Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Resmikan Bedah Rumah di Malaka

BETUN, TIMORline.com-Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Dansatgas Pamtas) Sektor Barat Republik Indonesia-Republik Demokratik Timor Leste (RI-RDTL) Mayor (Inf) Hendra Saputra, Kamis (21/03/2019), meresmikan hasil bedah rumah yang dilakukan anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 741/Garuda Nusantara di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bedah rumah itu dilakukan di tempat berbeda dengan sasaran penerima berbeda pula. Tadi pagi, peresmian dilakukan terhadap hasil bedah rumah milik pasangan suami-istri Markus Riu Sako (120) dan Rofina Olin Mau (95). Pasangan ini berdomisili di Dusun Niamuti Desa Tniumanu Kecamatan Laenmanen.

Sedangkan siang tadi, peresmian dilakukan terhadap hasil bedah rumah milik pasangan suami-istri Hironimus Mau dan Brigita Hoar. Pasangan ini berdomisili di Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur.

Dansatgas Pamtas Mayor (Inf) Hendra Saputra menjelaskan, tugas TNI di perbatasan adalah menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, TNI juga mempunyai misi sosial.

“Program bedah rumah warga yang dilakukan dan hasilnya diresmikan hari ini adalah misi sosial yang diemban TNI di perbatasan RI-RDTL”, kata Mayor Hendra.

Mayor Hendra mengisahkan, awalnya Satgas Pamtas Sektor Barat yang dipimpinnya memperoleh informasi melalui media sosial dibantu teman-teman wartawan kalau ada warga Malaka di Dusun Niamuti Kecamatan Laenmanen yang perlu dibantu. Atas informasi itu, Mayor Hendra langsung memerintahkan anggotanya untuk cek langsung di lokasi.

Tetapi, sebelum ke lokasi, anggotanya terlebih dahulu bertemu dengan Pastor Paroki Santa Maria Fatima Nurobo Pater Gabriel Yosef Nama Ola, CMF.

“Melalui pastor paroki, anggota memastikan, benar ada warga Malaka di Dusun Niamuti yang perlu dibantu melalui program bedah rumah. Anggota saya mendapat dukungan dari pastor paroki, anak-anak muda, tetangga dan masyarakat Desa Tniumanu. Terimakasih untuk semuanya”, kata Mayor Hendra.

Menurut dia, tentara itu berasal dari rakyat dan akan kembali ke masyarakat. Sehingga, meskipun terkesan tampan mereka seram-seram tetapi mereka baik. Sebab, tentara datang bukan untuk mencari musuh tetapi menjadi keluarga. “Kami juga datang tidak ada unsur politik apa pun”, demikian Mayor Hendra.

Dia bangga dengan anak-anak muda Paroki Santa Maria Fatima Nurobo yang peduli dengan orangtua di sekitar lingkungannya. Sebab, atas kerja keras mereka bekerjasama dengan gereja dan satgas pamtas, sebuah rumah layak huni bisa ditempati pasangan tua Markus Sako dan Rofina Olin.

Camat Laenmanen Blasius Berek Bau berterimakasih tak henti-hentinya atas bedah rumah yang dilakukan Satgas Pamtas kepada warganya.

Bedah rumah itu dilihatnya sebagai anugerah Tuhan melalui keluarga-keluarga yang tidak berdaya. “Kita harus peduli terhadap mereka yang tidak berdaya. Tetapi, saya minta maaf karena tidak pernah hadir selama kegiatan bedah rumah ini”, demikian Camat Blasius.

Pastor Paroki Santa Maria Fatima Nurobo Pater Gabriel Yosef Nama Ola, CMF mengungkapkan, bedah rumah yang dilakukan bagi pasangan Markus dan Rofina adalah rumah ke-9.

“Delapan rumah lain tidak diekspose sehingga orang lain tidak tahu. Mereka dua ini sudah puluhan tahun tidak ke gereja. Mereka buka semuanya kepada kami saat doa di rumah. Di tempat tidur ada salib besar. Mereka termasuk orang beriman. Iman itulah yang menyelamatkan bapak Markus dan mama Rofina. Melalui Satgas Pamtas, sebuah  rumah layak dihuni dibangun bagi bapak Markus dan mama Rofina”, demikian Pater Gabriel.

Dua anggota Satgas Pamtas RI-RDTL dibantu keluarga menggotong Markus Riu Sako saat peresmian bedah rumahnya di Dusun Niamuti Desa Tniumanu Kecamatan Laenmanen Kabupaten Malaka, Kamis (21/03/2019). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Pasangan tua Markus dan Rofina mempunyai lima anak, dua perempuan dan tiga laki-laki. Satu perempuan di antaranya sudah meninggal dan tinggal empat. Dari empat orang itu, tiga laki-laki ada di Malaysia. Tetapi, sejak 21 tahun lalu ketiganya hilang kontak dengan orangtua. Sementara Markus sebagai ayah sudah sangat-sangat tua. Saat ini dia berumur 120 tahun. Kedua matanya juga sudah buta. Sedangkan istrinya, Rofina, saat ini berusia 95 tahun. Mata sebelah kiri sudah buta.

Dalam keseharian, untuk urusan makan, minum, buang hajat, dan lainnya, Markus ditolong salah seorang cucunya yang masih kecil.

Markus dan Rofina yang ditemui TIMORline.com di dalam rumah lamanya, tidak bisa omong apa-apa terkait bedah rumah yang diberikan TNI.

“Kami mau omong apa, pak”, kata Rofina singkat. Sedangkan Markus yang duduk di sampingnya hanya menatap kosong.

Petrus Manek, salah satu warga setempat, mengatakan, semula mereka mau bangun Markus dan Rofina pakai kayu bulat. Tetapi, pastor paroki tidak mau. Atas bantuan Satgas Pamtas, rumahnya dibangun  permanen seperti yang terlihat ini.

“Rumah ini dibangun dalam waktu satu bulan 10 hari”, kata Petrus.

Acara peresmian bedah rumah ini ditandai dengan pengguntingan pita yang dilakukan Dansatgas Pamtas Sektor Barat RI-RDTL Mayor (Inf) Hendra Saputra.

Saat pintu rumah dibuka, dua anggota Satgas Pamtas dibantu keluarga menggotong masuk Markus diikuti istri, anggota Satgas Pamtas lainnya, pastor paroki Nurobo, sejumlah aktivis Orang Muda Katolik (OMK) dan tetangga.

Dansatgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat RI-RDTL Mayor (Inf) Hendra Saputra (tengah belakang) bersama anggota dan pasangan suami-istri Hironimus Mau-Brigita Hoar saat peresmian bedah rumah mereka di Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur Kabupaten Malaka, Kamis (21/03/2019). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di tempat terpisah, tepatnya di Desa Kota Biru Kecamatan Kobalima Timur, Mayor Hendra meresmikan bedah rumah milik pasangan suami-istri Hironimus Mau dan Brigita Hoar.

Yoseph Bere selaku tuan rumah mengatakan, bedah rumah yang dilakukan anggota Satgas Pamtas merupakan bukti nyata karya putera-puteri Indonesia bagi masyarakat, bangsa dan negara.

“Kami ingin merasakan karya-karya TNI di perbatasan” demikian Yoseph.

Camat Kobalima Timur Wens Leky mengungkap, bedah rumah itu dilakukan dalam waktu 10 hari. “Ini kerja nyata yang luar biasa. Sekarang Yonif 741/Garuda Nusantara mau buat apa lagi. Kalau bisa, tambah satu rumah lagi”, katanya.

Menurut Camat Wens, bedah rumah ini contoh yang sangat menginspirasi bagi para kepala desa di wilayahnya.

“Kepala desa yang mau bangun rumah bagi masyarakat jangan bangun setengah-setengah. Ini ditunjukkan Satgas Pamtas saat bedah rumah bapak Hironimus. Kita datang hanya jadi penonton dan malu sendiri. Sebab, anggota Satgas yang kerja tidak mau kita terlibat kerja. Katanya itu tugas Satgas”, demikian Camat Wens.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *