cair, uang dikasih ke kepala desa. Nanti kepala desa yang atur uang mau digunakan untuk apa”, urai Herman.
Herman malahan mengaku sudah melaporkan masalah kayu milik Petrus dan masalah lainnya di desa itu di kepolisian dan kejaksaan.
Dia berharap pihak kepolisian dan kejaksaan melalui wewenang yang dimiliki masing-masing institusi segera menyelidiki apa yang sudah dilaporkannya.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang copy