Putera Sulung Bupati Malaka Mengaku Dinistai secara Sosial

BETUN, TIMORline.com-Putera sulung bupati Malaka  Christian Dionisius Bria Seran membantah terlibat pengeroyokan  Rondy Mallo, salah satu warga Desa Litamali Kecamatan Kobalima Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penegasan itu disampaikan Dion, begitu akrabnya Dionisius, kepada wartawan di Betun, ibukota Kabupaten Malaka, Kamis (11/04/2019).

Dion mengungkapkan hal itu berkaitan dengan pemberitaan media satu  pekan  terakhir. Dalam pemberitaan itu, Dion disebut-sebut terlibat pengeroyokan  Rondy Mallo.

“Saya tidak terlibat pengeroyokan. Pemberitaan itu  tidak benar dan sangat menyesatkan. Pemberitaan itu adalah penistaan sosial  terhadap saya. Sebab, berita-berita itu tidak ada narasumber. Saya sendiri tidak pernah dikonfirmasi media-media itu. Yang diberitakan Rondy, Rondy dan Rondy. Lalu saya apa”, tandas Dion.

Dokter muda ini bilang  sempat bertemu dengan  Rondy. Rondy menawarkan untuk  berdiskusi tentang berbagai hal di Kabupaten Malaka. Tetapi, Dion tidak meladeninya.  Karena menolak diskusi, Rondy diduga mengatai Dion sebagai pengecut. Karena itulah Rondy dan Dion terlibat pertengkaran mulut. Kuatir mengganggu suasana resepsi pelantikan sejumlah pejabat struktural dan fungsional saat itu, sejumlah anggota Polisi Pamong Praja (Pol PP) membawa Rondy menjauh dari Dion.

“Sebagai manusia biasa, kalau saya dikatai pengecut, pasti saya marah. Tapi, saya tahan diri, bisa mengendalikan diri. Sehingga, yang jelas dan benar, saya tidak pukul (Rondy). Kenapa dalam pemberitaan itu saya dibilang pukul, bahkan dibilang keroyok. Ini sangat menyesatkan dan saya dinistai secara sosial”, demikian Dion.

Robby Koen, saksi mata di tempat kejadian perkara (TKP) menguatkan keterangan Dion. Menurut Robby, dokter Dion sempat bertemu Rondy. Katanya mau bertemu Bupati Malaka untuk mendiskusikan beberapa hal di Kabupaten Malaka.

Tetapi, menurut Robby, dari gerak-geriknya terkesan ada hal yang dipendam Rondy. Rondy juga terkesan dalam keadaan mabuk.

“Kesannya Rondy itu tidak suka Pak Dion”, kata Robby.

Menurut Robby, sebelumnya Rondy sempat bertemu dokter Dion. Tempatnya di dalam tenda kegiatan pelantikan. “Jadi, sebetulnya Rondy yang datang ketemu Pak Dion di tenda, bukan Pak Dion yang ketemu  Rondy. Lagaknya mau pukul Pak Dion”, tandas Robby.

Gerak-gerik mencurigakan itulah yang mau dihindari dokter Dion. Saat menghindar, warga  sekitar dan yang menghadiri acara pelantikan pada berkerumun. Melihat  kerumunan warga, nyali Pol PP muncul. Mereka menghindarkan Rondy.

“Jujur saja, pak dokter Dion tidak pukul Rondy”, kata Robby.

Hal ini diperkuat Martinus Bere alias Manjo. Kepala Bagian Pembangunan pada Sekretariat Kabupaten (Sekkab) Malaka ini mempunyai kesan Rondy mau pukul dokter Dion dan ingin mengacaukan suasana kegiatan  pelantikan penjabat kepala desa, pejabat struktural dan fungsional yang dilakukan Bupati Malaka di Pantai Lo’odik.

Sebab, kegiatan pelantikan dimulai pukul 11.00 wita. Tetapi, dia datang ke tenda untuk bertemu dokter Dion sekira pukul 16.30 wita. Dia minta diskusi dengan pak bupati.

“Pelantikan ini kegiatan resmi pemerintahan. Tidak ada diskusi. Kalau mau diskusi, silahkan atur waktu bertemu Pak Bupati”, tandas Manjo.

Manjo  mengaku justru dia yang mengantar Rondy ke rumahnya. Sebab, dia tidak ingin terjadi apa-apa antara dokter Dion dan Rondy.

Menurut Manjo, saat Rondy dipeluk untuk dibawa pulang ke rumahnya, dari mulutnya keluar bau alkohol yang tidak sedap.

“Jadi, saya tahu persis, dokter Dion tidak pukul Rondy. Sedangkan Rondy dalam keadaan mabuk”, demikian Manjo.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *