Proyek Pokir Dua Anggota DPRD Sikka Mubazir, PPK Lapor Terealisasi 100 Persen

MAUMERE, TIMORline.com-Proyek Pokok Pikiran (Pokir) dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mubazir di Desa Nirangkliung Kecamatan Nita. Mirisnya, proyek jalan rabat ini dilaporkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah terealisasi 100 persen. Bahkan, dananya juga dilaporkan sudah cair 100 persen.

Hal ini diungkap Kepala Bagian (Kabag) Pembangunan Sekretariat Kabupaten (Setkab) Sikka Femmy Bapa sebagaimana disiarkan Ekorantt.com.

Menurut Kabag Femmy, CV Sinde selaku kontraktor pelaksana tidak bisa menyelesaikan kegiatannya sesuai kontrak kerja yang ditentukan terhitung Desember 2017. Kontraktor pada akhirnya diberi tambahan waktu kerja 50 hari.

Femmy mengaku kaget karena fakta yang ada di lapangan berbeda dengan laporan yang diterimanya dari PPK. Karena itulah, dalam waktu dekat, pihaknya akan turun ke lapangan untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev).

“Pada 2017 memang ada rasionalisasi anggaran. Bisa jadi proyek tersebut terkena rasionalisasi. Tapi, kami akan turun lapangan untuk mengetahui kondisi yang sesungguhnya,” katanya.

Proyek jalan rabat ini merupakan proyek usulan dua anggota DPRD Sikka, Donatus David dan Beatus W. Djogo.  Letaknya di dua titik dengan volume 500 meter. Satu titik di Dusun Watuwulang dengan volume 400 meter. Sedangkan titik lainnya di Dusun Detuara dengan volume 100 meter. Total anggarannya Rp400 juta.

Warga Detuara, Sebastianus Sintu yang dihubungi TIMORline.com melalui telepon selulernya, Jumat (15/03/2019) siang menjelaskan, proyek rabat jalan di kampung ini sudah dua tahun dibiarkan, tidak dikerjakan.  Kontraktor malahan kemudian datang ambil mesin molennya secara sepihak. Tetapi, mesin molen itu disegel warga dengan membuat pagar darurat keliling.

“Kami tahu, mesin molen itu bukan milik kami. Sehingga, kami buat pagar keliling bukan untuk memilikinya. Tetapi, kami ingin meminta pertanggungjawaban kontraktor kenapa proyek pokir itu dibiarkan mubazir”, katanya.

Kondisi pengerjaan proyek yang demikian ternyata sangat mengecewakan warga Dusun Detuara. Karena itulah pada awal pekan lalu, tepatnya Minggu (03/03/2019)  siang, warga ramai-ramai mengumpulkan kayu gamal dan bambu. Sebagai ungkapan kekecewaaan mereka, warga membuat pagar keliling menyegel dua buah molen milik CV Sinde yang tak terurus di lokasi.

Mereka datang secara spontan ke lokasi proyek setelah mendapat informasi kalau hari itu kontraktor CV Sinde yang bernama Loly datang ke Detuara untuk mengambil kembali dua unit mesin molen tersebut.

Diduga kuat, dua unit mesin molen itu ditinggalkan tak terurus karena kontraktor CV Sinde sudah tidak sanggup menyelesaikan proyek rabat jalan di kampung itu.

Sintu mengatakan, warga Dusun Detuara butuh penjelasan kontraktor sebelum mengambil alat perusahaannya untuk pakai kerja di tempat lain.  Sebab, dia tidak menginginkan warga setempat dibodohi.

“Jangan bodohi kami. Datang di sini omong enak semua. Kami sudah korban waktu dan tenaga, giliran kerja malahan pergi kerja di lain tempat,” tambah Sintu.

Untuk  mengambil mesin molennya, Loly selaku Direktur CV Sinde datang ke lokasi proyek bersama pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR). Bagi Sintu, kontraktor dan Dinas PU-PR Kabupaten Sikka harus bertanggungjawab. “Mereka harus bertangungjawab. Sebab, proyek ini sudah dua tahun mubazir tapi tidak ada penjelasan apa-apa dari kontrktor dan dinas. Ini sangat mengecewakan kami”, katanya.

Mengutip pernyataan Loly saat dialog, Sintu mengatakan, ada upaya lempar tanggungjawab dari kontraktor ke Dinas PU-PR, dan sebaliknya. Sebab, saat dialog, kata Sintu,  Loly mengatakan, pihaknya hanya disuruh kerja oleh Dinas PU-PR.

Sehingga, bila  warga ingin tahu nasib proyek usulan anggota DPRD Sikka, Donatus David dan Beatus W. Djogo tersebut, Loly menyuruh warga bertanya di Dinas PU-PR Kabupaten Sikka.

Sintu membeberkan, untuk kondisi terakhir saat ini, pekerjaan yang di titik Watuwulang 400 meter sudah selesai dikerjakan. Sedangkan Detuara yang volume pekerjaannya 100 meter belum dikerjakan.

“Untuk Detuara, kontraktor bawa semen 150 zak yang saat ini sudah membatu. Ada kerikil 2 reit. Pasir 3 atau 4 reit.   Ada juga fiber air. Ini proyek tahun anggaran 2017. PPK bilang proyek selesai 100 persen. Dananya juga sudah cair 100 persen. Semuanya 100 persen. Tapi, coba lihat di lapangan, apanya yang 100 persen”, demikian Sintu.

Terkait progres proyek ini, Kepala Dinas PU-PR Kabupaten Sikka Tommy Lameng sebagaimana dikutip Ekorantt.com, menilai tindakan warga menyegel mesin molen milik CV Sinde itu baik.

“Baik kalau warga buat begitu. Sebab, CV Sinde harus bertanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada, bukan memindahkan alat perusahaan untuk pakai kerja di tempat lain,” kata Lameng.

Editor: Cyriakus Kiik

Sumber: ekorantt.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *