Kesan Pertama Kadis PMD NTT Lihat Produk Marungga Asal Kufeu: Waooo, Langsung Jatuh Hati pada Pandangan Pertama

KUFEU, TIMORline.com-Ada hal yang mengejutkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Sinun Petrus Manuk saat berkunjung di Desa Kufeu Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka, Selasa (14/05/2019).
Saat tiba di Dusun Oefeo-Fatuknutuk Desa Kufeu yang menjadi titik kunjungan itu, Kadis Pieter, begitu akrabnya, langsung masuk ke dalam sebuah rumah tua milik pasangan Kornelis Tae (alm)-Wilhelmina Abuk.
Kadis Pieter sedikit cuek dengan penerimaan warga. Padahal, ada beberapa tokoh adat yang sudah siap menerimanya secara adat. Bahkan, ada pula Camat Io Kufeu Laurens Seran dan tujuh kepala desanya.
Karena dihadang Ketua TP-PKK Io Kufeu Maria Selestina Tahuk saat turun dari mobil, Kadis Pieter hanya menerima pengalungan sebuah selimut tenunan Dawan. Berikut Koordinator Wilayah Kementerian Desa Albert Magnus, pejabat Dinas PMD NTT Adi Ratu dan Kadis PMD Kabupaten Malaka Agustinus Nahak.
Di dalam rumah, mata Kadis Pieter langsung tertuju pada beberapa rak. Ternyata, semua barang yang ada di rak-rak itu adalah produk-produk marungga, hasil karya anggota Kelompok Tani (Poktan) Maspete Desa Kufeu.
Sebuah kemasan diangkat dan dilihatnya sebentar. “Apa ini”, tanya Kadis Pieter.
“Tepung marungga”, jawab beberapa orang di hadapannya serentak.
“Waooo, langsung jatuh hati pada pandangan pertama”, begitu respon Kadis Pieter. Mendapat respon itu, tepukan tangan meriah langsung memenuhi rumah tua itu.
Kadis Pieter dan Kadis PMD Malaka Agus Nahak kemudian beralih pandangan ke produk lain. Di situ ada sabun, shampo dan minyak. Mereka terkagum-kagum.
Begitu girangnya, Kadis Pieter sampai beberapa kali membuat pengakuan, “Jatuh hati pada pandangan pertama”.
Dalam sambutannya, Kadis Pieter menyarankan untuk sebaiknya produk-produk marungga asal Kufeu ini pada kemasannya ditulis lengkap dengan nama kelompok dan nama desa. Bahkan kalau produksinya didanai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) maka akan lebih baik pada kemasannya ditulis pula nama BUMDes. Tetapi, tulisannya harus agak besar, tidak seperti sekarang ini yang tulisannya kecil.
“Tulisannya harus besar dan mudah dilihat orang. Sebab, marungga ini makanan ajaib untuk mencegah stunting atau orang yang gagal tumbuh”, katanya.
Mengutip informasi yang diperolehnya dari pendamping Poktan Maspete Nina Purwiyantini, Pieter yang mantan Kadis Sosial NTT itu mengharapkan Pj. Kades Kufeu Laurens Seran yang adalah Camat Io Kufeu mendukung Poktan Maspete berupa anggaran.
“Anggaran itu untuk kemajuan bisnis marungga. Mesin pengepung yang ada satu unit. Harganya Rp48 juta. Ok, kalau harga begitu, dana desa bisa diambil untuk pakai beli mesin pengepung. Tetapi, anggaran itu harus dimusyawarahkan. Jangan pakai dana desa sembarang”, tandas Kadis Pieter.
Camat Io Kufeu Laurens Seran mengatakan, kehadiran dan motivasi yang diberikan Kadis Pieter dan timnya menjadi kekuatan tersendiri bagi warganya terutama anggota Poktan Maspete untuk maju bersama bisnis marungga.
“Kami kuat karena ternyata kami tidak sendiri”, kata Camat Laurens.
Koordinator Wilayah Kementerian Desa Albert Magnus mengatakan, akan lebih baik kalau pengembangan marungga dan pemasaran produk-produknya dilakukan melalui BUMDes. Sehingga, anggaran belanja selalu tersedia karena ada penyertaan modal dari desa.
“Kepala desa bisa menyertakan modal Rp150-200 juta untuk BUMDes khusus marungga. Tapi, penganggarannya harus melalui musyawarah desa”, tandas Albert.
Ketua Poktan Maspete Natalia Bano menjelaskan, saat ini hasil panen daun marungga mentah/basah milik petani dibeli dengan harga Rp5.000, sedangkan daun kering Rp40.000. Sehingga, dalam sebulan seorang petani marungga bisa mendapat penghasilan dari marungga sekira Rp2,5 juta sampai dengan Rp3 juta.
Panen bisa dilakukan saat tanaman marungga berumur 3-5 bulan pada ketinggian 100-150 sentimeter.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *