22 Ton Pupuk Fortile ‘Dibuang’ di Harekain-Malaka

BETUN, TIMORline.com.com-Sedikitnya 22 ton pupuk jenis Fortile ‘dibuang’ di Dusun Harekain Desa Builaran Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Informasi yang diperoleh TIMORline.com menyebutkan, pupuk itu diturunkan sejak Nopember 2018 dan disimpan di sebuah rumah tua kosong tak berpenghuni. Tetapi, hingga saat ini belum diapa-apakan.

Warga terutama kelompok tani setempat bertanya-tanya apakah pupuk itu mau diberikan kepada mereka atau ke pihak lain.

Domi Seran, salah satu warga Dusun Harekain Desa Builaran yang ditemui di rumahnya, Senin (04/02/2019), menjelaskan, pupuk itu diperlukan untuk penanaman jambu mente. Tetapi, Domi heran karena sejak diturunkan di rumah tua kosong itu pupuknya belum dibagikan kepada warga petani. Domi yang rumahnya bersebelahan dengan tempat penyimpanan pupuk itu tidak tahu pasti kapan pupuk itu dibagikan kepada petani.

Menurut Ketua Kelompok Tani (Poktan) Troi Harekain itu, pupuk jenis Fortile itu sebanyak 880 karung berukuran 25 kilogram. Sehingga, bila dihitung secara cermat, pupuk itu sebanyak 22.000 kilogram atau 22 ton.

“Sesuai rencana, pupuk ini mau diberikan kepada anggota Poktan Troi Harekain yang menanam jambu mente”, kata Domi.

Domi mengatakan, sebagai persiapan, anggota Poktan-nya saat ini sementara melakukan penggalian lubang. Berikut, lubang akan diisi pupuk. Tetapi, hingga saat ini bibit jambu mentenya belum datang. Jadi, setelah isi pupuk di lubang, kita tunggu pupuk”, kata Domi.

Kepala Desa Builaran Alfons Luan yang ditemui di kediamannya sedikit kesal karena pupuk itu tidak dibagi langsung ke kelompok tani. Mirisnya, pupuk itu justru diturunkan dan disimpan di sebuah rumah tua tak berpenghuni.

Menurut Alfons, program tanam jambu mente merupakan program Dinas Pertanian Propinsi NTT. Pihak Dinas Pertanian Propinsi NTT bahkan bersama-sama dengan tim pakar Revolusi Pertanian Malaka (RPM) datang ke desanya dua kali melakukan survei dan sosialisasi  jambu mente. Dari survei itu, pihak Dinas Pertanian Propinsi NTT dan tim pakar RPM berpendapat wilayah Desa Builaran cocok untuk ditanami komoditi jambu mente. Karena itulah, pihak desa menyiapkan lahan 20 hektar untuk penanaman komoditi jambu mente. Rinciannya, 10 hektar untuk Poktan Mabata dan 10 hektar untuk Poktan Troi Harekain.

“Saat ini anggota kelompok tani sementara melakukan penggalian lubang. Sedangkan bibitnya kapan dikasih kepada petani belum tahu”, kata Alfons.

Soal pupuk, sebenarnya sudah ada. Tetapi, semuanya diturunkan di Harekain. Berapa jumlahnya Alfons tidak tahu. Sebab, pihak desa maupun kelompok tidak pernah minta dari dinas. Saat diturunkan dan disimpan di salah satu rumah kosong terbuka di Harekain itu pun tidak ada berita acaranya. Pihaknya hanya mendapat informasi dari Koordinator Pertanian Kecamatan Sasitamean dan PPL Desa Builaran bahwa pupuk sudah ada di Harekain. Anggota kelompok diminta  mengambilnya sendiri.

Yang menyesalkan Kades Alfons adalah masuknya Poktan lama, seperti Tunas Harapan dan Moris Hamutuk sebagai Poktan penerima program jambu mente. Dua Poktan ini adalah Poktan lama semasa Malaka masih bergabung dengan Kabupaten Belu. Dua Poktan ini pun sudah bubar dan sudah tidak aktif. Beberapa anggota dari Poktan Moris Hamutuk kemudian membentuk kelompok baru dengan nama Alam Sari.

“Sebetulnya untuk tahu aktif tidaknya dua Poktan ini, mestinya tanya kepala desa dulu. Jangan asal masukkan kelompok. Akhirnya, program yang sebenarnya baik bagi masyarakat malahan mubazir”, tandas Kades Alfons.

Dia memperkirakan, pelaksanaan kegiatan penanaman jambu mente  nasibnya akan sama dengan kacang kedelai pada 2017 lalu. Sebab, kelompok sudah melakukan persiapan tetapi bibitnya datang terlambat, datang setelah musim tanam”, demikian Kades Alfons.

Sesuai pantauan TIMORline.com di lokasi, pupuk itu sebagian disimpan dalam rumah. Sebagian lagi disimpan di sekeliling rumah di antara tanaman jagung setinggi 30 sentimeter. Pupuk yang disimpan di luar rumah terlihat sudah membatu dan hancur. Bahkan ada yang sudah jadi tanah.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *