Bupati Belu Tinjau Kebun Budidaya Maek Bako di Desa Kewar

WELULI, TIMORline.com-Bupati Belu Willybrodus Lay meninjau Kebun Budidaya Maek Bako di Desa Kewar Kecamatan Lamaknen, wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, Rabu (13/03/2019).

Peninjauan itu dilakukan bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sedangkan Camat Lamaknen Christo Loemau bersama para kepala desa se-Kecamatan Lamaknen dan masyarakat Desa Kewar menunggu di kebun budidaya maek bako Desa Kewar yang diberi nama Kebun Sakar.

Setiba di Pondok Kebun Sakar, Bupati Willybrodus diterima secara adat. Ini ditandai dengan pengalungan selembar sarung tenunan adat setempat yang dilakukan seorang ibu kepada Bupati Willybrodus.

Kepala Desa Kewar Valentinus Siri Loko dalam laporannya mengungkap berbagai kondisi terkini yang ada di desa itu. Antara lain tentang jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah pemanfaat beras pra sejahtera (rastra), pemanfaat program keluarga sejahtera (PKH), jumlah ibu hamil, jumlah bayi/balita, penderita gizi buruk/gizi kurang dan lainnya.

Mateus Bere Bau selaku pemilik Kebun Sakar yang menjadikan kebunnya lokasi budidaya maek bako menyatakan kegembiraannya kepada Bupati Willybrodus yang berkunjung ke Desa Kewar sekaligus meninjau Kebun Sakar.

Menurut Mateus, maek bako di kebunnya ditanam di atas lahan seluas 12 hektar. Bibitnya diambil dari hutan.

“Masyarakat di sini suka tanam dan jual maek bako. Tetapi, mereka sendiri tidak tanam di kebun. Kalau mau jual baru ambil atau gali di hutan. Daripada ambil atau gali di hutan, lebih baik tanam sendiri di kebun”, kata Mateus.

Mateus yang anggota DPRD Belu itu mengaku usaha budidaya maek bako yang dilakukannya sejak dua tahun itu diawali dengan bincang-bincang tak resminya dengan Bupati Willybrodus di atas mobil.

Bincang-bincang itu berangkat dari salah satu program prioritas Bupati Willybrodus, yakni penanaman maek bako. Pertanyaannya waktu itu, kata Mateus, program maek bako itu bagaimana, apakah ada pasar?

“Pak bupati bilang, maek bako itu punya nilai ekspor. Karena bupati bilang begitu, saya tanam. Tanam untuk mendukung program pemerintah karena memang kita diatur pemerintah. Kalau program pemerintah baik dan bisa meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat, kenapa kita tidak mendukung”, kata Mateus.

Seusai kata-kata pengantar Mateus, Bupati Willybrodus langsung mengajak semua pimpinan OPD, Camat Lamaknen dan para kepala desa meninjau langsung tanaman maek bako yang ada di dalam Kebun Sakar dengan berjalan keliling kebun.

Bupati Belu Willybrodus Lay (kiri) dan Mateus Bere Bau (kanan) bincang-bincang tentang maek bako sambil memegang daun maek bako yang tampak hijau segar. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di tengah kebun, Bupati Willybrodus menjelaskan tentang penanaman maek bako yang baik. “Selalu diupayakan tidak kelebihan naungan. Sebaliknya, harus selalu mendapat sinar matahari”, tandas Ketua Partai Demokrat Kabupaten Belu itu.

Pius Loe, salah satu warga Desa Kewar, mengaku, sangat betah bekerja di Kebun Sakar milik Mateus Bere Bau ini. Sebab, pekerjaan apa pun yang dilakukan di kebun itu, pasti dibayar. “Pagi masuk kerja jam 06.00 wita, snack jam 07.30 wita, makan siang jam 11.30 wita dan selesai kerja jam 15.00 wita. Saat pulang rumah, bawa pulang uang juga”, kata Pius.

Menurut Pius, sehari bekerja di Kebun Sakar dibayar Rp70 ribu. Biasanya yang kerja 10-15 orang. “Kalau tanam pisang, anakan pisang diambil dari dalam kebun, dibayar Rp2.500. Kalau bawa dari rumah sendiri dan tanam, dibayar Rp10.000. Kalau dibawa dari jauh dan langsung tanam, dibayar Rp25.000-50.000”,  urai Pius.

Pius sendiri sudah bekerja di Kebun Sakar tujuh tahun. “Matas (sapaan akrab Mateus Bere Bau, red) itu orang pekerja keras. Dia paling tidak suka orang malas. Kalau malas, dia langsung marah. Marahnya di hadapan kita. Dia keras. Keras karena memang dia orang pekerja keras. Kami tiru dia”, tandas Pius.

Saat ini, menurut Pius, lahan Kebun Sakar luasnya 48 hektar. Di antaranya, 12 hektar untuk maek bako. “Kita tanam maek bako tetapi sekarang ini kami berhenti dulu. Minggu depan kami sudah kerja kembali. Pekerjaannya banyak sekali”, kata Pius.

Jorje, pekerja lainnya, mengaku sudah enam tahun bekerja di Kebun Sakar. Dia sendiri pernah merantau dan bekerja di Kalimantan selama enam tahun. Tetapi, ekonomi keluarganya tidak berubah. Setelah bekerja di Kebun Sakar, saat ini dia tobat merantau lagi. “Asal kerja rajin saja. Sebab, di sini banyak pekerjaan”, demikian Jorje.

Menurut Pius dan Jorje, saat ini di Kebun Sakar ada tanaman maek bako, pisang, sengon, mahoni, jati lokal, kopi, keladi, kelor, mente, gala-gala, pepaya, ubi jalar, ubi kayu, mangga, nenas, rambutan, alpukat, lombok, sirih dan ampupu.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *