Jembatan Propinsi di Belu Patah, Sisakan Separuh

BETUN, TIMORline.com-Sebuah jembatan di jalan propinsi trans darat Belu-Malaka tepatnya di Fatunres Desa Rafae Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu patah dan kini  tinggal separuh.

Jembatan itu patah diduga kuat akibat sudah termakan usia. Sebab, jembatan itu sudah lama dibangun. Selain itu, kuat dugaan, jembatan itu patah karena terjangan banjir akibat hujan berkepanjangan akhir-akhir ini.

Sesuai pantauan TIMORline.com, Sabtu (03/02/2019), jembatan itu patah hingga menyisakan separuh saja. Patahan jembatan  berupa tiga gumpalan besar campuran terlihat tergeletak di jalur air tepat di bawah jembatan.

Di bawah jembatan ini   pula ada rangka jembatan berupa besi  berwarna merah tua.

Kendaraan yang hendak melintas di sini sangat  hati-hati. Dari jarak sekira 20-25 meter, pengemudi kendaraan atau pengendara sepeda motor menjalankan  kendaraannya perlahan-lahan. Kuatir ada kendaraan lain dari arah depan yang bisa saja masuk bersamaan di jembatan.

Mantan Ketua DPRD Kabupaten Belu Simon Guido Seran yang dihubungi melalui telepon selulernya, Sabtu (03/02/2019) siang mengatakan, dia akan berkoordinasi dengan teman-teman anggota DPRD Belu lainnya untuk turun meninjau langsung kondisi jembatan yang rusak.

Anggota DPRD Belu dari Partai Demokrat itu mengakui kalau jembatan itu dibangun di jalan propinsi trans darat Belu-Malaka, dua kabupaten wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.

Dari hasil peninjauan lokasi, kata Guido, pihaknya akan mendesak pemerintah baik pemerintah Propinsi NTT maupun Pemerintah Kabupaten Belu untuk segera mengatasi kerusakan jembatan tersebut.

Desakan kepada Pemerintah Propinsi NTT itu lebih pada kewenangan yang dimiliki propinsi atas jalan dan jembatan tersebut.

Kondisi Jembatan Fatunres Desa Rafae Kecamatan Raimanuk saat ini. Gambar diambil 29 Januari 2019. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

“Pemerintah Kabupaten tidak bisa intervensi jalan dan jembatan propinsi. Sehingga, kita akan desak Pemerintah Propinsi NTT untuk segera memperbaiki jembatan yang rusak”, kata Guido.

Sedangkan desakan kepala Pemerintah Kabupaten Belu lebih pada pemanfaatan jalan dan jembatan propinsi di kabupaten. Sehingga, menurut Guido, meskipun Jembatan Fatunres-Rafae yang saat ini rusak dan merupakan kewenangan propinsi, kabupaten bisa menangani menggunakan dana tanggap darurat.

Theodorus Tefa, anggota DPRD Kabupaten Belu dari Fraksi Partai Golkar menjelaskan, Jembatan Fatunres sebetulnya rusak sejak tahun lalu. Tetapi, hingga saat ini pihak propinsi belum memperbaikinya. Dia berharap pihak Pemerintah Propinsi NTT sesegeranya memperbaiki jembatan tersebut. Sehingga, arus transportasi darat dari dan ke Belu-Malaka tidak terhambat.

Menurut Theo, jembatan itu rusak sejak tahun lalu. Tahun lalu pun pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas teknis terkait dan masyarakat setempat untuk membuka jalan alternatif melalui kebun-kebun warga  sekitar. Ini  untuk mengantipasi jembatan itu bila  rusak total. Tetapi, hingga saat ini belum ada realisasinya.

“Jalan alternatif itu akan bermanfaat saat musim panas tapi kalau musim hujan tetap tidak bisa digunakan”, kata Theo.

Theo menegaskan, Jembatan Fatunres menghubungkan dua kabupaten, yakni Kabupaten Belu dan Malaka. Sehingga, jembatan itu harus segera diperbaiki untuk kelancaran arus lalulintas dari dan ke Belu dan Malaka.

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *