Menyoal Ketidaksinambungan Pekerjaan Lulusan PT dengan Bidang Ilmu yang Ditekuni

Oleh: Kondradus Y. Klau, Dosen Matematika-Statistika Universitas Timor; Pemerhati Pendidikan, Sosial dan Demokrasi; Alumnus Sekolah Demokrasi Belu Angkatan III.
SUDAH banyak Perguruan Tinggi (PT) baik negeri maupun swasta yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia hingga saat ini.
Berdasarkan data Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristek Dikti) tahun 2017, jumlah unit perguruan tinggi yang terdaftar mencapai 4.504 unit. Angka ini didominasi oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mencapai 3.136 unit. Sedangkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) paling sedikit, yakni 122 unit. Sisanya adalah perguruan tinggi agama dan perguruan tinggi di bawah kementerian atau lembaga negara dengan sistem kedinasan.
Ribuan PTN dan PTS yang tersebar memungkinkan adanya banyak lulusan di setiap tahunnya. Terlepas dari profesional atau tidaknya lulusan yang dihasilkan, bahwa bertambahnya lulusan dapat mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik baru. Kalau pun terserap di dunia kerja kemungkinan besar para lulusan PT tidak bekerja sesuai bidang ilmunya.
Belum lama ini di Jakarta, tepatnya 10 Mei 2019, Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) menyoal adanya ketidaksinambungan antara lulusan PT dan bidang pekerjaan yang ditekuni.
Hingga saat ini masih belum ada integrasi antara PT dengan industri. Akibatnya banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai bidang ilmunya. Hal ini menjadi masalah besar yang dihadapi saat ini, dan menjadi tanggung jawab PT beserta stakeholder terkait untuk menyelesaikannya.
Anda dan saya mengakui, lulusan memang banyak namun produktivitas belum tinggi seiring banyak lulusan yang dihasilkan karena terdapat ketidaksinambungan antara bidang ilmu yang ditekuni dengan pekerjaan yang dijalankan kemudian.
Solusi yang dapat dilakukan adalah mendorong agar PT dapat menghasilkan tenaga yang profesional di bidangnya. Pengembangan dan peningkatan pendidikan vokasi menjadi salah satu jalan keluar. Sedangkan di bidang pendidikan akademik, dapat diciptakan penelitian-penelitian yang inovatif yang bisa dimanfaatkan industri.
Di era revolusi industri 4.0 perlu juga dilakukan revolusi di bidang pendidikan dengan menghasilkan penelitian yang inovatif. Hal ini dapat dijadikan daya saing bangsa. Startup pun harus banyak dihasilkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Terkait bagaimana mengintegrasikan PT dengan industri, perlu direvisi kurikulum agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.
Kita berharap masalah ketidaksinambungan ini menjadi perhatian serius pemerintah bersama stakeholder untuk segera diminimalisasi, dan pada saat yang tepat dapat terhindarkan.
Menyoal lebih jauh masalah ketidaksinambungan antara bidang ilmu lulusan PT dengan pekerjaan yang ditekuni, mungkin kita boleh merefleksikan perjalanan dan perjuangan negara ini menyediakan lapangan pekerjaan yang mampu menjawabi dan mengakomodasi semua lulusan PT.
Yang harus disadari, kualitas dan profesionalitas lulusan PT sangat diutamakan dalam menatap pekerjaan, tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan juga menjadi poin penting untuk diberi perhatian. Bahwa keahlian menjadi syarat utama dalam membidangi sebuah pekerjaan, tetapi kemudahan mengakses pekerjaan juga menjadi hal penting untuk diperjuangkan.
Pada dasarnya saya menyepakati upaya Pemerintah dalam membenahi kurikulum dan menyediakan tenaga pendidik profesional dan ahli di PT, sehingga lulusan yang dihasilkan PT dapat berdaya guna. Dan inilah yang mungkin mendorong Kemenristekdikti dan para pemangku kepentingan meramu sebuah sistem informasi yang mampu mengakomodasi para lulusan PT untuk dapat mengakses pekerjaan sesuai bidang ilmunya.
Sistem ini hadir dengan sebutan Sindikker (Sistem Informasi Pendidikan dan Dunia Kerja). Sindikker adalah sistem informasi kebutuhan dunia kerja dan menganalisis data yang masuk dalam laman. Sistem informasi ini membutuhkan peran serta seluruh pemangku kepentingan baik dari sisi pemerintah maupun swasta (Dunia Usaha dan Dunia Industri).
Sindikker bertujuan memberikan lowongan pekerjaan untuk para lulusan khususnya perguruan tinggi sehingga mampu mengurangi jumlah pengangguran terdidik.
Lulusan perguruan tinggi dapat mempromosikan dirinya melalui sistem ini dan begitupun sebaliknya, Sindikker dapat mempromosikan lulusan ke dunia kerja.
Bahkan, untuk lebih terintegtasi, Sindikker telah bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementrian Perindustrian.
Melalui sistem ini, pengguna akan lebih cepat mencari informasi mengenai pendidikan, ketenagakerjaan, atau bahkan memerlukan analisis terhadap informasi-informasi tersebut.
Semoga di waktu-waktu mendatang tidak ada lagi pengangguran terdidik dan lulusan PT yang bekerja tidak sesuai bidang ilmunya. (*/dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *