Ketegasan Para Pastor soal Industri Tambak Garam di Malaka

BETUN, TIMORline.com-Kehadiran industri tambak garam di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat menjanjikan bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Hal kesejahteraan ini diyakini tidak hanya dirasakan masyarakat Malaka saat ini. Tetapi, akan dirasakan masyarakat Malaka turun-temurun sampai ke anak-cucu.
Hal ini terungkap dari ketegasan dan kesaksian para pastor se-Dekenat Malaka yang meninjau kondisi terkini lokasi industri tambak garam Weseben-Weoe di Kecamatan Wewiku pada Selasa (28/05/2019).

Pastor Paroki Kotafoun Romo Baltasar Seran, Pr saat memberi kesaksian tentang lokasi tambak garam Weseben-Weoe. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Pastor Paroki Kotafoun Romo Baltasar Seran, Pr yang adalah anak asli Weoe memberi kesaksian bahwa di masa kecilnya hingga remaja, lokasi tambak garam Weseben-Weoe saat ini adalah padang penggembalaan ternak yang ditumbuhi pepohonan gewang dan pohon berduri.
“Tidak benar tempat ini ditumbuhi mangrove. Mangrove atau bakau tidak ada di tempat ini. Saya tahu karena kami biasa bermain di sini pada waktu masih kecil”, tandas Romo Baltasar.
Atas kondisi lokasi yang demikian, Romo Bal, begitu biasanya Romo Baltasar disapa, memberi penegasan dengan meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka dan PT Inti Daya Karya (IDK) untuk melanjutkan industri tambak garam di lokasi Weseben-Weoe. Sebab, menurut Romo Bal, kehadiran industri tambak garam di Malaka untuk kesejahteraan masyarakat Malaka.
Untuk menguatkan keinginan Romo Bal dan kerja keras PT IDK, Pastor Paroki Seon Romo Alo Kosat, Pr mengharapkan hak-hak pekerja diatur secara baik sehingga tidak muncul masalah di kemudian hari.

Pastor Paroki Kleseleon Romo Leo Nahas, Pr saat dialog di lokasi tambak garam Weseben-Weoe. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Pastor Paroki Kleseleon Romo Leo Nahas, Pr mengatakan, kehadiran para pastor di lokasi industri tambak garam Weseben-Weoe akan menjadi bahan bagi para pastor.
“Kami akan bicara kepada umat tentang kebaikan dan manfaat tambak garam di Malaka. Sebab, bila pemanfaatan lahan garam yang ada dioptimalkan, manfaatnya besar sekali. Manfaat ekonominya luar biasa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Malaka”, tandas Romo Leo.

Romo Hironimus Moensaku, Pr angkat bicara. (Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Romo Hironimus Moensaku dari Paroki Alas meminta  pihak manajemen PT IDK untuk menginformasikan kerja-kerja perusahaan dan manfaat kehadiran tambak garam di lokasi Weseben-Weoe. Sebab, selama ini pro-kontra penerimaan tambak garam sangat kuat.
Romo Rony, begitu akrabnya Romo Hironimus, pro-kontra kehadiran industri tambak garam di Malaka akan membuat pekerja tidak nyaman. Sehingga, pihak perusahaan dan pemerintah diminta melakukan sosialisasi kepada masyarakat Malaka pada umumnya dan para pemilik lahan tambak garam pada khususnya. Sebab, pro-kontra yang terjadi bisa membuat masyarakat saling berbenturan.

Pastor Paroki Besikama Romo Pius Nahak, Pr saat berpendapat. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Pastor Paroki Besikama Romo Pius Nahak, Pr memastikan kalau kondisi pesisir Weseben-Weoe yang menjadi bagian tak terpisahkan dari lahan tambak garam setempat memang panas. Kondisi ini akan disampaikan sekaligus menjawab keluhan umat di wilayah pesisir Malaka. Sebab, selama ini sebagian umat di wilayah itu selalu mengeluhkan panas berkepanjangan yang disimpulkan sebagai dampak kehadiran tambak garam.
Usul-saran dan penegasan-penegasan para pastor ini mendapat penjelasan enteng dari Manajer PT IDK Natalia Seuk Seran.
Soal sosialisasi tambak garam, misalnya, menurut Natalia, sosialisasi sudah dilakukan sejak awal. “Ada masyarakat yang setuju dan ada yang tidak setuju. Yang setuju kita ambil lahannya. Yang tidak setuju kita tidak ambil lahannya. Kita tidak paksa”, tandas Natalia.
Menurut Natalia, lahan petani garam yang diambil dihargai perusahaan Rp1 juta per hektar. Tetapi, uang itu adalah uang sirih-pinang.
“Perusahaan tidak membeli lahan petani. Uang yang diberikan perusahaan adalah uang sirih-pinang. Lahan masyarakat tidak hilang dan tetap menjadi milik petani. Sebab, sistem yang dipakai perusahaan adalah sistem pembagian saham”, tegas Natalia.
Soal hak-hak pekerja, menurut Natalia, akan diatur dalam Perjanjian Kerjasama (PKS). Dari 100 lebih pekerja yang ada saat ini, draft dokumen PKS-nya sudah disiapkan. Tetapi, manajemen PT IDK belum bisa berbuat apa-apa karena masih menunggu izin operasional perpanjangan dari pemerintah.
Natalia menjelaskan, izin operasional pertama terbit pada September 2015 dan berakhir pada 2018. Saat ini perusahaan sementara menunggu izin operasional perpanjangan dari pemerintah.
“Semua dokumen persyaratan izin sudah kita penuhi dan kita hanya menunggu. Izinnya dari pemerintah, bukan dari perusahaan. Soal izin bukan wewenang perusahaan. Mudah-mudahan kita sudah bisa dapatkan izinnya dalam bulan Juni ini”, harap Natalia.
Bagi Natalia, iklim yang sedikit ekstrim di wilayah pesisir yang dikeluhkan dan disimpulkan sebagai dampak kehadiran tambak garam memang benar adanya. Sebab, belukar gewang dan pohon berduri yang sudah dibersihkan dan dijadikan lokasi tambak garam membuat sebagian wilayah pesisir sangat terbuka.
“Alam yang terbuka pasti ikut mengubah iklim. Iklim jadi ekstrim. Tetapi, bagi kami, iklim seperti ini hanya di awal. Ke depan, pasti iklimnya lebih bersahabat, nyaman dan sejuk”, demikian Natalia.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *