Sejumlah Surat Kabar di AS Diganggu Serangan Siber

WASHINGTON DC, TIMORline.com-Sejumlah surat kabar di Amerika Serikat mengalami gangguan percetakan dan pengiriman pada Sabtu (29/12/2018) akibat serangan siber. Surat kabar yang mengalami penundaan distribusi di antaranya, The Los Angeles Times, Chicago Tribune, Baltimore Sun, dan surat kabar lain yang dikelola oleh Tribune Publishing. Wall Street Journal dan New York Times untuk edisi West Coast juga mengalami hal yang sama, sebab dicetak di percetakan Los Angeles Times di pusat kota Los Angeles.

Manajemen perusahaan menyatakan, malware pertama kali terdeteksi pada Jumat lalu, yang juga melanda surat kabar dari percetakan yang sama. LA Times meyakini serangan itu berasal dari luar Amerika Serikat. Namun, masih terlalu dini untuk menyebut kemungkinan serangan dilakukan oleh negara asing atau entitas lain.

“Kami yakin niat dari serangan itu untuk menonaktifkan infrastruktur, terutama bagian server, ketimbang untuk mencuri informasi,” kata seorang sumber. Juru bicara Tribune Publishing Marisa Kollias mengatakan, virus merusak sistem back-office untuk menerbitkan dan memproduksi surat kabar. “Setiap pasar di perusahaan terkena dampak,” katanya. Namun, dia enggan membeberkan spesifikasi pada gangguan yang terjadi.

Laporan CNN menyebutkan, memo internal dari CEO Tribune Justin Dearborn mengatakan sudah ada kemajuan terkait masalah tersebut. Dearborn menyatakan, para staf telah menemukan solusi untuk tetap bisa mencetak surat kabar edisi Sabtu. “Tidak ada bukti informasi kartu kredit pelanggan atau informasi pribadi dalam kondisi bahaya,” tulisnya. Serangan siber berprofil tertinggi terhadap perusahaan media terjadi pada akhir 2014. Peretas yang disebut berafiliasi dengan pemerintah Korea Utara membobol sistem komputer dan menyalin sebagian besar data Sony Pictures Entertainment di Culver City.

Penelitian dari Frost & Sullivan bersama dengan Microsoft mengungkapkan, sepanjang 2017, setiap serangan siber telah mengakibatkan kerugian ekonomi bagi perusahaan jasa keuangan besar di Asia Pasifik sekira 7,9 juta dollar AS baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Tiga dari lima organisasi telah mengalami kehilangan pekerjaan akibat peristiwa keamanan siber. Untuk perusahaan jasa keuangan berukuran menengah, rata-rata kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh peristiwa keamanan siber sebesar 32.000 dollar AS per organisasi,” ujar jelas Kenny Yeo, Kepala Industri, Keamanan Siber, Frost & Sullivan dalam keterangan pers, Selasa (4/12/2018).

Jasa keuangan merupakan industri yang sangat teratur dan diatur keberadaanya, lebih dari setengah (56 persen) organisasi yang disurvei di Asia Pasifik telah mengalami peristiwa keamanan (26 persen) atau tidak yakin mereka pernah mengalami peristiwa keamanan karena mereka belum melakukan pemeriksaan (27 persen).

Untuk menghitung biaya serangan siber, Frost & Sullivan menciptakan model kerugian ekonomi yang didasarkan pada wawasan yang disampaikan oleh responden survei. Model ini meliputi dua jenis kerugian yang dapat disebabkan oleh kebocoran keamanan siber. Baca juga: OJK: Di Tengah Gejolak, Sektor Jasa Keuangan RI Terjaga Pertama, kerugian langsung yakni kerugian keuangan yang terkait dengan peristiwa keamanan siber ini termasuk kerugian produktivitas, denda, biaya perbaikan, dan lain-lain. Kemudian, kerugian tidak langsung, yang meliputi biaya pengorbanan peluang terhadap organisasi misalnya pergolakan pelanggan disebabkan kerusakan reputasi.

“Kepercayaan adalah dasar untuk semua pengambilan keputusan bisnis. Hal ini terutama ketika menyangkut industri jasa keuangan karena mereka tidak hanya melindungi bisnis mereka sendiri, tetapi juga data dan aset keuangan pelanggannya,” jelas Yeo.

Penemuan ini adalah bagian dari penelitian “Memahami Lanskap Ancaman Keamanan Siber di Asia Pasifik: Mengamankan Perusahaan Modern di Dunia Digital” yang diterbitkan pada Mei 2018, dan bertujuan untuk menyediakan wawasan tentang kerugian ekonomi akibat kebocoran keamanan siber untuk para pengambil keputusan di bidang bisnis dan TI pada sektor jasa keuangan dan untuk menolong pengidentifikasian berbagai celah pada strategi keamanan siber mereka.

“Untuk bank dan organisasi jasa keuangan lainnya, potensi kehilangan kepercayaan dan kerusakan reputasi yang mengikutinya adalah ancaman yang jauh lebih besar daripada dampak ekonomi dari kejahatan siber,” imbuh Yeo.

Penelitian ini melibatkan survey yang dijalankan terhadap 1.300 responden dari 13 negara yakni Australia, China, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Thailand. Dari 1.300 responden ini, 12 persennya berasal dari industri jasa keuangan.

Semua responden adalah pengambil keputusan bisnis dan TI yang terlibat dalam pembentukan strategi keamanan siber organisasinya masing-masing. 44 persen pengambil keputusan bisnis ini termasuk CEO, COO, dan Direktur, sementara 56 persen adalah pengambil keputusan TI, termasuk CIO, CISO, dan Direktur TI. Lalu, 29 persen partisipan dari organisasi berukuran menengah (250 hingga 499 staf), dan 71 persen dari organisasi berukuran besar (lebih dari 500 staf).

Sumber: CNNIndonesiadanKompas.com Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *