17 Pastor Keuskupan Atambua Tinjau Lokasi Tambak Garam Malaka

BETUN, TIMORline.com-Sedikitnya 17 pastor asal Keuskupan Atambua Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (28/05/2019), meninjau lokasi tambak garam Malaka, tepatnya di Desa Weseben dan Desa Weoe Kecamatan Wewiku. Rombongan para pastor ini dipimpin langsung Deken Malaka Romo Edmundus Sako, Pr.
Dari unsur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka hadir Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Malaka Petrus Bria Seran, Kadis Perizinan Satu Pintu dan Penanaman Modal Yanuarius Bria Seran, Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Bernando Seran, Kadis Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Yustinus Nahak, Kadis Perhubungan dan Lingkungan Hidup Ferdinandus Un, staf ahli Maria Theresia Un Manek-Asa, dan lainnya.
Kedatangan para pastor ini untuk melihat dan mengetahui dari dekat kegiatan tambak garam Weseben-Weoe yang selama ini menjadi polemik di media massa dan media sosial.
Selain itu, mereka ingin memastikan hak-hak masyarakat bila lahan mereka dijadikan tambak garam.

Romo Edmundus Sako, Pr sedang bertanya. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Untuk itulah, para pastor ini melakukan dialog terbuka dengan masyarakat petani pemilik lahan, manajemen PT Inti Daya Karya dan Pemkab Malaka yang difasilitasi Kadis PKPO Kabupaten Malaka Petrus Bria Seran.
Sebagai fasilitator, Petrus memberi kesempatan pertama kepada Manajer PT Inti Daya Karya atau IDK Natalia Seuk Seran untuk menjelaskan tentang kegiatan tambak garam, kondisi lahan, kepemilikan lahan, ketenagakerjaan baik mengenai upah, jam kerja dan legalitas perusahaan.
Menurut Natalia, lahan tambak adalah milik masyarakat petani garam Desa Weseben dan Weoe Kecamatan Wewiku.
Di lokasi ini, Natalia bilang, lahan yang sudah digarap-bersihkan seluas 100 hektar lebih dari 300 hektar yang dibutuhkan.
Tenaga kerja yang ada saat ini sebanyak 100 orang yang digaji setiap bulan Rp1.890.000,00. Sedangkan Natalia selaku manajer digaji Rp5 juta lebih.
Dia menjelaskan, PT IDK pertama kali beroperasi di lokasi tambak garam Weseben-Weoe pada 2015. Untuk kondisi saat ini, alat berat berupa eksavator yang dioperasikan di lokasi ini sebanyak 32 unit.
“Operatornya kebanyakan orang lokal. Sedangkan dari luar hanya tiga orang”, tandas Natalia.
Untuk operator, besaran gajinya tidak diketahui PT IDK. Sebab, PT IDK tidak sendirian. Tetapi, bekerjasama dengan perusahaan lain sebagai pihak ketiga.
“PT IDK tidak tahu gaji operator karena dibayar pihak ketiga,” kata Natalia.
Saat menjawab pertanyaan Pastor Paroki Seon Romo Alo Kosat, Pr soal dasar hukum upah pekerja, Natalia menjelaskan, semuanya akan dimuat dalam Perjanjian Kerjasama (PKS).
Pertanyaan lain diajukan Pastor Paroki Besikama Romo Pius Nahak, Pr, Pastor Paroki Kleseleon Romo Leonardus Nahas, Pr, Pastor Paroki Kotafoun Romo Baltasar Seran, Pr dan Romo Ronny Moensaku, Pr dari Paroki Alas.
Pastor lain yang hadir adalah Romo Melki Meak, Pr, Romo Yanto Nahak, Pr, Romo Yoseph Meak, Pr, Romo Marsel Nai Key, Pr, Pater Andreas Hane, SVD, Pater Johanes Napan, SVD, dan lainnya.
Hadir pula Pemangku Adat Liurai Malaka Dominikus Kloit, Loro Haitimuk dan Loro Wewiku.

Deken Malaka Romo Edmundus Sako, Pr mengatakan, setelah peninjauan tersebut, pihaknya akan membuat pernyataan sikap bersama.

“Ternyata kehadiran tambak garam di Malaka dapat memperbaiki kehidupan ekonomi masyarakat setempat”, demikian Romo Edmundus.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *