Kadis PMD NTT: Marungga, Makanan Ajaib asal Kufeu

KUFEU, TIMORline.com-Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Sinun Petrus Manuk menyatakan, marungga adalah makanan ajaib asal Desa Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena itulah, Kadis yang biasa disapa Pieter itu mengharapkan masyarakat Desa Kufeu menjadikan marungga tanaman unggulan sebagai implementasi program NTT Hijau sebagaimana dikampanyekan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat selama ini.
Pernyataan itu disampaikan Kadis Pieter di depan Camat Io Kufeu, para kepala desa (kades) se-Kecamatan Io Kufeu, para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan masyarakat Desa Kufeu di Nunuti-Fatuknutuk, Selasa (14/05/2019).
Pernyataan itu disampaikan setelah Kadis Pieter mendapat informasi dari Camat Io Kufeu Laurens Seran, pendamping Kelompok Tani (Poktan) ‘Marungga’ Maspete Nina Purwiyantini dan para pendamping desa.
Sesuai informasi yang diperolehnya, marungga Desa Kufeu telah mendunia. Sebab, produk-,produk marungga Desa Kufeu sudah tembus pasaran dunia.
“Tadi pendamping kelompok mrnjelaskan bahwa marungga asal Desa Kufeu sudah sampai di Jepang. Ini luar biasa. Para petani marungga di sini harus menanam marungga lebih banyak lagi”, kata Kadis Pieter memberi semangat.
Mantan Kadis Sosial NTT ini berharap para Kades lain di wilayah itu mengambil langkah berani pula untuk mendorong masyarakat masing-masing desanya menanam marungga seperti yang sudah dilakukan masyarakat Desa Kufeu.
Koordinator Wilayah Program Inovasi Desa Kementerian Desa Albert Magnus berharap Desa Kufeu menjadi desa produksi marungga.
“Produk-produk marungga harus diproduksi di Kufeu, sedangkan desa-desa penyangga membantu memromosikan produk-produk itu”, tandas Albert.
Albert meminta para kades se-Kecamatan Io Kufeu mengalokasikan anggaran khusus untuk marungga sesuai kebutuhan.
“Jalan terbaik adalah melalui Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes”, demikian Albert.
Pendamping Poktan ‘Marungga’ Maspete Nina Purwiyantini menjelaskan, saat ini tanaman marungga di Desa Kufeu tersebar di lahan anggota seluas 53,27 hektar. Hasil panenannya diproduksi untuk antara lain sup, sabun, shampo dan odol. Sedangkan anggota kelompoknya sebanyak 59 orang.
Menurut Nina, hasil panen daun marunggga mentah dijual dengan harga Rp5.000,00 per kilogram, sedangkan daun kering seharga Rp40.000,00 per kilogram.
“Kita juga beli (maksudnya daun marungga, red) dari desa tetangga”, tandas Nina.
Saat ini, kendala yang dihadapi Poktan Maspete Kufeu adalah terbatasnya mesin pengepung. Sebab, saat ini mesin pengepung hanya satu unit. Jumlah rumah pengering juga sama.
Sehingga, mesin pengepung dan rumah pengering perlu ditambah
Sebagai desa penyangga adalah Desa Ikan Tuanbeis yang saat ini sudah memiliki rumah pengering marungga. Sedangkan desa-desa lain yang diharapkan bisa memiliki rumah pengering sendiri adalah Desa Biau, Bani-Bani, Fatoin, Tunabesi dan Tunmat.
Camat Io Kufeu Laurens Seran bilang, dengan menanam marungga di kebun sendiri, masyarakat bisa berkebutuhan cukup.
“Jadi, meskipun petani tidak kaya tapi setidak-tidaknya sudah tidak mengalami kelaparan”, kata Camat Laurens.
Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *