Putus, Infrastruktur Jalan Sabuk Merah Kabupaten Malaka Bagian Timur

BETUN, TIMORline.com-Pembangunan infrastruktur jalan sabuk merah di wilayah bagian timur Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) putus. Kondisi ini menjadi tontonan mata telanjang keseharian warga setempat. Sampai kapan kondisi jalan ini dibiarkan tak diperbaiki,  entahlah.

Pada Kamis (21/03/2019) siang,  TIMORline.com berada langsung di lokasi. Terlihat, kondisi jalan yang putus itu terdapat di wilayah Desa Alas Kecamatan Kobalima Timur. Titik ini panjangnya diperkirakan 100 meter. Badan jalan mengalami penurunan, pergeseran dan longsoran berat dari arah barat ke timur.

Sehingga, badan jalan yang sebelumnya rata dan utuh-mulus, kini berantakan. Di sisi kiri dari arah barat ada jalan darurat yang bisa dilewati kendaraan roda dua dan empat. Permukaannya berbentuk legong. Sehingga, saat melintas harus ekstra hati-hati. Sebab, jalan darurat ini berada langsung di bawah tebing. Penahan jalan mengalami longsoran yang terlihat berkeping-keping. Ada  kepingan longsoran yang masih tergantung di dinding tebing. Ada pula yang mengalami pergeseran.

Di ujung badan jalan yang putus, ada tulisan: Hati2 Ada Longsor. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Bila ada dua atau lebih kendaraan yang datang dari arah berbeda, kendaraan yang datang dari salah satu arah, termasuk kendaraan roda dua,  harus bertahan dulu. Lalu, memberikan kesempatan kepada kendaraan yang datang dari arah lainnya lewat. Di ujung badan jalan bagian barat terdapat tulisan besar warna putih bilang: Hati2 Ada Longsor.

Pastor Paroki Salib Suci Alas Johanes Napan, SVD yang hendak melintas menggunakan sepeda motor, terpaksa turun. Dia lebih memilih berjalan kaki. Sedangkan joki yang memboncengnya dibiarkan lewat menggunakan sepeda motor.

“Saya takut, pak wartawan. Lebih baik turun jalan kaki daripada jatuh lalu kita persalahkan orang yang bawa kita”, kata Pater Johanes kepada TIMORline.com yang sementara mengambil gambar.

Pastor ini hanya mengeluhkan kondisi jalan yang putus. Tetapi, untuk mengomentarinya. Pater Johanes bilang itu bukan tugasnya.

Salah satu titik jalan sabuk merah perbatasan IRI-RDTL di Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur yang nyaris putus. Gambar diambil Kamis 21 Maret 2019. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di sebelah titik ini,  ada titik lain yang badan jalannya nyaris putus. Letaknya di wilayah Desa Kota Biru, masih dalam wilayah Kecamatan Kobalima Timur. Di titik ini, sebagian besar badan jalan yang panjangnya diperkirakan 100 meter lebih sudah longsor ke arah barat. Badan jalan yang tersisa hanya satu meter. Kendaraan yang lewat di sini hanya untuk satu kendaraan. Tapi, harus ekstra hati-hati. Karena permukaan jalannya sudah retak.

Saat TIMORline.com mengambil gambar, permukaan badan jalan yang diinjak terasa goncang. Di titik ini, terdapat tujuh buah drum kosong yang diberi tanda putih sebagai isyarat bagi para pengguna jalan untuk hati-hati. Dua drum di antaranya ikut jatuh dibawa kepingan longsoran badan jalan. Beberapa ekor kambing milik warga setempat tampak santai di tengah-tengah kepingan longsoran badan jalan.

Salah satu titik jalan sabuk merah perbatasan RI-RDTL di Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur yang mengalami keretakan. Gambar diambil Kamis 21 Maret 2019. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Tak jauh dari sini, ada titik lain pula yang sudah retak. Di sini, warga memasang tanda hati-hati bagi para pelintas menggunakan dahan kayu.

Sekretaris Desa Kota Biru Rikhardus Fahik mengaku bingung dengan kondisi jalan sabuk merah di wilayah desanya dan desa tetangga. “Jalan yang putus sudah satu bulan lebih. Itu di desa tetangga. Tetapi, belum diperbaiki. Sedangkan beberapa titik di kita punya desa ini (Desa Kota Biru, red) ada yang hampir putus. Titik lainnya retak berat. Lama-lama orang Alas tidak bisa ke kabupaten atau sebaliknya”, tandas Rikhardus.

Camat Kobalima Timur Wens Leky berharap kontraktor segera perbaiki jalan yang putus, longsor dan retak. Sebab, sebagai jalan negara, jalan sabuk merah harus aman dan nyaman. “Kawasan perbatasan ini pintu gerbang negeri. Jadi, harus menjadi cermin kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat”, demikian Camat Wens.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *