Paus Fransiskus Beri Penghargaan kepada Pastor dan Suster Perang Timor Leste-Indonesia

VATIKAN, TIMORline.com-Paus Fransiskus memberikan penghargaan kepada empat pastor dan seorang suster Timor Leste terkait perang Timor Leste-Indonesia. Keempat pastor dan suster itu dinilai berjuang mati-matian untuk tetap melayani umat dan masyarakat Timor Leste selama perang.

Diungkap, perang Timor Leste-Indonesia berlangsung dua kali. Pertama, pada 1975 ketika Timor Leste, waktu itu dikenal sebagai Timor-Timur, hendak masuk ke dalam wilayah pemerintahan Republik Indonesia.

Kedua, pada 1999 pascajajak pendapat penentuan nasib Timor Leste untuk berdiri sendiri sebagai sebuah negara.

Penyerahan medali penghargaan berlangsung dalam misa di Gereja Immaculate Conception Katedral Dili pada Selasa 19 Maret 2019.

Penghargaan Vatikan untuk imam, suster, bruder dan umat yang berjasa melayani gereja ini pertama kali diperkenalkan Paus Leo XIII pada 1888. Penghargaan ini bertujuan menghormati mereka yang berkontribusi luar biasa bagi pelayanan gereja.

Mereka yang menerima penghargaan adalah Romo Francisco dos Santos Fatima Barreto, Romo Francisco Tavares, Romo Eligio Locatelli, Romo Jose Alves Martins dan Suster Maria Chioda FdCC.

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Perwakilan Tahta Suci Mgr Marco Sprizzi bersama Uskup Dili Mgr Virgilio do Carmo da Silva, SDB.

Mgr Marco Sprizzi sebagaimana diberitakan ucannews.com mengatakan, kehormatan ini diberikan agar orang-orang terus percaya pada Gereja Katolik dan setia mengikuti Kristus,” kata Perwakilan Vatikan.

Ia melanjutkan, Paus Fransiskus memberikan penghargaan kepada empat imam dan suster tersebut karena mereka telah mendedikasikan hidup mereka untuk gereja selama beberapa dekade.

Romo Francisco dos Santos Fatima Barreto sendiri adalah imam asli Timor Leste. Ia ditahbiskan pada 1977, hanya dua tahun pascaperang pertama Indonesia-Timor Leste pecah.

Ia mengaku, penghargaan Paus Fransiskus adalah sebuah kejutan baginya. “Saya hanya bekerja sesuai dengan Injil, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan hidup saya,” kata Romo Barreto.

Di Timor Leste, Pastor Barreto dikenal sebagai salah satu sosok yang berusaha sekuat tenaga mencegah tentara Indonesia melukai orang Timor Leste selama bertahun-tahun hingga Timor Leste dinyatakan merdeka pada 2002.

Saat ini Romo Barreto melayani di Rumah Sakit Nasional Guido Valdares dan Penjara Becora, sama-sama terletak di Dili.

Hal setia melayani gereja di masa-masa sulit juga dilakukan Romo Francisco Tavares, Romo Eligio Locatelli yang berasal dari Italia, Romo Jose Alves Martins yang berasal dari Portugis, dan Suster Maria Chioda yang berasal dari Italia.

Suster Chioda, saat ini berusia 79 tahun. Dia tiba di Timor Leste ketika berusia 27 tahun. Ia mengaku sangat menghargai pengakuan Paus Fransiskus atas karya-karya mereka di Timor Leste.

Sejak tiba di Distrik Manatuto pada 1966, Suster Chioda berperan penting dalam mendirikan Canossian College. Di sana, dia mengajarkan berbagai keterampilan kepada wanita seperti menjahit, menyulam dan keterampilan pastoral lainnya.

Sementara Romo Locatelli tiba di Timor Leste pada 1964 ketika masih di bawah pemerintahan kolonial Portugis. Ia berusaha mendirikan Fatumaca College Distrik Baucau, 149 kilometer ke arah timur Dili.

Estanislau de Sousa Fatima yang bekerja di Fatumaca College mengakui imam asal Italia itu sepenuhnya layak menerima penghargaan tersebut.

Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *