Kedubes Australia, Bank Dunia dan Empat Kementerian Kunjungi Desa Tunabesi-Malaka

BAKILIURAU, TIMORline.com-Kedutaan Besar (Kedubes) Australia dan  Bank Dunia mengunjungi Desa Tunabesi Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (12/02/2019).

Ada pula tim empat kementerian yang ikut dalam kunjungan itu, yakni Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes  PDTT).

Kunjungan itu untuk melihat langsung hasil program pengadaan air bersih dan sanitasi berupa bak penampung air bersih di Desa Tunabesi. Tim melakukan pemeriksaan langsung pembangunan bak air di Oenanua sebagai sumber utama.

Bak penampung ini dibangun menggunakan dana yang bersumber Bank Dunia melalui Program Pamsimas (Penyediaan Sarana Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) pada 2017 didukung Dana Desa  melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tunabesi Tahun Anggaran 2018.

Tim Bank Dunia, Kedubes Australia dan empat kementerian saat tiba di Desa Tunabesi Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Camat Io Kufeu Laurensius Seran sangat mengapresiasi kunjungan Tim Kedubes Australia, Bank Dunia dan empat kementerian tersebut. “Ini pertanda kami tidak  sendirian. Tetapi, selalu bersama-sama dengan pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten”, tandas Camat Laurens.

Kepada tim, Camat Laurens menggambarkan sekilas profil Desa Tunabesi dan Kecamatan Io Kufeu pada umumnya. “Desa Tunabesi dan Kecamatan Io Kufeu memiliki topografi bergunung. Sehingga, untuk menjangkau wilayah kecamatan yang meliputi tujuh desa  itu  menggunakan jalan setapak.

Camat Laurens juga mengakui kalau masyarakat setempat sangat terbantu oleh pemerintah pusat dan propinsi. Sebab, selama 2018, di wilayah Kecamatan Io Kufeu dibangun tujuh embung dengan daya tampung 7.000-14.000 kubik air. Enam embung di antaranya dibangun menggunakan dana desa. Sedangkan satu embung dibangun menggunakan dana bantuan propinsi.

Kepala Desa Tunabesi Mikhael Bouk mengakui manfaat luar biasa dari program Pamsimas. Sebab, pada awal dimanfaatkannya air program Pamsimas, masyarakatnya menangis histeris seperti menangisi orang mati.

“Masyarakat heran karena sejak dunia terbentuk, air bisa naik ke gunung. Ini tidak biasa. Sebab,  biasanya air mengalir ke tempat yang rendah”, tandas Kades Mikhael.

Menurut Kades Mikhael, kedatangan Kedubes Australia, Bank Dunia dan empat kementerian di desanya merupakan bukti kecintaan pemerintah pusat dan propinsi kepada Desa Tunabesi. Padahal, sebetulnya masih  ribuan  desa yg harus dibantu.

Di hadapan tim, Kades Mikhael menjelaskan, pelayanan air bersih program Pamsimas di wilayahnya itu diperuntukkan bagi  700 lebih KK.

“Debit air tidak kurang tapi kekuatan mesin terbatas. Sehingga, selain Pamsimas, ada pula dukungan dana desa yang dialokasikan dalam APBDes Tunabesi untuk pengadaan mesin air dan pembangunan bak penampung”, katanya.

Diskusi kelompok perempuan bersama Veny dari Kedubes Australia. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Selain melakukan pemeriksaan bak penampung, tim melakukan diskusi bersama camat dan kepala desa bersama  perangkat desa dan pemangku kepentingan di desa.

Veny dari Kedubes Australia bersama tim perempuannya berdiskusi dengan kaum perempuan desa setempat di bawah koordinasi Ketua TP-PKK Desa Tunabesi Bernadetha Muti.

Tampak mereka mendiskusikan banyak hal yang lebih menekankan partisipasi perempuan.

Diskusi kelompok perangkat desa dan pemangku kepentingan bersama tim Bank Dunia. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Sedangkan pihak Bank Dunia mendiskusikan banyak hal yang berkaitan dengan manfaat kearifan lokal terutama peran budaya dan tokoh-tokoh adat dalam pembangunan desa.

Kedatangan tim ini disambut masyarakat setempat menggunakan hase hawaka atau tutur adat yang dibawakan Ketua Suku Naifio Blasius Manek dan Ketua Suku Naisuri Heribertus Tae. Selanjutnya, kepada semua anggota tim dikalungi selendang sebagai tanda persaudaraan dan kekeluargaan antara tim dan masyarakat setempat.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *