Resmikan Bedah Rumah, Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Disambut secara Adat di Malaka

KOMANDAN Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Dansatgas Pamtas) Republik Indonesia-Republik Demokratik Timor Leste (RI-RDTL) Mayor (Inf) Hendra Saputra yang selama ini berkedudukan di Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), disambut meriah secara adat di Kabupaten Malaka, Kamis (21/03/2019).

Penyambutan itu bersamaan dengan peresmian hasil bedah rumah  yang dilakukan anggota Satgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL kepada dua kepala keluarga (KK) warga Malaka. KK yang satu berada di Dusun Niamuti Desa Tniumanu Kecamatan Laenmanen. KK ini adalah pasangan suami-istri Markus Riu Sako-Rofina Olin Mau. Saat ini Markus berumur 120 tahun. Kedua matanya sudah buta sejak 11 tahun lalu. Sedangkan Rofina berumur 95 tahun.  Mata sebelah kiri sudah buta. Selama puluhan tahun, pasangan ini hidup di rumah tidak layak huni. Tiga anak laki-laki tinggalkan mereka dan merantau di Malaysia. Ketiganya, sejak 21 tahun lalu hilang kontak dengan bapak Markus dan mama Rofina.

Sedangkan KK lainnya berada di Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur. Yang menjadi sasaran bedah rumah adalah pasangan suami-istri Hironimus Mau-Brigita Hoar. Secara fisik, keduanya masih tergolong kuat. Tetapi, anggota KK-nya diinformasikan berjumlah sekira 13 orang. Pasangan suami-istri ini tidak sendirian. Ada pula menantu, anak dan cucu.

Kondisi kehidupan pasangan Markus-Rofina dan Hironimus-Brigita sampai ke telinga Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Mayor Inf Hendra Saputra. Informasinya diperoleh melalui media sosial, wartawan, pemimpin agama, Orang Muda Katolik (OMK), tokoh adat, tetangga, masyarakat dan anggota Satgas Pamtas. Informasinya tersebar begitu cepat. Tetapi, anggota Satgas Pamtas bertindak lebih cepat.

Petrus Manek, salah satu warga Desa Tniumanu, misalnya,  mengakui kalau saat bedah rumah milik Markus, anggota Satgas Pamtas dan Babinsa tidur langsung di lokasi. Mereka berbaur dengan masyarakat kampung Dusun Niamuti. Semangat dan tekad yang kuat membuat mereka kompak untuk menyelesaikan bedah rumah milik Markus dalam waktu satu bulan 10 hari.

“Waktu kerjanya satu bulan sembilan hari. Pada hari ke-10 hari ini, rumah ini diresmikan”, kata Petrus.

Mayor Hendra selaku pimpinan Satgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL yang membawahi wilayah Kabupate Kupang, TTU dan Malaka itu hadir di sana untuk meresmikan hasil bedah rumah milik Markus-Rofina.

Sekira pukul 10.00 wita, Mayor Hendra tiba di Dusun Niamuti. Ada sebuah gapura sederhana yang dihias pakai janur kelapa. Polos, tidak ada tulisan apa-apa. Beberapa meter dari gapura ini, Mayor Hendra ditemani Camat Laenmanen Blasius Berek Bau, Pastor Paroki Santa Maria Fatima Nurobo Pater Gabriel Yosef Nama Ola, CMF dan salah seorang tokoh agama. Di belakangnya ada sejumlah anggota Satgas Pamtas.

Di bawah gapura tadi, Mayor Hendra, Camat Blasius dan Pater Gabriel bersama sejumlah anggota Satgas Pamtas diterima secara adat. Rombongan penjemputnya adalah ibu-ibu dalam balutan kain tenunan adat Dawan-Malaka. Mereka kompak dalam tarian likurai dengan meliuk-liukkan badan. Ini mengundang tepuk tangan gembira warga yang hadir. Para penari likurai ini mengantar Mayor Hendra, Camat Blasius dan Pater Gabriel sampai beberapa meter sebelum memasuki tenda acara.

Beberapa tokoh adat Desa Tniumanu memberi nase’ atau tegur-sapa adat kepada Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Mayor Inf Hendra Saputra di Dusun Niamuti, Kamis (21/03/2019). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di depan tenda acara, beberapa tokoh adat sudah menunggu. Salah satu di antaranya bertindak sebagai juru bicara. Mereka melakukan tegur-sapa kepada Mayor Hendra dan tetamu lainnya menggunakan tutur adat yang dalam bahasa Dawan-Malaka disebut nase’ atau bahasa Tetun-Malaka dikenal dengan hase hawaka.

Dalam tutur adat nase’ ini, sang juru bicara menapak tilas perjalanan Mayor Hendra dari TTU hingga Niamuti-Malaka. Tutur adat itu kemudian diakhiri dengan jawaban: ‘he e’ dari warga yang ada, yang berarti menyetujui kedatangan sang tamu (baca: Mayor Hendra, red) memasuki kampung itu. Persetujuan   atau perkenanan warga itu ditandai dengan pengalungan sehelai selendang tenunan kepada Mayor Hendra. Mayor Hendra dan para tamu pun dipersilahkan masuk.

Selanjutnya, tegur-sapa dilakukan secara adat dengan menyuguhkan sirih-pinang. Dalam bahasa adat Dawan-Malaka disebut mapua atau Tetun-Malaka disebut lok. Tarian mapua atau lok ini dibawakan empat gadis OMK Paroki Santa Maria Fatima Nurobo.

Tegur-sapa adat mapua dari seorang gadis Laenmanen kepada Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Mayor Inf Hendra Saputra di Dusun Niamuti Desa Tniumanu Kecamatan Laenmanen, Kamis (21/03/2019). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Setiba di depan meja para tamu, dua penari berhenti bersamaan. Lalu, mereka memberi isyarat menggunakan tangan mempersilahkan Mayor Hendra bersama tamu lainnya untuk mencicipi sirih-pinang yang disuguhkan.

Sebelum mencicipi sirih-pinang, seorang tokoh adat maju menjelaskan dalam bahasa Dawan tentang sirih-pinang itu. Terjemahan bebas sebagian bilang, “sirih-pinang itu adalah sirih-pinang Malaka. Sirih-pinang pengikat sejuta hati. Buah dan daun penawar segala rasa. Bawa pulang ke rumah bila berkenan. Bila tidak, jangan marah, tinggalkan di sini”.

Penyambutan serupa dilakukan warga Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur terhadap Mayor Hendra pada sore harinya. Di sana, sejak pagi warga sudah menunggu. Puluhan anggota Satgas Pamtas berbaur dengan mereka.

Brigita Hoar selaku tuan rumah mengalungkan sehelai selendang kepada Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Mayor Inf Hendra Saputra. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Kali ini, tidak ada tarian segala seperti di Niamuti-Laenmanen. Tegur-sapa secara adat dalam bahasa Tetun-Malaka dilakukan seorang tokoh adat yang disebut hase hawaka di depan pintu pagar rumah milik Hironimus Mau-Brigita Hoar. Inilah rumah hasil bedah rumah yang dilakukan anggota Satgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTTL.

Seusai hase hawaka, Brigita didampingi suaminya sebagai pemilik rumahlah yang langsung mengalungkan sehelai selendang ke pundak Mayor Hendra.

“Rumah ini dikerjakan dalam waktu 10 hari. Yang kerja itu anggota semua (maksudnya: anggota Satgas Pamtas, red). Kita datang hanya nonton. Kita baru pegang kayu, anggota bilang jangan. Anggota bilang, ini kami yang kerja. Ini kami punya pekerjaan”, kata Yoseph Bere sebagai tuan rumah.

Mayor Hendra bilang, orang Timor itu sangat ramah. Adatnya masih kuat. “Sopan santun sangat dijunjung tinggi. Sehingga, siapa yang datang di Timor harus tahu adat dan budaya di sini”, demikian Mayor Hendra.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *