Di Malaka, Caleg Partai Demokrat Keberatan Atas Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara di Dua Kecamatan

BETUN, TIMORline.com-Marius Boko, salah satu calon legislator Partai Demokrat di Daerah Pemilihan  (Dapil) Malaka-1 Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajukan keberatan atas Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara dalam Pleno di Tingkat Kecamatan.

Keberatan itu diajukan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Malaka,  Kamis (02/05/2019).

Dalam surat keberatan No. 01/Pri./V/2019 yang diterima TIMORline.com di Betun, Jumat (03//05/2019), Marius mengungkap adanya tindakan pengurangan dan penggelembungan suara antarcalon legislator yang menyebabkan keuntungan bagi salah satu calon anggota legislator dan merugikan calon anggota legislator lainnya.

“Ini terindikasi dari perbedaan rekapan perhitungan perolehan suara di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan di tingkat kecamatan”, tulis Marius.

Menurut Marius, indikasi terjadinya pengurangan dan penggelembungan suara itu terjadi di 11 desa di Kecamatan Malaka Tengah dan Kobalima. Rinciannya, delapan desa di Kecamatan Malaka Tengah, yakni Desa Bakiruk, Kamanasa, Wehali, Umakatahan, Umanen Lawalu, Lawalu, Barada dan Bereliku. Sedangkan tiga desa lainnya di Kecamatan Kobalima, yakni Desa Babulu, Rainawe dan Lakekun.

Mantan anggota DPRD Belu dari Partai Hanura itu menjelaskan, dugaan terjadinya pengurangan dan penggelembungan suara di desa-desa itu terjadi antara calon legislator Partai Demokrat Nomor Urut 1 Egidius Atok dan dirinya sendiri selaku calon anggota legislatif Nomor Urut 3. Keduanya maju calon melalui Partai Demokrat di Dapil-1 Malaka yang meliputi Kecamatan Malaka Tengah, Kobalima dan Kobalima Timur.

Di Desa Bakiruk Kecamatan Malaka Tengah, misalnya, tindakan pengurangan dan penggelembungan suara diduga kuat terjadi di TPS 7, 8 dan 9. Di TPS 7, Caleg No. Urut 3 Marius Boko mendapat 1 suara dan di TPS 9 mendapat 3 suara, sehingga total suara Marius menjadi 4 suara. Sedangkan di TPS 8, Caleg No. Urut 1 Egidius Atok mendapat 1 suara. Mirisnya, saat rapat pleno rekapitulasi  di tingkat kecamatan, hasil perolehan suara Marius dan Egidius  dibuat terbalik. Marius yang dalam penghitungan di TPS mendapat 4 suara menjadi 1 suara, sedangkan Egidius yang dalam penghitungan di TPS mendapat 1 suara berubah menjadi 4 suara.

Di Desa Kamanasa, Caleg Egidius yang dalam penghitungan di TPS memperoleh total 9 suara meningkat menjadi 29 suara saat rekapan perolehan suara di tingkat kecamatan. Sedangkan Marius yang dalam penghitungan di TPS meraub 75 suara mengalami penurunan menjadi 67 suara saat rekapan di tingkat kecamatan.

Di Desa Wehali, jumlah perolehan suara Caleg No. Urut 1 Egidius yang  totalnya 17 suara dalam penghitiungan di TPS berubah meningkat menjadi 26 suara saat penghitungan di tingkat kecamatan, sedangkan Caleg No. Urut 3 Marius yang total perolehan suaranya di TPS berjumlah 89 berubah menurun menjadi 81 suara saat penghitungan suara di tingkat kecamatan.

Modus serupa terjadi di lima desa lainnya di Kecamatan Malaka Tengah dan tiga desa lainnya lagi di Kecamatan Kobalima.

Marius berharap pengaduan keberatannya ini dapat ditindaklanjuti Bawaslu Kabupaten Malaka untuk mencari tahu penyebab dan atau kelalaian atas perhitungan suara tersebut agar selanjutnya dapat diperbaiki.

Ketua Bawaslu Kabupaten Malaka Pieter Nahak Manek yang dihubungi di kantornya mengaku  sudah menerima pengaduan keberatan Marius. Kepada Marius, Pieter sudah menjelaskan kewenangan lembaga yang dipimpinnya dalam menindaklanjuti suatu pengaduan atau keberatan peserta pemilu atau masyarakat terkait pemilu.

Menurut Pieter, Bawaslu hanya berwewenang menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan pelanggaran hukum, sedangkan tentang hasil perolehan suara, itu urusan KPU.

“Bawaslu dan KPU itu sama-sama penyelenggara pemilu tetapi wewenang berbeda. Kami punya tupoksi masing-masing”, demikian Pieter.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *