Buah Zakar pada Bayi Tidak Ada, Berbahayakah?

Oleh Made Kresna Y. Wiratma
Testis atau yang lebih dikenal dengan nama buah zakar merupakan salah satu organ reproduksi pria yang dapat menghasilkan hormon dan juga sperma. Normalnya testis berada didalam sebuah kantong yang disebut dengan skrotum, namun pada 1-3% bayi yang cukup bulan dan sekitar 15-30% pada bayi prematur, testis ini tidak berada pada posisi yang seharusnya. Apa
yang dapat terjadi jika testis ini tidak berada pada posisinya? Berbahayakah?
Testis yang tidak berada pada posisinya didalam skrotum disebut dengan kriptorkismus.
Kelainanan ini merupakan salah satu kelainan kongenital yang paling sering terjadi pada bayi
laki-laki saat kelahiran. Kriptorkismus lebih sering terjadi pada bayi prematur dibandingkan
dengan bayi yang cukup bulan, begitu juga angka kejadiannya lebih tinggi pada bayi dengan
berat badan lahir yang rendah ( kurang dari 2500 gram ), bahkan insidennya mendekati 100%
pada bayi dengan berat badan lahir kurang dari 900 gram. Banyak faktor yang diduga dapat
menyebabkan terjadinya kriptorkismus, seperti adanya gangguan regulasi hormon, kelainan genetik dan pengaruh lingkungan misalnya pestisida dan bahan kimia sintetik tertentu.
Jika tidak berada dalam skrotum dimanakah testis berada ? Jika tidak berada dalam skrotum
maka posisi testis bayi yang paling mungkin adalah didalam rongga perut. Hal ini bisa terjadi
karena normalnya perjalalan testis selalu berawal dari rongga perut sebelum akhirnya sampai
pada skrotum. Skrotum yang berada pada posisi luar tubuh memungkin testis untuk
mendapatkan suhu yang lebih rendah sebab jika testis berada dalam suhu yang tinggi maka sel
– sel atau jaringan testis tidak dapat bekerja secara optimal. Testis yang masih berada didalam
rongga perut hingga usia tertentu seperti pada kriptorkismus menyebabkan testis terpapar pada
suhu yang lebih tinggi sehingga fungsi testis akan perlahan – lahan menurun. Durasi lamanya
testis didalam rongga perut berbanding lurus dengan besarnya kerusakan testis. Menurunnya
fungsi testis ini akan menyebabkan terjadinya infertilitas atau kemandulan pada pria. Selain
daripada fungsi testis yang menurun, berdasarkan panduan penanganan infertilitas pria tahun
2015 yang disusun oleh Indonesian Urological Association akibat dari tidak turunnya testis ke dalam skrotum adalah terjadinya kanker testis. Kriptorkismus merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker testis dengan risiko sekitar tiga hingga tujuh kali lebih besar
dibandingkan populasi umum.
Kriptorkismus pada dasarnya dapat diobati namun hasilnya bergantung pada seberapa cepat kelainan ini diperbaiki. Tujuan dari terapi pada bayi dengan kriptorkismus adalah untuk mengurangi peningkatan resiko terjadinya kemandulan dikemudian hari dan juga mencegah terjadinya kanker testis. Menurut panduan penatalaksanaan Urologi Anak di Indonesia tahun
2016 yang diterbitkan oleh Indonesian Urological Aassociation, terapi harus dilakukan jika dalam batas waktu enam bulan testis bayi tidak berada pada skrotum. Salah satu jenis terapi yang direkomendasikan adalah dengan orchidopexy. Orchidopexy merupakan pembedahan
yang dapat dilakukan untuk mengembalikan posisi testis ke dalam skrotum pembedahan
orchidopexy ini paling baik dilakukan sebelum usia bayi 12 bulan dan paling lambat di usia
18 bulan. Angka keberhasilan terapi bedah pada kasus kriptorkismus adalah sekitar 70 – 90 %.
Terapi lain seperti hormonal tidak lagi dianjurkan karena dapat menghambat pertumbuhan dan
membahayakan sel benih
Kriptorkismus dapat menyebabkan beberapa kelainanan yang signifikan bagi bayi kita
dikemudian harinya. Ditambah lagi kasus kelaianan kriptorkismus merupakan kasus yang sering dijumpai pada bayi terutama pada bayi prematur dengan berat badan lahir yang rendah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *