Pro-Kontra Wacana Impor Guru Luar Negeri

Oleh: Kondradus Y. Klau
(Pemerhati Pendidikan, Sosial, dan Demokrasi; Alumnus Sekolah Demokrasi Belu Angkatan III
Beberapa hari belakangan, entah menjadi perhatian banyak masyarakat atau tidak, Indonesia dihebohkan dengan wacana Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengimpor pengajar (guru) dari luar negeri.
Menanggapi hal ini, dari setiap argumentasi masyarakat yang sempat diberikan, terlihat banyak pihak yang setuju namun tidak sedikit juga yang menolak.
Pihak yang menolak mempertanyakan urgensi mengimpor guru luar negeri. Sedangkan yang menerima wacana ini merasa penting untuk meningkatkan kapasitas kemampuan siswa dan tentunya memotivasi guru dalam negeri untuk lebih berkembang.
Menurut yang diberitakan Harianjogja.com, “Menteri Puan akan Impor Guru dari Luar Negeri” tanggal 9 Mei 2019, dijelaskan bahwa guru yang diundang dari luar bertujuan untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia. Tinggal menanti sekolah-sekolah mengusulkan kebutuhannya.
Belum jelas bagi saya, ilmu-ilmu apa yang dimaksudkan. Namun hal yang menarik perhatian adalah tanggapan banyak pihak menyangkut wacana ini.
Pro-Kontra Impor
Terdapat banyak pihak yang menyetujui wacana ini. Mereka menilai hal tersebut untuk mendukung rencana Presiden, yakni pemerataan infrastruktur, reformasi birokrasi, dan pengembangan SDM dalam persiapan menyongsong 100 tahun Kemerdekaan Indonesia dan memasuki era persaingan ekonomi global di mana Indonesia ditargetkan masuk dalam 5 besar bahkan 4 besar ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2045. Hal ini juga untuk menghindari Indonesia tidak masuk dalam “middle income trap”. (Middle Income Trap atau Perangkap Pendapatan Menengah adalah suatu keadaan ketika suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju).
Sedangkan pihak-pihak yang tidak menyetujui, menilai kebijakan Pemerintah (Menteri Puan) sebagai bentuk “penindasan”, pengkerdilan karakter guru dalam negeri. Para pihak yang kontra menganggap alangkah lebih penting meningkatkan kapasitas guru dalam negeri dan memperhatikan nasib guru-guru honorer yang sudah megabdi sekian banyak tahun bagi perkembangan Pendidikan di Indonesia dibanding mendatangkan guru dari luar negeri.
Beberapa guru yang sempat membangun diskusi bersama saya juga menyampaikan hal serupa. Ada yang keberatan dan ada pula yang setuju.
Guru-guru yang keberatan lebih menyoal ketidakpedulian pemerintah terkait nasib mereka yang mengabdi tanpa pamrih sebagai guru honorer dengan gaji yang amat kecil. Sedangkan yang setuju melihat wacana ini sebagai langkah terbaik untuk memotivasi guru dalam negeri demi meningkatkan kinerja mereka.
Sebagaimana saya ungkapkan sebelumnya bahwa secara pribadi saya pun masih mempertanyakan ilmu-ilmu seperti apa yang membutuhkan guru luar negeri. Apakah ilmu yang berhubungan dengan pembentukan dan perkembangan Karakter Peserta Didik? Peningkatan pemahaman konsep tentang Sains? Peningkatan kecakapan di bidang Sains, Teknologi dan Informasi? Penguatan kapasitas pemahaman tentang ilmu-ilmu terapan yang berbasis teknologi di era revolusi industri 4.0?
Kontribusi Universitas
Saat ini terdapat banyak universitas ternama di Indonesia yang menghasilkan lulusan yang berpotensi dan berkompeten dalam mengajarkan karakter melalui Pendidikan Karakter di sekolah-sekolah.
Tidak sedikit juga universitas yang menekankan dan telah menghasilkan tenaga pengajar yang memiliki pemahaman baik tentang konsep sains, dan bagaimana meningkatkan skill dalam bidang Sains, Teknolgi dan Informasi, serta ilmu-ilmu terapan lain berbasis teknologi.
Lantas apa yang mendorong Pemerintah ingin mengimpor guru luar negeri? Untuk mengajarkan ilmu-ilmu jenis manakah? Apakah betul sekolah-sekolah membutuhkan guru luar negeri?
Pesan untuk Semua Pemangku Kepentingan
Tulisan ini saya hadirkan untuk menyentil Pemerintah agar merinci serta menyampaikan secara jelas ilmu-ilmu jenis manakah yang benar-benar membutuhkan guru luar negeri.
Saya juga mencoba menyentil lembaga-lembaga pendidikan tinggi dalam upaya menghasilakan lulusan berkualitas; menggugah sekolah-sekolah, guru-guru dalam negeri untuk merefleksikan kapasitas diri dan kompetensinya; dan menggugat masyarakat untuk memberi penilaian serta memberi usul-saran terkait wacana pemerintah, termasuk menilai kualitas lulusan yang sudah dihasilakan banyak universitas di Indonesia saat ini.
Semua pemangku kepentingan kiranya mampu mendeteksi dan merekomendasikan kebutuhan pendidikan dalam negeri, dan urgensi mengimpor guru luar negeri.
Apakah yang menjadi evaluasi besar para pemangku kepentingan sehingga Pemerintah Indonesia merasa perlu mendatangkan guru-guru luar negeri? Sebagai bentuk pembelajaran bagi guru-guru dalam negerikah? Entahlah!
Pandangan Pribadi
Saya secara pribadi menyepakati keputusan Pemerintah mendatangkan guru luar negeri, asalkan itu sesuai tuntutan dan kebutuhan sekolah dalam negeri. Saya menyetujui niat ini jika memang (benar-benar) tidak tersedia tenaga pengajar di Indonesia sesuai bidang atau kualifikasi yang dibutuhkan.
Namun saya akan menjadi tidak sepakat jika guru yang didatangkan adalah tenaga-tenaga yang mampu disediakan sendiri di dalam negeri oleh berbagai lembaga pendidikan tinggi. Apabila kondisi ini yang terjadi saya boleh bertanya, apa pentingya mengimpor guru? Mengapa tidak ditingkatkan saja kualitas, kompetensi dan kualifikasi para guru dalam negeri? Mari berefleksi.
Penutup
Apapun pendapat saya, Anda dan pendapat kebanyakan orang lain kita sebagai warga masyarakat menanti saja penjelasan lebih lanjut dari Pemerintah terkait wacana ini. Kita menunggu kejelasan dari Pemerintah agar tidak sampai menimbulkan pro-kontra lebih luas di masyarakat.
Sembari kita berharap, semoga pendidikan di Indonesia dapat sampai pada bentuk pendidikan yang berhasil dan berdaya guna yang akan mampu menjawabi tantangan di era revolusi industri generasi keempat. (*/dari berbagai sumber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *